Kamis, 22 Agustus 2013

PERSIAPAN SEBELUM MENGINJAK KE PELAMINAN DALAM PERNIKAHAN

I.       PENDAHULUAN

Sebelum memasuki sebuah pernikahan, banyak hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk memasuki jenjang pernikahan. Masa persiapan pernikahan banyak dipahami oleh orang-orang secara salah. Sehingga banyak orang yang melakukan pernikahan hanya dengan tujuan yang mereka inginkan. Pada masa sekarang ini anyak hal yang terjadi dalam pernikahan seperti yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan ini ada yang disebut dengan kawin kontrak yang dilakukan antara wanita-wanita pribumi dengan laki-laki yang datang dari luar negeri. Perkawinan kontrak ini dilakukan untuk menghibur lelaki luarnegeri tersebut supaya tidak kesepian dan juga hanya sebagai keisengan. Dan perempuan yang mau melakukan perkawinan kontrak ini juga tidak memperhatikan konsekuensi dari apa yang dilakukan tersebut.
Ada pula pada masa sekarang ini yang disebut dengan kawin percobaan. Di mana para pemuda-pemudi ingin mencoba-coba apakah perempuan itu perawan dan hal ini diberi istilah perek (perempuan eksperimen), serta apakah laki-laki itu masih perjaka. Hal ini merupakan hal yang salah yang seharusnya tidak dilakukan oleh para pemuda-pemudi. Dari kasus ini tak seorang pun yang mendapat keuntungan yang sejati. Semuanya itu hanyalah merugikan setiap orang yang melakukannya. Upaya-upaya seperti ini bukanlah suatu yang harus dilakukan dan bukah hal yang terhormat dalam persiapan perkawinan. Maka melalui hal ini dapat dikatakan bahwa banyak hal yang harus diperhatikan sebelum menjelang ke pelaminan dalam pernikahan. Oleh karena itu, penulis akan mencoba menjelaskan gambaran pernikahan Kristen dan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menjelang ke pelaminan. Supaya pernikahan yang akan dijalani tidak mengecewakan keluarga baru yang akan terbentuk dan supaya tidak ada penyesalan karena belum mengetahui dan tidak ada persiapan untuk masuk ke dalam pernikahan.
II.    PENGERTIAN PERNIKAHAN

Menikah adalah salah satu momen terpenting dalam kehidupan seorang manusia setelah kelahiran dan kematian. Pintu masuk atau gerbang menuju hidup bersama dalam rumah tangga itulah fungsi pernikahan. Untuk itu, menikah harus dipersiapkan secara matang dan terencana. Persiapan harus dilakukan secara komprehensif dan jauh-jauh hari sebelumnya.Pada masa sekarang ini banyak orang yang salah dalam mengartikan pernikahan di mana banyak orang mengatakan pernikahan itu adalah untuk mendapatkan keturunan untuk memenuhi bumi ini. Tetapi jika dilihat secara Kristen pernikahan itu tidak hanya berfokus pada keturunan untuk memenuhi bumi tetapi banyak hal lain yang Tuhan percayakan. Pernikahan memiliki arti yang sangat luas. Ada banyak pendapat tentang pernikahan, di mana dikatakan pernikahan merupakan sebuah hadiah, penikahan merupakan sebuah perjalanan yang harus dilalui dengan berbagai pilihan dan konsekuensi, penikahan merupakan kesempatan untuk belajar cinta, pernikahan juga merupakan panggilan untuk melayani, bersahabat, menderita. Pernikahan juga merupakan proses pemuridan di mana hal ini merupakan kesempatan untuk dibentuk Allah menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya. Penikahan ini bukan suatu peristiwa dalam hidup melainkan gaya hidup yang mencakup segala bidang yang harus terus dibina dan pernikahan ini juga dapat dikatakan adalah sebuah komitmen.[1]
Melalui pandangan kekristenan pernikahan itu memiliki prinsip-prinsip di mana prinsip-prinsip itu dilandaskan pada Kitab Suci seutuhnya. Melalui prinsi-prinsip Alkitab yang ada maka sebelum memasuki pernikahan dua insan harus memiliki kematangan terlebih dahulu, di mana kematangan tersebut bisa berupa saling menghormati. Kedua insan tersebut harus bisa saling menerima perbedaan, baik dalam kelemahan dan kelebihan calon pasangannya. Dan ketia mereka sudah saling menghormati, mengasihi dan dapat saling menerima maka ke depannya hubungan mereka akan tetap langgeng. [2]
Pernikahan yang berhasil dengan baik membutuhan dua orang yang sehat. Sehat dalam artian bukan hanya sehat secara fisik, tetapi kesehatan rohani juga harus diperhatikan. Kesehata yang sangat penting dalam pernikahan adalah kesehatan emosional dan mental dari kedua insan yang akan bersatu menjadi satu. Kesehatan ini menyokong kekuatan dan kebahagiaan dalam pernikahan.[3] Ada banyak hal-hal emosional yang harus ditangani sebelum menjalani sebuah pernikahan yang kokoh dan berhasil dibangun. Beberapa diantaranya adalah:
1.      Kesalahan menagani kemarahan. Ketidakmampuan untuk menangani kemarahan menyebabkan perceraian yang tak terhitung. Oleh karena itu secara emosional kedua insan ketika menghadapi permasalahan tidak dapat menanganinya dengan kemarahan karena kemarahan itu bisa mengkibatkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan kemarahan dalam menghadapi masalah itu adalah suatu jalan yang salah. Sehingga ketika menghadapi masalah, maka harus menenangkan diri terlebih dahulu dan tidak dapat terburu-buru untuk mengambil keputusan.
2.      Kecintaan pada diri sendiri. Mengutamakan kepentingan sendiri, dan hanya memperhatikan dirinya sendiri. Ketika akan membentuk sebuah keluarga baru maka kedua insan harus bisa saling memperhatikan di mana ketika salah satu dari pemuda/i itu mementingkan diri sendiiri maka yang terjadi bukanlah keluarga baru yang berhasil tetapi permasalahan yang bisa mengkibatkan perceraian. Hanya karena masalah kecil bisa mengkibatkan masalah yang besar.
3.      Manic-depresi (keranjingan depresi) atau gangguan kepribadian cyclothymic. Mengikuti keadaan hati. Dan bahkan menyakiti orang lain. Ketika dia senang maka dia akan berambisi dan semangat untuk mencapai apa yang dia inginkan tetapi ketika dia bersedih, susah didekati. Hal ini sebelum menjalani pernikahan maka penting untuk pasangan mendatangi dokter untuk tetap memperhatikan keadaan dari pasangan. Hal ini merupakan masalah kecil yang bisa mengakibatkan pasangan ini menghadapi masalah besar. Pasangan tersebut harus bisa saling berbagi dan harus saling mengerti antara satu dengan yang lain. Dan keduanya harus mau untuk saling berubah demi kebaikan untuk mejalani kehidupan yang baru dari keluarga yang baru yang akan dibentuk. Karena jika masalah seperti ini tidak diselesaikan maka bisa mengkibatkan permasalahan besar yang berakibat fatal dalam keluarga baru tersebut.
4.      Kecanduan. Hal ini berhubungan dengan masa lalu dari pasangan, di mana kemungkinan pasangan memiliki kecanduan. Baik kecanduan terhadap obat-obat terlarang, kecanduan pada kebiasaan-kebiasaan negatif dan mungkin kebiasaan lain. Maka sebelum memasuki pernikahan maka kecanduan ini harus diatasi terlebih dahulu karena jika hal ini terjadi lagi ketika sudah berumahtangga maka bisa mengkibatkan suatu permasalahan baru yang tidak bisa diatasi dan mungkin bisa mengkibatkan perceraian. Oleh karena itu sebelum memasuki pernikahan maha pasanga harus dipulihkan terlebih dahulu. Kecuali jika pasangannya siap menanggung resiko dari apa yang dialami pasangannya.  
5.      Hal-hal yang berkaitan dengan orang tua. Sebelum memasuki pernikahan kedua insan harus memikirkan tentang orang tua. Bagaimana kesepakatan terhadap orang tua ketika memasuki pernikahan. Ketika pasangan ini menghadapi masalah, apakah orang tua harus turun tangan (campur tangan) terhadap masalah yang dihadapi. Atau pasangan berkomitmen untuk mengatasi dengan pasangan masing-masing bukan dengan orang tua. Karena jika salah satu pihak ikut campur masalah dari pasangan ini, hal itu bisa mengakibatkan masalah baru yang harus dihadapi.
Melalu semua hal siatas hidup pernikahan kristiani adalah kehidupan yang berciri komitmen secara total. Komitmen ini merupaka perjanjian (keterikatan) unntuk melakukan sesuatu. Hubungan ini digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Efesus 5:21-23 seperti hubungan Kristus sendiri dengan jemaat-Nya.[4]
Pernikahan dan keluarga Kristen di akhir jaman merupakan a changing life mobile, yaitu suatu kehidupan yang terus menerus mengalami perubahan baik secara internal maupun eksternal. Kemampuan suami istri dalam menerapkan Firman Tuhan untuk menghadapi perubahan menjadi kunci utama membuat pernikahan dan keluarga menjadi lebih baik.  Pernikahan adalah penyatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam jalinan cinta kasih yang berlaku untuk seumur hidup.  Penyatuan ini merupakan anugerah dimana melaluinya Allah hendak mengajarkan bagaimana hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya.
Dalam pernikahan, keluarga mempunyai peranan penting dalam segala aspek kehidupan karena melaluinya seseorang dapat bertumbuh, berkarya dan mengaktualisasikan diri.  Prinsip-prinsip pernikahan dan keluarga sebagaimana tertulis dalam Alkitab sendiri jauh dan semakin ditinggalkan oleh pasutri masa kini, akibat pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh perubahan jaman.  Jadi yang menjadi prinsip dunia boleh berubah namun prinsip pernikanan dan keluarga Kristen tidak boleh berubah.
Pernikahan membutuhkan pengakuan publik, baik dengan ucapan sederhana  atau meriah sebagai suatu pengesahan hak mereka sebagai suami istri, anggota jemaat dan sebagian anggota masyarakat.  Jadi pernikahan menyangkut dua dimensi, yaitu dua dimensi institusional dan personal, kedua dimensi ini perlu dijaga agar ada keseimbangan.

III. LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERNIHKAHAN

Pernikahan adalah suatu hal yang sakral dalam kehidupan umat Kristen di mana pun mereka berada. Oleh sebab itu, baik suami atau istri harus membekali diri mereka dengan pengetahuan yang benar akan pernikahan. Setiap pasangan yang akan menikah tentu mengharapkan kebahagiaan dan kelanggengan dalam pernikahannya.. ketika pasangan muda-mudi memutuskan untuk menikah, tentu diharapkan semua kebutuhan dapat terpenuhi, seperti kebutuhan biologis, materialis, emosi ataupun sosial. Oleh karena itu ada banyak hal yang harus diperhatikan oleh calon suami-isteri sebelum memasui pernikahan.
Pemahaman tentang kehidupan pernikahan atau makna pernikahan. Satu pasangan yang akan memasuki pernikahan harus mengerti terlebih dahulu untuk apa pernikahan itu dilakukan dan apa maksan dari pernikahan yang akan dijalani tersebut. Karena banyak pemahaman tentang pernikahan itu sendiri salah. Pernikahan itu dijalankan hanya untuk memuaskna diri sendiri dan untuk kesenangan. Hal ini merupakan pemahaman yang salah tentang pernikahan, oleh karena itu sebelum memasuki pernikahan dua insan muda/i harus mengerti dengan baik dan tepat makna pernikahan itu.
Para pemuda-pemudi menikah karena ingin memiliki keturunan. Mereka tidak mengerti akan kehidupan pernikahan sendiri dan apa makna dari pernikahan itu. Oleh sebab itu sebelum melanjutkan ke dapam pernikahan makka pasangan harus mengerti untuk apa melakukan pernikahan. Makna dari pernikahan yang dapat diperhatikan adalah: [5]
1.      Pernikkahan itu merupakan rencana Allah karena manusia diciptakan sebagi makhluk sosial (kejadian 2:18)
2.      Wujud cinta kasih dalam keluarga tampak dalam sikkap saling menghargai, saling mendukung (1 Koritus 13: 4-7)
3.      Tuhan adalah tiang dalam kkeluarga, artinya Firman Tuhan menjadi dasar keluarga tersebut.
4.      Kehendak Tuhan adalah agam manusia melanjutkan keturunanya (Kejadian 1:28).
Melalui hal di atas, pemuda/i yang akan memasuki pernikahan maka tidak akan salah lagi dan pernikahan tersebut bisa dikatakan akan berhasil. Oleh sebab itu sebelum mejalankan pernikahan hal tersebut harus diajarkan terlebih dahulu kepada pasangan yang akan menikah. Dan pasangan ini juga harus mempersiapkan banyak hal sebelum menginjak ke pelaminan. Persiapan-persiapan yang harus diperhatikan sebelum menginjak ke pelaminan ada beberapa hal, yaitu:[6]
1.      Keluarga yang baik datang dari keluarga yang baik
Orang tua yang retak bisa memberikan dampak yang kurang baik kepada anak yang akan mejalani pernikahan. Di mana apa yang dialami oleh orang tuanya sangat besar kemungkinan bisa terjadi dalam rumah tangga anak yang akan menjalani pernikahan. Oleh karena itu, orang tua harus bisa menurunkan norma-norma yang wajar agar anak yang akan menjalani pernikahan melihat dari sisi positif dalam diri orang tuanya. Sehingga anak berusaha untuk lenih baik dan tidak melakukan kesalahan seperti yang terjadi dalam kehidupan orang tuanya. Jika keluarga dari pemuda/i yang akan menjalani pernikahan retak maka sulit untuk anak menyiapkan pernikahan yang ideal.

2.      Persiapan lahiriah penting diperhatikan
Kesehatan tubuh penting diperhatikan sebelum memasuki pernikahan. Tetapi yang dimaksudkan disini persiapan lahiriah adalah kesiapan untuk melayarkan bahtera kehidupan berumah tangga. Dua insan hendak menggabungkan diri menjadi satu rumah tangga sudah seharusnya mempersiapkan sarana secara fisik untuk itu. Sebelum memasuki ke pelaminan, biasanya keduan insan telah mempersiapkan rencana-rencana ke depannya, bagaimana orng tua, kebutuhan keluarga baru tersebut, dan hal-hal lain yang mereka butuhkan. Menurut penelitian jika tidak ada persiapan untuk itu, kasus-kasus perceraian akan banyak terjadi karena tidak terpenuhi kebutuhan yang mereka butuhkan, baik kebutuhan secara keuangan, atau hal lain.

3.      Timbang rasa dan disiplin yang tinggi
Seorang pria senang menjamu teman-temannya waktu masih lajang bahkan mentraktir pacarnya dan juga teman-teman pacarnya, mengajak jalan-jalan kesana-kemari. Tetapi ketika memikirkan untuk membentuk rumah tangga baru, ia harus berusaha mengendalikan semuanya yang pernah ia lakukan dan harus mengatasinya. Sebelum menginjak ke pernikahan, pria masih tidak pernah mempermasalahkan untuk membawa oleh-oleh dan memberikan hadiah-hadiah kepada pacarnya. Tetapi begitu kedua insan muda menginjak ke pelaminan, kedua insan harus memikirkan perubahan di mana sebelum melakukan transaksi apapun harus dipikirkan terlebih dahulu apakah itu kebutuhan atau hanya pemborosan. Kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan dengan memakai uang berfoya-foya atau belanja-belanja pribadi yang hanya untuk kepuasan diri, maka hal itu harus dihentikan dan harus memikirkan hal yang jauh lebih penting dari itu semua.

4.      Perlu saling mengenal
Dua insan yang bersatu menjadi satu keluarga yang baru mengadakan pendekatan dengan keluarga masing-masing. Posisi silang merupakan posisi yang paling menguntungkan di mana pria mengenal baik keluarga dari isterinya dan demikian sebaliknya istri mengenal baik keluarga suami. Pernikahan ini bukan hanya membentuk satu keluarga baru tetapi juga menjalin hubungan antara satu keluarga dengan keluarga lain.
Untuk memasuki pernikahan dua insan haru juga melihat dari sisi agama. Di mana pada masa sekarang banyak kejadian ketika membentuk keluarga baru tidak memperhatikan agama. Dua insan yang satu agama kemungkinan masih susah untuk menjalani hubungannya apalagi berbeda agama. Oleh karena itu hal ini sangat penting untuk diperhatikan kaum muda yang akan memasuki pernikahan. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan di mana hal ini bisa mengakibatkan perceraian.

5.      Perlu mencari penasihat
Dua insan yang akan memasuki pernikahan sangat memerlukan nasihat dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Dan ketika dua insan ini dinasihati, seharusnya dua insan ini tidak bosan mendengarkan hal yang sama. karena nasihat itu menjadi modal untuk menjalani keluarga baru yang akan dijalani oleh dua insan ini. Mendengar nasihat dari yang berpengalaman merupakan pembelajaran yang berarti dan yang sangat menolong insan yang akan menjalani keluarga baru tersebut. Banyak hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh dua insan yang bersatu ini, salah satu contoh yang dapat diperhatikan di mana ketika suami kehilangan pekerjaan, istri harus memperhatikan sikap untuk menanggapi suaminya. Karena jika salah dalam mengambil sikap maka itu bisa berakibat fatal. Banyak orang yang salam berdikap ketika menanggapi apa yang sedang dialami oleh istri atau suami sehingga mengakibatkan masalah yang mungkin bisa sampai berakibat fatai yaitu bisa sampai melakukan perceraian. Hal ini haruslah diperhatikan dengan baik oleh dua insan yang akan menjalani pernikahan.


IV.             RELEVANSI PERSIAPAN SEBELUM MENGINJAK KE PELAMINAN

Pada masa sekarang ini banyak hal yang terjadi yang dapat diperhatikan dalam kehidupan ini. Di mana banyak pemuda-pemudi yang memasuki pernikahan dengan tujuan yang salah. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan itu dilakukan untuk memenuhi bumi seperti yang difirmankan Tuhan. Pernyataan ini memang tidak salah tetapi tujuan utama pernikahan Kristen itu bukanlah hanya untuk memenuhi bumi (memiliki keturunan), tetapi tujuannya adalah untuk satu tugas mulia yang Tuhan percayakan dan pernikahan itu adalah anugerah yang harus disyukuri yang Allah berikan kepada umat-Nya. Dan ketika akan memasuki jenjang pernikahan maka pemuda/i harus melakukan dan menjalani serta memperhatikan beberapa hal yang akan menjadi modal untuk menjalani pernikahan dan sehingga pernikahan itu dapat dipertahankan (tetap langgeng) karena Tuhan selalu memimpin keluarga baru tersebut.
Yang mengetahui emosi setiap orang adalah dirinya sendiri dan tentu juga Tuhan. Setiap orang tidak bisa menyalahkan hal-hal yang ada di luar dirinya atas emosi yang dirasakan saat itu. Karena jika terus melakukan hal itu maka akan terkena depresi. Oleh sebab itu, perlu untuk merespon segala sesuatu secara positif. Hanya dengan beginilah maka setiap orang dapat mengatasi setiap persoalan yang sedang dialami.

V.    KESIMPULAN

Pernikahan merupakan sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya. Ketika akan mejalani pernikahan maka hal itu tidak terlepas dari sebuah komitmen yang teguh dan kokoh di dalam Tuhan. Sebelum memasuki sebuah pernikahan baka pasangan harus mempersiapkan diri secara jasmani, rohani dan juga secara emosi. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki pernikahan yaitu sebelum menginjak ke pelaminan dalam tahap inilah pasangan mempersiapkan semuanya. Karena jika pasangan tidak ada melakukan persiapan tersebut maka besar kemungkinan pernikahan itu dapat berakhir dengan tidak selayaknya. Di mana pada masa sekarang ini banyak pasangan suami-istri melakukan perceraian dengan mengatakan tidak cocok. Hal ini terjadi karena tidak ada persiapan yang matang ketika akan memasuki pernikahan. Pasangan hanya menjalani pernikahan dengan begitu saja tanpa melakukan persiapan karena menurut pasangan bahwa keduanya sudah cocok jadi tidak ada yang perlu dipersiapkan lagi. Melalui hal ini dapat disimpulkan bahwa sebelum menginjak ke pelaminan maka persiapan-persiapan penikahan harus dilakukan untuk membentuk pasangan dan membentuk penikahan yang benar-benar sudah dipersiapkan dan sudah mengenal dengan begitu baik.

DAFTAR PUSTAKA

Budi, Elly L. 2000. Kalau Cinta Menyatu Dalam Pernikahan: Panduan Bina Pranikah. Jakarta: Binawarga.
Nadeak, Wilsaon. 1995. Seraut Wajah Pernikahan. Yogyakarta: Kanisius.
Nadeak, Wilson. 1999. Mengatasi Masalah Keluarga. Bandung: Lembaga Literatur Baptis.
Soesilo, Vivian A. 1997. Bimbingan Pernikahan: Buku Kerja Bagi Pasangan Pranikah, (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Warren, Neil Clark. 1996.Temukan Cinta Di Hidup Anda: Sepuluh Prinsip Unruk Memilih Pasangan Pernikahan Yang Tepat. Jakarta: Harvest Publication House.
Wright, H. Norman. 2013.So You’re Getting Married: 14 Komitmen Dasar Untuk Membangun Hubungan


[1] H. Norman Wright, So You’re Getting Married: 14 Komitmen Dasar Untuk Membangun Hubungan Menuju Jenjang Pernikahan, (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2013), hal. 8.
[2] Wilson Nadeak, Mengatasi Masalah Keluarga, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1999), hal. 13.
[3] Neil Clark Warren, Temukan Cinta Di Hidup Anda: Sepuluh Prinsip Unruk Memilih Pasangan Pernikahan Yang Tepat, (Jakarta: Harvest Publication House, 1996), hal. 77.
[4] Vivian A. Soesilo, Bimbingan Pernikahan: Buku Kerja Bagi Pasangan Pranikah, (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1997), hal. 26.
[5] Elly L. Budi, Kalau Cinta Menyatu Dalam Pernikahan: Panduan Bina Pranikah, (Jakarta: Binawarga, 2000,) hal 34-35.
[6] Wilsaon Nadeak, Seraut Wajah Pernikahan, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hal. 19-22.

Biblical Church Growth: Bagaimana Anda Dapat Bekerja Dengan Allah Untuk Membangun Gereja Yang Setia


Penulis            : Gary L. McIntosh
Penerbit          : Gandum Mas
Jumlah hlm    : 189 halaman

I.                   Pendahuluan
Dalam gereja-gereja yang ada kita bisa melihat diluar tampak sama. hampir semua gereja memiliki ibadah-ibadah penyembahan, program-program untuk semua usia, gedung-gedung pertemuan dan persamaan-persamaan lainnya. Beberapa gereja memancarkan gairah yang memberi kehidupan sementara yang lain bergumul dalam pencarian arah. Beberapa gereja mengalami pertumbuhan gereja yang alkitabiah, sedangkan yang lain tidak. Mengapa bisa demikian? Hal itulah yang akan di bahas dalam buku ini.
Biblical church growth menyelidiki prinsip-prinsip alkitabiah yang tidak berubah mengenai pertumbuhan gereja dan menerapkan prinsip-prinsip itu pada budaya masa kini.Gary McIntosh mendefenisikan pertumbuhan gereja sebagai penginjilan yang efektif, bukan sebuah metodologi untuk meningkatkan jumlah anggota. Ia mengemukakan sembilan prinsip dasar yang memberikan landasan kekekalan yang akan membantu gereja manapun, besar maupun kecil, mencapai pertumbuhan dan vitalitas yang bertahan lama.

II.                Isi
Bab Satu: Pencarian Akan Kesetiaan
Kita dipanggil bukan untuk menciptakan pelayanan bagi gereja-gereja yang statis dan yang merasa puas pada keadaan sekarang ditengah-tengah jutaan pemenang lainnya. Kita dipanggil untuk menciptakan pelayanan yang akan terus membuat gereja-gereja yang bertumbuh tetap bertumbuh dan gereja yang tidak bertumbuh mulai berada pada taraf pertumbuhan yang pesat.  
Faktor-faktor rohani memiliki peran penting dalam dalam pertumbuhan gereja. Dalam perjalanan menuju kegereja-gereja yang sedang mengalami pertmbuhan gerea secara alkitabiah, akan merasakan sebuah kegairahan rohani yang meluap-luap untuk mencari orang yang terhilang dan melibatkan para pendatang baru. Gereja yang bertumbuh selalu menunjukkan bukti akan adanya keinginan untuk memenuhi amanat Agung, sementara gereja mundur menunjukkan komitmen yang terbatas terhadap perintah-perintah Kristus. Belajar mengenai prinsip-prinsip perumbuhan gereja, semakin menyadarkan akan beberapa persoalan praktis yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Menurut pendapat banyak orang, daerah perindustrian bukanlah tempat yang tepat untuk sebuah gereja.
Dinamika sosial mempengaruhi pertumbuhan gereja. Suatu gereja yang tertutup dikarenakan bukan terletak pada amanat agung tetapi pada keinginan untuk melindungi diri sendiri dari kerugian-kerugian selanjutnya. Dua pemisahan yang dialami di dalam gereja mengakibatkan keretakan dalam hubungan persahabatan. Luka-luka yang diakibatkan dari dua peristiwa yang tidak menguntungkan menyebabkan para pemimpin berorientasi ke dalam, menahan keinginan untuk mulai pelayanan baru, dan menlak membangun persahabatan dengan orang yang baru. Hasilnya adalah gereja yang tertutup, yang kelihatannya ramah dipermukaan tetapi terjadi penolakan untuk membangun persahabatan yang sejati. Jemaat tidak mau kerja sama dengan Allah dalam pertumbuhan gereja, meskipun Allah telah memberikan pertumbuhan kepada gereja lain dalam komunitas, dan jemaat tidak mau mengambil langkah yang dibutuhkan untuk memahami apa yang telah dilakukan Allah. Meskipun jemaat secara lisan mengatakan “ya” untukpertumbuhan gerejanya, tetapi anggota-anggotanya tidak mau membayar harga dengan membuka hubungan pertemanan dengan pendatang-pendatang baru. Ini merupakan tindakan ketidak sabaran yang kekanak-kanakan, tetapi pada akhirnya juga meninggalkan gereja.
Prinsip-prinsip pertumbuhan gereja, teologi dan teori, yang dimengerti dengan benar, memberi jawaban Alkitabiah tentang bagaimana menumbuhkan gereja yang setia. Di mana kata kuncinya adalah dimengerti dengan benar. Dari awalnya ide mengenai pertumbuhan gereja telah ditaruh  dibawah sebuah mikroskop. Pengajaran mengenai pertumbuhan gereja mendapat pengakuan sebagai sebuah disiplin yang serius dalam membantu gereja untuk mencapai efektivitas yang terbesar dalam hal pemuridan. Para gembala sidang, pekerja-pekerja dalam denominasi, dan kaum awam mulai mengerti bahwa perumbuhan gereja bukanlah permainan angka seperti yang awal yang mereka pikirkan tetapi merupakan proses yang bertujuan untuk memenangkan jiwa untuk Kristus, menerima mereka dalam gereja, dan memperlengkapi mereka untuk pelayanan.
Sejumlah spesialisasi bagian-bagian dari pertumbuhan gereja meliputi pendirian gereja, kelompok-kelompok sel, model-model mega church, doa, peperangan rohani, pelajaran-pelajaran  generasional, managemen konflik, agen-agen perubahan, perencanaan jangka panjang, dan pengumpulan uang. Sebagian bidang pelayanan ini sedikit banyak cocok dengan prinsip-prinsip dan teori pertumbuhan gereja, hal ini menunjukkan pergeseran yang tidak ketara dari fokus yang jelas mengenai prinsip-prinsip alkitabiah pertumbuhan gereja yang mendasar. Pemekaran dari pertumbuhan gereja dengan mencakup semakin banyak spesialisasi bagian-bagian pelayanan yang diciptakan menyebabkan sebagian besar kesalahpahaman dan ketidakjelasan mengenai gerakan ini. Sementara beberapa pemimpin gereja mengerti bahwa fokus utama dari pertumbuhan gereja adalah pemenuhan amanat agung, pandangan yang umum adalah bahwa pertumbuhan gereja berhubungan dengan tehnik, metode-metode dan model-model.
Istilah pertumbuhan gereja dipakai untuk menerangkan hasil yang dapat diharapkan dari pemuridan. Suatu kongregasi yang memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, menggabungkan orang-orang baaru bertobat ke dalam gereja setempat, dan mengajarkan semua yang diperintahkan Yesus Kristus sehingga dapat diharapkan pertumbuhan gereja dari segi angka maupun segi rohani. Istilah pertumbuhan gereja berarti semua yang termasuk dalam usaha untuk membawa para pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus kedalam persatuan dengan-Nya dan masuk menjadi anggota gereja yang bertanggungjawab. Pertumbuhan gereja diilustrasikan dengan apa yang terjadi dengan nama kleenex dan xerox, dimana kedua ini adalah nama dari tisu wajah dan mesin fotocopy.
Gereja yang setia adalah sesuatu yang loyal kepada Allah dan pekerjaannya di dunia. Sumber kesetiaan gereja berasal dari sifat hakiki dari Allah sendiri. Allah kita setia sungguh dapat dipercaya, loyal dan dapat diandalkan. Kesetiaan Allah kepada umatnya tidak tergantung pada kondisi, tetapi ia juga merindukan kesetiaan sebagai balasan di dalam hubungan kita dengan-Nyas. Kristus kepala gereja memberti teladan kesetiaan melalui ketaatan-Nya terhadap Bapa-Nya. Ia setia kepada Allah yang sudah memilih Dia untuk pekerjaan itu. Kristus adalah kepala gereja, tubuhnya harus mencerminkan sifat yang setia. Unsur utama dari kesetiaan adalah ketaatan terhadap perintah-perintah Allah.pertumbuhan gereja alkitabiah adalah suatu perjalanan, bukan tujuan akhir.

Bab Dua: Gereja Yang Memeberikan Kehidupan
Ada hubungan teologis yang tak terhindar dalam hal ini. Gereja dan misinya bukanlah ciptaan manusia. Ia berakar dari Allah. Lebih mudah mengetahui bahaimana membangusn sebuah gereja daripada mengetahui bagaimana sebuah gereja bertumbuh. Jika ditanyakan mengapa gereja berkembang, maka akan mendapat beberapa gambaran mengenai bagaimananya. Dalam praktiknya orang-orang lebih peduli mengenai bagaimana daripada mengapa. Seminar-seminar menawarkan untuk melatih orang-orang mengenai bagaimana untuk melakukan pelayanan. Keinginan orang-orang dalam mempelajari tentang bagaimana dalam pelayana didorong oleh tekanan-tekanan hidup.
Gereja yang setia dan efektif bukan hanya disebabkan kerena mereka melakukan hal-hal yang benar. Sebuah gereja mengalami pertumbuhan karena suatu pendekatan-pendekatan tertentu dalam pelayanan, pertumbuhan terbatas sejalan dengan batas waktu metode tersebut. Allah adalah Allah yang memberi hidup dan adalah menjadi sifatNya untuk memberi kehidupan kepada siapapun yang menghendakinya. Dalam semua kekekalan Allah adalah kehidupan dan Ia adalah satu-satunya yang dapat memberi kehidupan kepada yang lain. Sifat Allah yang memberi hidup diwujudkan dalam tindakan penciptaan. Pertama Allah menciptakan lingkungan untuk menopang kehidupan dengan menciptakan langit, bumi, terang, dan air yang dibutuhkan untuk kehidupan dari ciptaannya. Ketika lingkungan yang sesuai sudah disediakan, Allah menciptakan kehidupan bagi tanaman, binatang-binatang yang hidup di air, dan binatang-binatang yang hidup di darat. Puncak presentasi karya Allah terjadi pada hari keenam, ketika itulah Tuhan membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas kehidupan pada hidung manusia itu. Kehidupan datangnya hanya dari Allah sang pemberi itu sendiri.
Kisah mengenai Allah yang memberi kehidupan terus berlangsung dalam perjanjian baru. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Sebagai Juruselamat Pemberi kehidupan, Yesus mencari dan menyelamatkan orang-orang yang terhilang. Sebagai seorang Juruselamat Sang Pemberi Kehidupan, Dia addalah kepala Gereja. Sifatnya adalah memberikan kehidupan, dan gerejaNya dan TubuhNya bertanggungjawab membagikan kehidupan itu kepada dunia. Gereja adalah sekumpulan orang. Dalam perjanjian baru kata tersebut digunakan untuk menunjukkan sekumpulan orang Kristen baik secara universal maupun lokal. Gereja yang universal adalah tubuh yang rohani yang berdiri dari semua orang yang telah mengakui Yesus Kristus saja sebagai juruselamatnya. Gereja lokal adalah sekumpulan orang Kristen yang telah dibabtis dan terorganisai untuk melaksanakan amanat agung disuatu wilayah tertentu, yang juga melakukan tanggungjawab lain yang diberikan kepadanya. kristus sebagai kepala gereja merupakan hasil alamiah dari sifatnya yang memberi kehidupan yang dimulai dari penciptanya dan melanjutkan perananNya sebagai juruselamat dari tubuh.


Bab Tiga: Dasar Yang Benar: Firman Allah
Pertumbuhan gereja secara Alkitabiah dimulai dengan dasar pemikiran yang benar, yaitu Firman Allah. Pernyataan secara sederhananya adalah gereja yang memberi pertumbuhan memiliki komitmen yang kuat terhadap otoritas Firman Allah. Sumber yang paling puncak adalah Allah sang Pemberi Kehidupan. Karena Dia adalah Pencipta yang memberi kehidupan, Dia sendiri adalah sumber dari segala pengetahuan dan kebenaran. Kebenaran yang ditemukan dari alam yang diciptakan, perkembangan manusia dan sejarah adalah kebenaran Allah yang dipegang secara umum oleh semua manusia, baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Wahyu umum memberikan pengetahuan dasar mengenai keberadaan Allah, kasih dan kemuliaan kepada semua orang. Pewahyuan secara khusus menunjukkan tentang pembukaan sesuatu yang terselubung, dan melalui pewahyuan khusus Allah menunjukkan lebih banyak mengenai dirinya dan kebenarannya.
Melalui wahyu khusus Allah membukakan hal-hal tertentu mengenai diriNya dan kebenaranNya yang tak dapat diketahui dari usaha sendiri. Wahyu khusus membentuk dasar dari kepercayaan kita dan merupakan peraturan serta praktik iman satu-satunya. Wahyu umum menolong menjelaskan mengapa beberapa gereja yang tidak memegang otoritas Alkitab dapat berkembang. Kebenaran umum yang berasal dari wahyu umum yang bila dilaksanakan akan berjalan dengan baik, baik dalam bidang usaha maupun dalam gereja. Pertumbuhan gereja yang alkitabiah ditemukan pada kenyataan bahwa Firman Allah adalah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua yang manapun ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum, ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Bab Empat: Prioritas Yang Tepat: Memuliakan Tuhan
Untuk mencapai pertumbuhan gereja yang alkitabiah juga dibutuhkan disiplin yang serupa guna mengingat dengan jelas dalam pikiran akan prioritas yang tepat. Ada banyak tujuan dalam gereja yang harus dicari untuk dilaksanakan: mencari orang-orang yang terhilang, melengkapi orang-orang kudus, mengkhotbahkan injil, mencari keadilan, mengembangkan para pemimpin, dan masih banyak lagi. Tetapi hanya satu tujuan akhir yaitu membawa kemuliaan bagi Allahyang memberikan kehidupan. Gereja-gereja yang memberikan kehidupan memiliki prioritas yang tepat, yaitu memuliakan Allah. Secara sederhana dikatakan gereja-gereja yang memberikan kehidupan melihat tujuan akhir mereka sebagai pembawa kemuliaan bagi Allah yang memberikan kehidupan.
Pentingnya memberi kemuliaan bagi Allah sang pemberi hidup merupakan tema utama diseluruh alkitab. Allah sendiri adalah makhluk yang mulia. Kemuliaan menjadi milik-Nya sebagaimana terang dan panas adalah milik dari matahari. Allah bekerja dalam kehidupan umat-Nya untuk membawa kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Hidup dalam kehidupan yang kudus membawa kemuliaan bagi Allah karena kita telah dipilih untuk menjadi suci dan tak bercacat cela dihadapan-Nya. Prioritas utama gereja bukanlah pertumbuhan itu sendiri, melainkan kemuliaan Allah. Pertumbuhan gereja Alkitabiah sama seperti kebahagiaan. Prioritas harus selalu memberi kemuliaan kepada Allah yang memberikan hidup kepada kita. Memberikan kemuliaan kepada Allah bukanlah ide samar-samar yang membebaskan kita untuk hidup dengan tindakan yang terbatas.

Bab Lima: Proses Yang Benar: Pemuridan
Gereja yang memberikan kehidupan melakukan pemuridan dengan menemukan orang-orang yang terhilang, menyatukan mereka ke dalam tubuh, dan membangun mereka di dalam iman. Membawa kemuliaan bagi Allah adalah tujuan gereja yang paling puncak. Gereja-gereja yang memberi kehidupan melakukan pemuridan dengan menemukan orang-orang yang tersesat, menyatujan mereka ke dalam tubuh, dan membangun mereka ke dalam iman.
Seorang murid adalah seorang pelajar. Perkataan untuk menjadikan murid adalah kata khusus yang digunakan hanya empat kali dalam perjanjian baru dan hanya di dalam amanat agung sebagai kata perintah. Perkataan jadikan murid secara tidak langsung berarti bukan hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga menghadapi apa yang dipelajarinya. Menjadi seorang murid adalah menjadi seorang pengikut yang berkomitmen secara pribadi terlibat dalam melaksanakan apa yang menjadi kehendak tuannya.kristus memerintahkan untuk membantu orang-orang untuk menjadi murid-murid dengan mengambil inisiatif untuk membagikan injil terhadap orang-orang yang belum diselamatkan, dan kemudian menolong mereka terkait kepada tubuh dan membantu mereka dewasa dalam iman.
Pertumbuhan gereja alkitabiah melihat pemuridan sebagai proses untuk menemukan dan memenangkan orang yang terhilang, menyatukan mereka ke dalam gereja lokal, dan membangun mereka di dalam iman. Pertumbuhan gereja alkitabiah didasarkan pada kepercayaan bahwa Allah menginginkan gereja-Nya bertumbuh, dan pertumbuhan itu seharusnya terutama berasal dari penginjilan kepada orang-orang yang terhilang. Orang-orang kristen harus memiliki kepedulianuntuk membawa perhatian, keadilan, kesembuhan bagi orang orang-orang dan bagi dunia, memenuhi kebutuhan orang-orang miskin dan yang terhilang dan yang mengelola sumber-sumber yang ada dilingkungan dengan cara-cara yang dapat diupayakan.
Ketika orang dimenangkan untuk Kristus, langkah berikutnya adalah mengingatkan mereka ke dalam gereja lokal sehingga mereka dapat mengembangkan identitas mereka sebagai murid-murid. Pertumbuhan gereja yang alkitabiah terjadi di mana terdapat orang-orang percaya yang dewasa melalui pengajaran dan khotbah-khotbah secara aktif dan Firman Allah yang memberi kehidupan. Petumbuhan gereja yang alkitabiah berhubungan dengan penanaman, pelipatgandaan, pemeliharaan, dan pembaruan dari gereja-gereja yang sehat. Pertumbuhan gereja adalah hal utama. Gereja-gereja yang sehat menunjukkan adanya pertumbuhan baik secara jumlah maupun kerohanian. Pertumbuhan gereja alkitabiah adalah sebuah perjalanan, bukanlah sebuah tujuan. Tujuan mengidentifikasikan akhir dari sebuah perjalanan. Gereja tidak boleh berhenti bertumbuh. Satu-satunya gereja yang sempurna adalah yang masih sedang dalam perjalanan menuju ketaatan kepada amanat agung.

Bab Enam: Kuasa Yang Benar: Roh Kudus
Pertumbuhan gereja yang alkitabiah bersandar pada Roh Kudus. Gereja-gereka yang memberikan kehidupan percaya kepada pekerjaan Roh Kudus yang berkuasa bagi pertumbuhan gereja. Pekerjaan Roh Kudus memberikan kehidupan mulai pada penciptaan. Roh Kudus adalah agen pemberi kuasa yang menjadikan Firman Allah diilhamkan menjadi pemberi kehidupan. Roh kudus disebut sebagai Roh kehidupan dan merupakan kuasa yang digunakan oleh Kristus untuk memberikan keselamatan kepada orang-orang percaya kepadaNya. roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang dikirimkan oleh Bapa kepada orang-orang percaya setelah Yesus naik ke surga. Peran utama Roh Kudus adalah untuk memuliakan Kristus, dan Dia melakukan ini sebagian dengan cara mengingatkan kita apa yang Yesus ajarkan. Roh Kudus membabtis gereja dan memperlengkapi kesaksiannya.
Pertumbuhan gereja yang alkitabiah dapat bertumbuh dengan pekerjaan Roh Kudus bukan karena usaha manusia sediri. Gereja sungguh-sungguh mencari kuasa Allah yang penuh kemurahan.  Gereja-gereja yang ingin berumbuh memiliki teknik-teknik, metode-metode dan strategi-strategi yang tepat. Setiap program dan perencanaan dalam gereja merupakan peranan Roh Kudus yang memberi kuasa. Pertumbuhan gereja ini menunjukkan bahwa tidak ada gereja yang dapat bertumbuh tanpa pekerjaan Roh Kudus. Prinsip dasar yang harus diusahakan untuk dilaksanakan oleh setiap gereja adalah di mana gereja-gereja yang mencari pertumbuhan gereja alkitabiah berdoa dalam terang Firman Allah, berdoa dengan kerendahan hati, dan berdoa dalam terang karakter Allah.
Bab Tujuh: Pendeta Yang Tepat: Gembala Yang Seria
Pelayanan dalam gereja tidak boleh melakukan penginjilan sendirian. Tugasnya lebih banyak untuk melatih orang-orang Kristen lain untuk melakukan penginjilan. Allah memilih untuk bekerja dengan orang-orang dunia untuk melaksanakan tujuan membawa kehidupan kepada dunia yang terhilang dan kemuliaan nama-Nya. Kepemimpinan selalu merupakan untusur utama dalam kerajaan Allah. Gereja-gereja yang memberikan kehidupan dipimpin oleh pendeta-pendeta yang melayani dengan setia sebagai kawan sekerja Allah dalam memenihi amanat agung.
Kristus memberikan pemimpin-pemimpin di gereja-gereja untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Sebagai gembala agung, Dia menyerahkan pemeligharaan kawanan dimba kepada gembala-gembala. Pendeta dari gereja lokal memiliki panggilan yang mulia dan tanggungjawab besar. Domba-domba akan mengikuti pemimpinnya dan ia tidak akan membiarkan domba-dombanya tersesat. Ada tiga kata yang digunakan untuk wakil-wakil Kristus di dunia ini yaitu penilik jemaat, penatua dan pendeta.pendeta pada dasarnya adalah seorang yang memimpin dan memelihara sekawanan domba-domba Allah. Peranan utama seorang gembala adalah memimpin gereja untuk menemukan jalur pelayanan yang cocok. Tanggungjawab utama pemimpin adalah arah atau jalan.
Seorang gembala menjadi pemimpin berhati hamba bertanggungjawab untuk melayani rahasia-rahasia Allah. Tanggungjawab utama gembala adalah melayani pemberitaan kematian, penguburan, kebangkitan, dan kedatangan Kristus yang segera akan datang. Gembala yang setia hidup dalam kemurnian dan kebenaran dan memimpin domba-dombanya melakukan bagiannya dalam memenuhi amanat agung. Gembala yang setia tidak hanya membangkitkan visi pertumbuhan pada anggotanya tetapi juga meyakinkan bahwa strukturnya  tepat untuk memungkinkan terjadinya pertumbuhan gereja alkitabiah.

Bab Delapan: Orang-Orang Yang Tepat: Pelayan-Pelayan Yang Efektif
Orang-orang yang bertumbuh akan menumbuhkan gereja. Amanat agung menggambarkan keseimbbangan dalam penggunaan kata-kata pergi, babtis dan ajarkan. Gereja yang bertumbuh secara rohani mejangkau untuk meberkati orang lain. Orang bertumbuh menunjukkan suatu pola pemikiran yang berpusat pada pelayan, yang sesuai denga terang amanat agung. Pada umumnya gereja akan mengalami pertumbuhan ketika melibatkan banyak orang untuk pelayanan.
Roh kudus yang memberikan kehidupan memberi kuasa bagi orang-orang untuk pelayanan dan modus operasinya adalah dengan memberikan karunia-karunia kepada orang-orang percaya. Karunia-karunia rohani merupakan suatu bagian dari warisan rohani setiap orang percaya karena mereka telah diberkati dengan segala berkat-berkat rohani dan telah menerima warisan dengan Kristus. Allah adalah sumber dari karunia  roh, dan ketiga oknum Allah terlibat dalam pemberian karunia-karunia rohani kepada tubuh sebagaimana yang terlihat. Gereja-gereja yang bertumbuh percaya semua karunia dibutuhkan dalam tubuh Kristus, setiap anggota dari gereja lokal memiliki fungsi yang unik dan penting kesehatan seluruh tubuh, dan karunia rohani itu bermacam-macam, setiap gereja harus menentukan pemahaman mereka sendiri mengenai karunia-karunia yang cocok untuk mereka gunakan.

Bab Sembilan: Falsafah Yang Benar: Relevansi Budaya
Pertumbuhan gereja terjadi pada gereja-gereja yang berasal dari gereja-gereja yang berasal dari ladang misi mereka. Mereka membuat ibadah, pengajaran, penjangkauan, dan pelayanan-pelayanan secara khusus sesuai dengan situasi budaya dan demografis. Gereja-gereja memberi kehidupan berhubungan dengan masyarakat mereka memakai cara-cara yang relevan dengan budaya mereka. Kunci pertumbuhan adalah gereja-gereja dapat menyesuaikan dengan tepat. Tujuan dari semuanya ini adalah untuk memuliakan Allah dengan memuridkan orang-orang yang mengikuti Kristus, bukan selera atau pilihan-pilihan yang berbau kristiani. Gereja yang setia memilih metode pemuridan yang relevan secara budaya.

Bab Sepuluh: Rencanna Yang Benar: Target Terfokus
Gereja-gereja yang beriman mengikuti prinsip kedelapan perkembangan gereja yang alkitabiah yaitu rencana yang benar dengan target yang terfokus. Gereja-gereja yang memberi kehidupan memfokuskan pelayanan mereka pada kelompok masyarakat tertentu yang memberi respons. Gereja ingin mengalami pertumbuhan yang perlu melihat secara saksama pada diri mereka sendiri sebagai sebuah gereja dan kemudian kepada masyarakat yang ingin mereka jangkau.

Bab Sebelas: Prosedur Yang Benar: Struktur Yang Sederhana
Empat prinsip struktur gereja yaitu nyata bahwa ketika gereja bertumbuh, ada orang-orang khusus yang harus ditempatkan untuk bertanggungjawab dalam pelayanan tertentu. Setiap orang percaya bertanggungjawab dan dapat berhubungan langsung dengan  Allah. Setiap orang percaya diberi karunia untuk melayani selutuh tubuh. Kesehatan sangat penting bagi gereja yang berkelanjutan. Alkitab dan gereja menunjukkan roh Kudus yang memberi kehidupan lebih peduli dengan fungsi daripada bentuk dan roh Kudus memberi kehidupan sungguh-sungguh pesuli dengan menjangkau setiap suku, bangsa dan masyarakat serta keluarga.

Bab Duabelas: Gabungkan Secara Benar
Gereja yang bertumbuh dimanapun juga selalu bertumbuh di dalam jemaat secara khusus, ia tidak bertumbuh secara umum. Pertumbuhan terjadi ketika jemaat secara khusus menambah keanggotaan mereka dan ketika gereja-gereja mendirikan jemaat baru. Satu cara untuk memahami berbagai potensi pertumbuhan adalah dengan meneliti efek dari multiplikasi. Bila sebuah gereja dibangun diatas dasar setiap prinsip akan ada penguatan yang terjadi ketika setiap prinsip berinteraksi satu sama lain. Setiap gereja yang mau bertumbuh harus mempertimbangkan langkah-langkah jalan dasar yang benar yaitu Firman Allah, memusatkan diri pada prioritas yang benar yangitu memuliakan Allah, membangun proses yang benar melalui pemuridan, percaya pada kuasa yang benar yaitu kuasa Roh Kudus, mengikuti pendeta yang benar yaitu seorang gembala yang setia, mengembangkan orang yang tepat melalui para pelayan yang efektif, menggunakan filosofi yang benar yang relevan dengan budaya dan membangun rencana yang benar yang memiliki fokus pada target serta dengan menemukan prosedur yang tepat yaitu bentuk yang sederhana.

III.             Penutup

Pertumbuhan gereja yang alkitabiah merupakan hati dan kerinduan Allah yang memberi hidup. Allah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat yang memberi hidup dan yang berkuasa melalui Roh Kudus untuk membawa injil keselamatan sampai ke ujung bumi.pertumbuhan gereja adalah ketaatan yang setia kepada Allah yang dimulai dengan penerimaan FirmanNya dan pemberitaan FirmanNya kepada orang-orang yang belum mendengar injil.

Rabu, 21 Agustus 2013

Studi tentang Kebangkitan Yesus Kristus

PENDAHULUAN

Issu tentang kebangkitan Yesus Kristus merupakan suatu issu yang mungkin sudah lama terdengar. Tetapi issu ini bisa mempengaruhi kehidupan orang-orang percaya yang mudah tergoyah. Di mana bisa saja ada orang-orang yang datang membawa kabar ini kepada orang-orang percaya sehingga menimbulkan orang-orang percaya yang dulunya percaya kepada Tuhan menjadi goyah dan mempertanyakannya juga.
Ada issu yang mengatakan bahwa kebangkitan Yesus Kritus itu hanyalah dogeng, hanyalah asumsi orang-orang. Dia tidak bangkita melainkan mayat-Nya dicuri orang, atau mayat yang dikunjungi oleh orang-orang percaya dan pengikut Yesus itu bukanlah mayat Yesus tetapi mayat orang lain. Jadi dari issu-issu ini dapat kita mengatakan dan menyimpulkan bahwa Yesus itu tidak benar bangkit dari kematian.
Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya. Apakah kebangkitan Kristus hanya sekedar ajaran saja? Apakah kebangkitan Kristus hanya legenda saja? Ataukah kebangkitan Kristus benar-benar terjadi dalam sejarah?
Dalam paper ini penulis akan mencoba menjelaskan sedikit tentang kebangkitan yang dimaksudkan disini dan apakah benar Yesus itu bangkit dari kematian, ataukah itu hanya ilusinasi murid-murid Yesus.

PENGERTIAN KEBANGKITAN

Kebangkitan merupakan peristiwa sentral dalam perjanjian baru. Kulminasi setiap injil adalah kebangkitan; kebangkitan bukan hanya merupakan suatu yang dilekatkan pada akhir cerita kehidupan Yesus. kehidupan Yesus dihadirkan dari sebuah kematian diikuti oleh kebangkitan-Nya. Kebangkitan membuat perbedaan yang tajam antara Yesus dengan seluruh pendiri agama lainnya.
Kebangkitan Kristus adalah suatu peristiwa dalam sejarah dimana Allah bertindak dalam sebuah dimensi ruang dan waktu yang pasti. Seorang teolog yang bernama Wilbur Smith berkata, makna kebangkitan adalah suatu persoalan teologis tetapi fakta kebangkitan adalah suatu persoalan sejarah; hakikt kebangkitan tubuh Kristus mungkin merupakan suatu misteri, tetapi kenyataan bahwa tubuh itu telah lenyap dari dalam kubur suatu masalah yang harus dipecahkan berdasarkan bukti-bukti sejarah.
Banyak teori-teori yang memberikan pendangan mereka tentang kebangkitan Yesus Kristus. Teori terse but mengatakan bahwa kubur Yesus bisa kosong itu bukan karena Yesus bangkit tetapi ketika Yesus mati para murid ketakutan dan sampai-sampai mereka bersembunyi. Mereka ketakutan dan supaya ketakutan itu hilang pada hari pentakosta mereka mengkhotbahkan tentang kebangkitan Yesus untuk menghilangkan rasa takut yang mereka alami.
Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu. Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.
Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang mempunyai kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Apakah ini pembicaraan ajaran? Tidak, ini adalah pembicaraan sejarah.

Sepuluh kesimpangsiuran kebangkitan Yesus
Pertama Yesus Kristus yang telah bangkit bukan hantu karena hantu adalah roh yang tidak memiliki daging. Yang kedua, kebangkitan itu bukan sekedar suatu tindakan penyadaran kembali seperti peristiwa kebangkitan Lazarus. Ketiga, kebangkitan bukanlah reinkarnasi (sadar kembali). Yang keempat, kebangkitan harus dibedakan dengan kekekalan seperti pandangan Plato atau aliran Gnostik yaitu pembebasan jiwa dari penjara tubuh. Kelima, Kebangkitan juga berbeda dengan pencerahan atau nirwana atau satori atau moksha yang merupakan suatu keadaan yang diterapkan oleh orang Hindu atau Budha akan terjadi saat kematian yakni hilangnya individualitas pribadi yang terserapnyakembali kepada yang satu, yang semua.keenam, kebangkitan berbeda dengan keraiban atau pengangkatan ke surga. Ketujuh, kebangkitan juga berbeda dengan visi. Kedelapan, kebangkitan berbeda dengan legenda. Kesembilan, kebangkitan itu bukanlah mitos. Dan yang terakhir mengatakan kebangkitan itu harus jelas didalam kaum modernis yang mengatakan bahwa kebangkitan itu hanya merupakan suatu kebangkitan iman paskah di dalam hati dan kehidupan murid-murid-Nya.

MENGAPA KUBURAN YESUS KOSONG?

Tiga teori tentang kuburan Yesus yang kosong, yaitu :
1. Yesus sebenarnya tidak mati. Dia hanya pingsan yang mengakibatkan dia seolah-olah mati dan ketika Dia diletakkan di atas batu yang dingin di dalam kuburan, tubuhnya disegarkan kembali.
2. Murid-murid Yesus mencuri tubuh Yesus yang dimasukkan ke dalam kuburan, sehingga ketika para perempuan itu masuk ke dalam kuburan tersebut, mereka tidak melihat tubuh Yesus lagi di dalam kuburan tersebut.
3. Para perempuan yang mengikuti Yesus masik ke dalam kuburan yang salah sehungga mereka tidak menemukan tubuh Yesus dalam kuburan tersebut.
Kematian, kubur kosong dan penampilan DiriNya sendiri dari kematian merupakan bukti yang sangat meyakinkan mengenai kebangkitan. Khusunya kubur kosong merupakan bukti yang paling nyata untuk kebangkitan tubuh dan malaikat-malaikat juga menjelaskan bahwa Yesus sudah tidak ada di dalam kuburan itu, mereka membicarakan sebuah tubuh yang kebangkitan. TubuhNya hilang karena dibangkitkan.
Jikalau seseorang menolak kebangkitan, apakah kebangkitan itu merupakan suatu halusinasi? Pemikirang ini gagal dibuktikan karena dua hal, yaitu :
1. Jika kebangkitan merupakan halusinasi, maka halusinasi tidak tampak kepada banyak orang dibanyak tempat disepanjang kurun waktu tertentu seperti yang dilakukan Yesus.
2. Halusinasi tidak dapat menjelaskan kuburan-Nya kosong. Halusianasi tidak dapat menghilangkan tubuh Yesus dari kubur, tetapi yang terjadi adalah bahwa tubuh itu menghilang.
Perjanjian baru menampilkan kebangkitan Yesus Kristus sebagai peristiwa sejarah yang diperkuat oleh kesaksian terkuat daripada saksi mata (1 Kor. 15:5-8). Kebangkitan merupakan peristiwa pokok dalam perjanjian baru. Kulminasi dari setiap injil adalah kebangkitan. Kehidupan Yesus ditunjukkan sebagai persiapan bagi kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam khotbah Petrus pada hari Pentakosta menekankan bahwa Yesus disalib telah mati tetapi Dia telah bangkit dari antara orang mati oleh kuasa Allah. Kebangkitan ini ketika pekabaran injil dilakukan maka ini adalah sangat penting karena bukan hanya sampai kematian yang kita dapatkan tetapi sampai kepada kebangkitan di dalam Yesus Kristus.
Di beberapa daerah yang mayoritas Kristen sekalipun, tentang kebangkitan Yesus ini tidak mudah untuk dipertahankan karena tidak banyak data yang mendukung tentang kebangkitan ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemungkinan orang-orang Kristen yang percaya akan kebangkitan dipengaruhi oleh presuposisi-presuposisi naturalistik sehingga dapat menerima mujizat yang terjadi. Tetapi jika beralih pada isu-isu yang ada, melalui bukti kelogisan yang ada banyak yang menentang tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Kebangkitan merupakan mujizat terbesar yang terjadi. Literatur yang menjelaskan tentang kebangkitan Yesus dari kematian tidak banyak tetapi literatur yang menjadi bukti tersebut merupakan salah satu bukti yang paling kuat yang walaupun tidak ada bukti lain yang mendukung tetapi bukti ini sangat meyakinkan orang-orang percaya. Bukti tersebut adalah Alkitab yang adalah Firman Allah.

SANGGAHAN-SANGGAHAN TERHADAP KEBANGKITAN

Orang Yahudi Abad Pertama Mudah Mempercayai Adanya Kebangkitan
1. Kepercayaan orang Yahudi tentang kebangkitan
Orang-orang yahudi mempercayai kebangkitan itu ada, tetapi kebangkitan yang mereka percayai itu hanya terjadi saat kiamat telah tiba. Melalui hal ini bisa dilihat bahwa orang Yahudi tidak menerima kebangkitan Yesus dari kematian. Hal ini juga menjadi pandangan yang aneh pada masa sekarang ini. Pemikiran orang-orang pada masa duaribu tahun yang lalu sudah berbeda dengan padangan sekaran ini. Di mana orang Kristen ada yang menerima tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian dan hal ini dilihat melalui surat-surat yang diberikan Paulus kepada jemaat-jemaat Allah pada masa itu yang ada di tempat-tempat yang berbeda. Setelah pengabaran injil oleh Paulus maka orang percaya dapat melihat tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian itu dapat mereka terima. Dan pemahaman mereka pada abad yang pertama dan pada masa sekarang telah berubah dan mereka telah menerima kebangkitan Yesus yang nyata dalam kehidupan setiap orang percaya.
2. Murid-Murid Yesus waktu itu tidak mengharapkan Yesus dibangkitkan
Peristiwa penyaliban seolah-olah menjadi yang terakhir bagi murid-murid di mana mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian dan peristiwa yang mereka lihat adalah peristiwa yang tidak diduga-duga. Kebangkitan Yesus dari kematian merupakan kemenangan-Nya dari maut, dan oleh karena hal ini orang-orang Kristen tidak takut ketika menghadapi kematian. Seperti yang dialami oleh para murid, yang tadinya mereka sepertinya tanpa pengharapan dan ketika kebangkitan Yesus Kristus mereka kembali lagi bersemangat dan mereka tidak ciut lagi seperti yang mereka alami sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Sebelum Yesus Kristus mengalami semuanya itu, Dia telah memberitahukan kepada murid-muridn-Nya bahwa Ia akan bangkita dari kematian tetapi para murid tidak memahami apa yang dimaksudkan Yesus pada saat itu.
Sanggahan: Kebangkitan Yesus Itu Tidak Masuk Akal. karenanya injil yang sederhana itu tidak dapat diterimaKebangkitan Yesus Kristus merupakan pembuktian bahwa Dia adalah anak Allah. Kebangkitan ini adalah keunikan Yesus Kristus dimana Dia tidak hanya sekedar guru rohani dari orang-orang percaya tetapi itu menandakan keilahian-Nya yang menyatakan bahwa Dia adalah anak Allah.

Bukti-Bukti Kebangkitan Yesus Kristus
1. Kubur kosong
Injil menjelaskan bahwa kubur Yesus itu ketika dikunjungi oleh para pengikut-Nya, kuburan-Nya kosong yang menandakan Ia telah bangkit. Hal ini menjadi bukti historis yang tidak dapat disangkali oleh orang-orang Yahudi.
2. Mayat Yesus tidak ada, Ia sudah bangkit
Ada yang mengatakan bahwa mayat itu tidak ada karena dicuri oleh para muridd, tetapi opini ini sebenarnyan hanya untuk meragukan kepercayaan kekristenan.
3. Yesus disembah sebagai Allah
Yesus Kristus adalah Allah sendiri. Dimana antara Yesus dan Allah memiliki hubungan dimana mereka adalah saru.
Bukti kebangkitan Yesus adalah penampakan yang Yesus lakukan kepada banyak orang. Ia bangkit secara fisik bukan hanya rohani. Yesus memiliki daging dan tulang Lukas 4:39, makan ikanLukas 24:42-43 dan menantang Tomas yang meragukan Dia bangkit untuk menusukkan jarinya ke lubang-lubang bekas paku di tangan dan kaki, serta bekas tusukan tombak di lambung-Nya (Yohanes 20:27).
Sanggahan: Kebangkitan itu tidak sungguh terjadi, tetapi ada kejadian lain yang lebih masuk akal. Sanggahan ini mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya pingsan, Dia tidak mati dikayu salib. Dan setelah dia diturunkan dari kayu salib, Dia sadar kembali. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kebangkitan ini juga akibat dari dongen-dongeng kuno Mesir. Tetapi kebangkitan Yesus itu adalah suatu sejarah yang tidak bisa hilang dan yang benar-benar terjadi sedangkan dongeng-dongens kuno Mesir itu tidak ada dalam sejarah.
Perjanjian baru merupakan sumber utama sejarah bagi informasi tentang kebangkitan Yesus Kristus. oleh karena itu banyak kritikus yang menyerang kehandalan dokumen Alkitabiah ini. Berita kebangkitan dalam perjanjian baru disebarluaskan tatkala orang-orang yang hidup pada waktu kebangkitan terjadi masih ada. oleh karena itu mereka dapat menegaskan atau membantah kebenaran kebangkitan itu. Orang-orag Kristen percaya bahwa secara fisik Yesus dibangkitkan dalam waktu dan tempat oleh kekuatan supra alami Allah. berbagai teori yang diajukan untuk menjelaskan bahwa kebangkitan terjadi karena sebab-sebab alamiah sama sekali tidak berdasar. teori ini mempertegas kebenaran dari kebangkitan Yesus Kristus.
Jika peristiwa kebangkitan dihilangkan dari kehidupan orang percaya, maka yang disebut dengan perjanjian baru akan runtuh. Dalam perjanjian baru yang paling bersemangat untuk mengungkapkan sifat yang menentukan dari kebangkitan ini bagi iman Kristen adalah paulus. Di mana disini Paulus mengatakan andaikata Yesus Kristus tidak benar-benar bangkit, maka sia-sialah apa pemberitaan mereka dan juga kepercayaan yang mereka pegang. Dan yang lebih daripada itu, ternyata berdusta kepada Allah, karena tentang Dia dikatakan, bahwa Ia telah membangkitkan Yesus Kristus dari kematian.
Berita kebangkitan Yesus Kristus dalam khotbah Petrus pada hari pentakosta membedakan peristiwa ini dengan peristiwa pentakosta sebelumnya. Petrus dan para rasul lain kepada pemahaman yang lebih mendalam akan kehendak Allah untuk menyelamatkan yang terwujud dalam Yesus Kristus. Berita kebangkitan ini merupakan suatu pengalaman pembebasan yang membebaskan mereka dari tradisi-tradisi keagamaan dan budaya mereka. Kebangkitan Yesus menggenapi keterputusan besar dalam sejarah yang disebabkan oleh salib. Kekosongan kubur melambangkan bahwa karya penyelamatan Allah di dunia ini tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh orang-orang Israel dan bahkan orang-orang percaya saat ini.

IMPLIKASI KEBANGKITAN KRISTUS BAGI ORANG PERCAYA MASA KINI

Kebangkitan Kristus tidak hanya terjadi pada masa itu tetapi kebangkitan itu memiliki dampak bagi orang percaya dalam segala zaman bahkan sampai pada zaman sekarang ini. Walaupun banyak pendapat tentang kebangkitan yang menggoncangkan iman orang-orang percaya, tetapi orang-orang percaya dapat mempertahankan imannya karena memiliki bukti yang kuat terhadap kebangkitan yaitu Alkitab yang adalah Firman Allah. Beberapa yang dapat dilihat dari kebangkitan Yesus Kristus, yaitu:
1. Kebangkitan Kristus menyatakan kuasa dari Allah yang benar.
Dengan membangkitkan Yesus dari kematian telah membuktikan bahwa Allah sungguh-sungguh berdaulat atas segala hal, termasuk kematian. Kristus berkuasa di atas segalanya, Dia adalah yang berkuasa dan kuaqsa yang Dia miliki adalah kuasa yang benar yang berasal dari Allah sendiri.
2. Kebangkitan Kristus menyatakan identitas-Nya sebagai Allah.
Roma 1:4 dengan jelas menyatakan bahwa Yesus Kristus yang telah dibangkitkan adalah Anak Allah. Dia memiliki kuasa setara dengan Allah Bapa. Kebangkitan Yesus Kristus menyatakan kepada kita bahwa apa yang dikatakan-Nya benar, bahwa Dia adalah Allah.
3. Kebangkitan Kristus menjamin keselamatan kita.
Paulus dalam Roma 10:9 untuk menunjukkan kepada orang-orang percaya bahwa percaya kepada Kristus, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, merupakan jaminan akan keselamatan dari Allah.
4. Kebangkitan Kristus menjamin regenerasi kita.
Petrus dalam suratnya menghubungkan kebangkitan Kristus dengan kelahiran baru setiap orang percaya. Seseorang tidak dapat lahir baru ketika dia menjadi Kristen. Kelahiran baru hanya mungkin terjadi melalui karya Kristus, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya.
5. Kebangkitan Kristus menjamin pembenaran kita.
Paulus di dalam surat Roma menjelaskan bahwa kebangkitan Kristus berkaitan dengan pembenaran orang percaya. Allah menerima pembenaran kita di hadapan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Pembenaran orang percaya menjadi sempurna ketika Kristus telah dibangkitkan.
6. Kebangkitan Kristus menjamin pengudusan kita.
Dalam Roma 6:4 Rasul Paulus menjelaskan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, orang percaya akan hidup dalam hidup yang baru. Dalam proses kehidupan di dalam Dia, kita mungkin lemah dan bisa jatuh dalam dosa. Namun Dia yang hidup akan memberikan kekuatan dan kemenangan kepada orang-orang percaya. Hal dapat terjadi, karena orang-orang percaya telah disatukan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
7. Kebangkitan Kristus memberi harapan untuk kebangkitan orang percaya di akhir zaman.
Kebangkitan Kristus meyakinkan setiap orang bahwa suatu hari kelak setiap orang-orang percaya akan dibangkitkan. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15 menjelaskan bagian ini dengan tepat sekali. “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”. Kebangkitan Kristus akan menjadi dasar dari kebangkitan orang percaya pada akhir zaman.
8. Kebangkitan Kristus menyatakan tentang penghakiman-Nya.
Secara tidak langsung, kebangkitan Kristus menyatakan tentang penghakiman-Nya atas manusia, yaitu orang berdosa akan dihukum, orang percaya akan diselamatkan. Selama ada di dalam dunia, Dia telah berbicara tentang penghakiman Allah atas dosa, namun dunia menolak Dia dan membunuh Dia. Yesus Kristus yang telah mati karena dosa-dosa manusia dan telah dibangkitkan oleh Allah, ditentukan untuk menjadi hakim atas dunia ini.
9. Kebangkitan Kristus juga menyatakan kemuliaan-Nya.
Kebangkitan Kristus tidak saja menunjukkan kuasa Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Dengan menunjukkan kuasa-Nya yang membangkitkan Kristus, Allah juga menyatakan kemuliaan Kristus melalui gereja-Nya. Paulus menyatakan melalui bagian ini bahwa Kristus tidak saja hanya merendahkan diri-Nya dan menderita demi keselamatan manusia, tetapi Dia juga ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah.

KESIMPULAN

Kebangkitan Kristus adalah fakta sesungguhnya dari iman Kristiani. Peristiwa itu sendiri terjadi di dalam sejarah, dan sampai hari ini bukti-bukti terus berbicara dan membuat para skeptik dan ateis berbalik untuk mempercayai-Nya. Walaupun ada sekian banyak orang yang terus menentang dan menolak kebangkitan Kristus, perlahan tetapi pasti akan menemukan kebenaran sejati itu. Tanpa peristiwa kebangkitan Kristus, kekristenan akan kehilangan esensi dari suatu keyakinan iman yang sejati. Kebangkitan Yesus Kristus memberikan pengharapan kepada orang-orang percaya.
Kebngkitan Yesus Kristus memberi dampak yang luar biasa bagi orang-orang percaya pada masa sekarang ini, di mana kebangkitan Yesus Kristus tidak hanya sekedar sejarah yang terjadi pada masa lampau tetapi menjadi suatu inti dari kekristenan sampai pada masa sekarang ini. Di mana kekristenan itu akan terasa kosong jika tidak ada pekabaran tentang kebangkitan Yesus Kristus. Jika kekristenan hanya sampai kematian Yesus di kayu salib, maka orang-orang percaya tidak memiliki harapan kemudian hari. Dimana melalui kebangkitan Yesus Kristu memberikan pengharapan kepada orang-orang percaya. Dengan bangkitnya Yesus Kristus dari kematian menunjukkan kepada semua orang harapan di dalam Yesus itu, di mana Yesus Kristus telah mengalahkan kematian dan telah memenangkan hidup. Dan kemenangan itu diberikan kepada semua orang-orang percaya.

KONSTRUKSI KRISTOLOGI YANG MENJADI JAWABAN BAGI ORANG-ORANG TERTINDAS DI INDONESIA

PENDAHULUAN
Kasus-kasu yang terjadi diberbagai tempat yaitu kasus tentang Kristologi tejadi juga di negara-negara Asia yaitu salah satunya di Indonesia. Di mana, Kristologi telah menjadi perdebatan sejak gereja-gereja Kristen lahir. Masalah Kristologi ini berhubungan langsung dengan kebutuhan gereja mengenai keselamatan, oleh karena itu secara teologis Kristologi ini merupakan point penting yang harus diterapkan dalam kehidupan orang-orang percaya. Bahkan di Asia sekalipun, Kristologi ini sangat penting. Di mana Kristologi ini menjadi jawaban bagi orang-orang percaya yang tertindas di Asia.
Pada masa sekarang ini, banyak orang-orang yang bertanya-tanya dimanakah Yesus? Dimanakah Dia yang berjanji akan datang menyelamatkan umat manusia? Pertanyaan ini banyak muncul dalam setiap orang-orang yang mengalami penderitaan, atau mengalami kesusahan, bahkan penindasan yang luar biasa sekalipun. Dalam paper ini, penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana Kristologi itu menjadi jawaban bagi orang-orang tertindah di Indonesia.

“OH YESUS SINI BERSAMA KAMI! Karya C.S. Song
Dimanakah Yesus?
Kenyataan yang kita temui dengan perumahan dan jalan kumuh, pekat. Rakyat berwajah ceking (kurus kering). Pengemis dan orang-orang menderita. Dimakah Yesus berada? Diamakah Dia, Kristus yang datang menyelamatkan dan menebus?
Bagaimana jikalau pertanyaan ini datang dari rakyat seluruhnya, yang adalah pengemis dan si kusta, dua jiwa yang sengsara, sampah masyarakat, dan bukan teolog-teolog yang mengajar doktrin-doktrin Kristen, bukan orang-orang Kristen yang hafal ayat-ayat alkitab dan pelajaran katekisasi mereka. Kalau pertanyaan ini diajukan oleh seorang teolog, maka pertanyaan ini menjadi satu pertanyaan teologis yang harus dijawab dengan pengetahuan tafsir alkitab yang luas dan ajaran gereja. Kalau diajukan oleh seorang Kristen yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, maka pertanyaannya berubah menjadi pembelaan iman Kristen melawan kepercayaan-kepercayaan lain (dan kalau kepada kita mahasiswa teologi baragkali menjadi satu bahan studi untuk apologetika).
Tetapi ketika seorang pengemis tiba pada pertanyaan itu, maka bukan otak atau kepercayaanya yang membawanya kesitu, melainkan perutnya yang lapar. Ia akan langsung berfikir, Orang yang menjadi penyelamat, harus terlebih dahulu menyelamtkan perutnya. Dan kalau seorang kusta yang menanyakan, maka yang menjadi keprihatinannya bukanlah iman atau ajaran yang ia pegang, tetapi penyakitnya yang menggerogoti tubuhnya. Kalau si pengemis yang bertanya, siapakah Yesus?, maka bagi mereka ini adalah suatu pertanyaan mengenai hidup dan mati. Si kusta, si pengemis, mencari Yesus bertolak dari kemanusiaanya yang tengah mengalami kesulitan. Itulah gambran asia.
Si kusta (yang mewakili orang-orang kelas paling bawah) mencari Yesus bertolak dari kemanusiaanya yang tengah mengalami kesulitan. Menurut c.s.song, dari sinilah usaha untuk mencari sang penyelamat dimulai, bukan hanya bagi si kusta, tetapi kita semua. Kita (orang-orang Kristen) telah belajar banyak merenungi kitab Perjanjian Lama untuk melihat jejak-jejak kaki sang mesias. dari kitab Wahyu untuk melihat bagaimana kedatangannya kelak, tetapi sayangnya dalam kebanyakan waktu kita takut melihat kedalam diri kita sendiri, dan kita sebenarnya masih dihantui kecemasan yang mendalam. Seharusnya kita berani mengungkapkan kesulitan kita sendiri dan mencari Yesus berdasarkan kesulitan itu. Yesus harus dipertalikan dengan kehidupan dunia di asia secara teologis.
Sementara si kusta melihat Yesus dengan cara yang berbeda. Ia melihat kenyataan dirinya yang sengsara. Ketika ia melihat keluar dirinya, ia melihat ketidakadilan dimana-mana, dengan keberadaan dunia yang terpecah-pecah, para pejabat yang tidak mempedulikannya, para penguasa militer yang hanya mementingkan diri sendiri, teman-temannya sesame pengemis yang tidak ada yang memperhatikan, pertengkaran antar suku yang membuat sesama mereka menderita, kemiskinan seperti yang ia alami juga dialami oleh banyak orang atau suatu perlombaan untuk tetap bertahan hidup dengan susah payah. Kenyataan itu yang ia lihat setiap saat. Lalu dimakah Yesus itu? Apa artinya hidup di dalam kasih karunia? Apakah Yesus membiarkan seperti itu?



Bukankah demikian Yesus?
Mungkin setelah si kusta berfikir, pada akhirnya ia menyadari adanya sesuatu yang salah. Mengapa Yesus tampaknya tidak pernah peduli keadaan mereka, bahkan seolah-olah Yesus telah tampaknya mungkin turut ambil bagian dalam membuat penderitaan mereka?
Si kusta mulai pelan-pelan menanyakan sendiri, apakah benar bahwa Yesus bermaksud mengajarkan seperti yang mereka pahami selama ini? Pada waktu rumahmu dirobohkan, “diam sajalah, jangan bertikai, berilah pipimu sebelah lagi, taati tuan-tuan itu, orang-orang terhormat itu, polisi itu. Dengan begitu kamu menjadi orang percaya sejati”. Inikah yang diinginkan Yesus?
Ia mulai menyadari bahwa ia diajar supaya menjadi diam, dan pasrah, dan membisu saja”, atas apa yang terjadi atas dirinya. Hal yang sama terjadi pada ribuan orang asia, dan juga orang Australia yang tanahnya di rampas oleh orang lain. Mereka di bohongi dengan ajaran, jika pipimu yang sebelah kiri di tampar, maka berikan jugalah pipi kanan.
Yesus yang memakai Mahkota emas yang indah, yang diam diantara para uskup-uskup itupun tidak segera memberi jawab kepada si kusta. ia berusaha untuk mencari tahu sendiri, dan bertanya kepada Yesus, apakah benar bahwa ia harus membiarkan tanahnya di rampas oleh orang lain. apakah ia harus duduk diam di tempat yang kotor itu. Apakah ia harus duduk diam dan menunggu belas kasihan dari orang lain, dan berdiam diri, menaati peraturan-peraturan penguasa militer di negaranya? Apakah benar itu yang Yesus inginkan? Itu mustahil dan Pasti bukan, dan ternyata Yesus yang ia kenal itu tidak pernah memberikan jawaban.
Penderitaan sudah menjadi hal biasa dan menjadi cirri mereka. Di asia banyak orag yang lapar, tidak memiliki tempat tinggal, menganggur dan buta huruf, dihina direndahkan. Orang-orang kecil yang di tindas, tidak memiliki hak. Mereka yang ditipu, dan semua penderitaan mereka. Penderitaan yang telah menjadi jiwa dan kebudayaan rakyat. Ia mencoba menguraikan semua hal yang ia ketahui kepada Yesus. Ia menceritakan semua sejarah asia yang penuh dengan penderitaan, kebudayaan juga yang erat dengn penderitaan, tetapi tidak satupun yang membuat Yesus keluar dari kebisuan. Yesus yang ia kenal inipun tetap diam tidak memberikan jawaban.
Ia hanya menemui Yesus yang mati, tidak mau menjawab, yang di pangkuan maria, yang memakai mahkota emas, yang diam di tengah-tengah para uskup yang kaya, dengan mata yang kosong, dan yang bisu, yang adalah patung.

Siapakah Yesus yang sebenarnya?
Apa yang si kusta ceritakan, Itu semua tidak membuat Yesus tertarik, dan ia mulai memahami, bahwa Yesus yang ada di patung itu bukanlah Yesus yang sebenarnya. Yesus itu tidak sama dengan para rahib-rahib yang membakar diri, biksu, dan para pejuang yang ada di asia. Dan si kusta mulai pelan-pelan sadar, bahwa Yesus yang mereka kenal selama ini, bukanlah Yesus yang sesungguhnya. Yesus yang sesungguhnya tidak tertarik dengan masalah kebudayaan atau sejarah mereka. Yesus itu sungguh berbeda.

Jadi siapakah Yesus sebenarnya?
Ia akhirnya menemukan satu kenyataan yang mengejutkan. Yesus yang bermahkota emas itu, bukanlah Yesus yang sesungguhnya. Yesus yang bermahkota emas itu adalah Yesus bohongan yang dipalsukan oleh kekayaan-kekayaan dunia ini. Yesus yang sebenarnya ternyata ada bersama dengan rakyat yag ada dalam penderitaan. Yesus pun pada akhirnya telah berbicara. Mahkota emas itu telah lenyap dan kini ia sedang memakai satu mahkota duri. Wajahnya kering dan penuh dengan penderitaan. Kata-katanya juga memohon belas kasihan, allahku-allahku, mengapa engkau meninggalkan aku? Inilah Yesus sejati.
Yesus sedang berjuang untuk meraih kemerdekaan, keadilan dan demokrasi. Yesus sedang berusaha memampukan rakyat untuk tetap beriman kepada Allah kasih. Ia sedang berada di antara si kusta dan si pengemis. Yesus yang sesungguhnya telah lama terkurung dalam batu patung untuk waktu yang sangat lama. Yesus sejati adalah Yesus yang juga menderita. Ia tetap sama, seperti pada waktu ia disalib. Cerita tentang Yesus adalah cerita tentang penderitaan rakyat. Si kusta inilah yang akhirnya menerangkan siapa Yesus itu.
Rakyat yang menyingkapkan dimana Yesus berada. Rakyat sangat dekat dengan Yesus karena Yesus selalu berbicara tentang kebenaran. Yesus tidak memberitahukan mengapa rakyat menderita, tetapi rakyatlah yang memberitahu kita Yesus mengapa ia harus menderita. Yesus telah menderita dan mati bagi rakyat. Kematian yang sungguh menggerakkan hati banyak orang. Tetapi kemudian ia juga yang memecah kesunyian, dan dari mulutnya sendiri kata-kata berkumandang. Akulah kebangkitan dan hidup. Kehidupan diberitakan dari dalam dunia yang dicengkram kematian. Sang mesias telah bangkit. Ia merangkum kehendak untuk hidup dan dan untuk hidup kekal.
Yesus adalah cinta kasih Allah yang menciptakan dunia ini. Yesus tetap menyentuh hati rakyat, dan rakyat juga menyentuh hati Yesus.Yesus ada, hidup dan menjadi nyata pada waktu Allah dan rakyat mencapai satu sama lain untuk mendatangkan suatu dunia baru dari reruntuhan dunia yang lama. Yesus adalah peristiwa yang terjadi antara Allah dan manusia. Yesus adalah terang keselamatan Allah. Yesus yang sebenarnya adalah suatu perkara doa dan bukan perkara dogma. Yesus yang sesungguhnya membangkitkan suatu permintaan dan bukan suatu gagasan. Dan Yesus yang sebenarnya ketika dilihat adalah pngakuan iman, Yesus adalah imanuel,Tuhan beserta kita.

Bagaimana Yesus Menjadi Jawaban Bagi Orang-Orang di Indonesia?, (khususnya orang tertindas)
Suatu refleksi atas tulisan C.S. Song “Oh Yesus Sini Bersama Kami”

Teologi yang menjawab kebutuhan rakyat?
Dari gambaran C.S.Song di atas “Yesus sini bersama kami”, ini menunjukkan satu realitas di bumi asia, yang membutuhkan suatu rumusan teologi yang menjawab pergumulan konteks asia yang bergumul dengan masalah penderitaan, ekonomi, keadilan. Totalitas kehidupan seperti ini adalah bahan baku untuk Teologi di Asia. Teologi terlibat dengan persoalan-persoalan konkrit yang mempengaruhi kehidupan dalam totalitasnya. Tidak ada persoalan yang terlalu kecil ataupun terlalu remeh bagi teologi . Teologi harus bergumul dengan dunia, bukan dengan sorga. Kita tidak dapat berteologi di ruang kosong. Teologi selalu merupakan usaha untuk menjawab kebutuhan, di buminya sendiri.
Teologi di Indonesia tidak lagi melulu membahas isu utama dalam doktrin-doktrin Kristen, masalah tritunggal, gereja, sakramen, baptisan dari sisi filosofisnya. Tema-tema seperti ini adalah konsumsi orang-orang intelektual, tetapi tidak menyentuh kehidupan yang nyata dari orang Indonesia yang mayoritas pendidikannya masih rendah. Perjuangan hidup yang keras di Indonesia serigkali justru terabaikan dari tema-tema teologi, bahkan samasekali justru terlupakan. Tema-tema doctrinal ini tetap adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi iman, tetapi bagaimana tema-tema mendarat dan bisa menjawab kebutuhan dan berimplikasi dengan perjuangan hidup reel yang keras, tidak boleh diabaikan. Sampai saat ini, teologi masih sangat sedikit yang berusaha menjawab kebutuhan ini. Orang Kristen umumnya tidak melihat arti “teologis” dalam pasar yang hiruk pikuk dimana disana orang tawar menawar harga ayam.
Teologi di asia harus dimulai dengan segala hal yang berkenaan khususnya dengan manusia, karena di dalam manusialah Allah secara teologis terlibat. Teologi akan mati kalau diceraikan dari kehidupan manusia . teologi kita harus bersaksi tentang penderitaan manusia yang mengharapkan Allah. mustahil bagi kita untuk mengatakan bahwa Allah tidak memperhatikan penderitaan manusia, sebab Yesus sangat memperhatikan orang-orang miskin, bahkan justru Yesus paling dekat dengan orang-orang yang hatinya hancur (seperti pelacur, dan pemungut cukai). Gereja di Indonesia, juga berada di tengah-tengah atau diantara kesengsaraan, penindasan, penderitaan, ketidakadilan, yang bukan hanya terjadi pada orang-orang di luar gereja, tetapi juga di antara jemaat sendiri yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan.
Teologi tujuannya adalah untuk menjawab kebutuhan manusia, bukan untuk menjawab kebutuhan Allah sebab Allah tentu tidak membutuhkan teologi. Teologi yang memuliakan Allah, bukan berarti hanya berbicara tentang atribut-atribut Allah yang mahakuasa di surga, tetapi bagaimana supaya manusia benar-benar dapat merasakan bahwa Allah itu mahakuasa di dalam kehidupannya di bumi, tanpa harus menunggu masuk surga untuk melihat kemuliaan Allah.
Allah memberikan firman Nya untuk dipelajari sebagai jawaban dari persoalan hidup manusia. lantas kalau setelah kita mempelajari firman Allah, itu tidak menjawab kebutuhan pengenalan kita akan Allah, dan juga tidak menjawab kebutuhan pergumulan kita di dalam masyarakat, lantas apa yang dikerjakan selama ini? gereja hadir untuk melayajni Allah, dan tugas teologi adlaah untuk menolong gereja mengembangkan visi Allah bagi kehidupan manusia.
Teologi harus menemukan titik temu antara iman dengan kehidupan duniawi, yang seringkali tidak jelas dan seolah-olah benar-benar terpisah. Teologi membutuhkan penelitian yang lebih lanjut, apa artinya menjadi orang Kristen di tengah-tengah penderitaan di dunia Indonesia. Alkitab tidak hanya mengajarkan tentang keselamatan jiwa, seperti pemahaman misi tradisional, tetapi Alkitab juga menekankan adanya keselamatan fisik. Yesus mengajarkan teologi yang sangat menarik kepada orang-orang miskin yang mengalami kekhawatiran atas hidup mereka di bumi: carilah dahulu kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Bagaiman hal ini diterapkan bagi orang-orang yang mengalami kekhawatiran di Indonesia? Teologi harus memikirkan lebih dalam lagi.

Yesus Yang Membangkitkan Semangat Kaum Lemah Di Korea
(contoh tentang: Yesus yang menjadi jawaban)
Tidak ada rujukan dalam tulisan diatas konteks yang sedang diangkat oleh Song, tetapi melihat latar belakang song, seorang Taiwan, maka gambaran orang miskin tersebut adalah dari Taiwan atau daerah yang cukup dekat dengannya korea.
Sebagai perbandingan, yang sangat mirip dengan orang situasi di atas adalah kaum minjung di korea. Rakyat kecil di korea yang berbeda dengan rakyat kecil di Indonesia. Di dalam sejarah bangsa korea, rakyat kecil/ kaum minjung bukanlah satu keadaan yang statis melainkan dinamis dan hidup. Mereka tidak berpangku tangan dan secara fatalistis menerima nasibnya, mereka pun tidak menderita secara pasif. Bahkan sejarah korea membuktikan bahwa kaum minjung adalah tiang penopang pertahanan korea ketika ada perang. Namun setelah perang berhenti, kaum minjung tersingkirkan dan dilupakan oleh bangsnya sendiri yang dari kalangan teratas. Bukan hanya diabaikan, dalm sejarah mereka setelah berhasil menyelamatkan bangsanya dari jajahan bangsa asing (tahun 1600an misalnya dari jepang), pernah kaum minjung justru mengalami penghianatan oleh bangsanya sendiri, dimana pada saat mereka menuntut hak mereka dengan revolusi, pemerintah yang kewalahan menyerahkan mereka untuk ditindas oleh tentara jepang yang sengaja dibiarkan pemerintah 1894 untuk berkuasa.
Minjung adalah mereka yang telah memprotes dan memberontak terhadap situasi mereka yang ditindas. Mereka selalu berusaha untuk melepaskan diri dari situasi yang sulit, menyengsarakan, di abaikan,tetapi seringkali perjuangan mereka ini justru mendatangkan penindasan yang lebih parah. Akibatnya para minjung tak berdaya dan menekan kerinduan mereka untuk keluar dari situasi seperti itu dan lebih baik mengungkapkan penderitaan mereka secara terbuka, lewat bahasa khusus, bahasa batiniah. Mereka dengan berbagai cara berusaha menunjukkan bahwa mereka berada dalam keadaan yang sulit dan membutuhkan belas kasihan.
Dalam “oh Yesus sini bersama kami” menggambarkan satu keadaan si kusta yang tidak berdaya, yang menderita adalah satu keadaan yang sengaja di kondisikan, dimana ia di didik untuk diam saja ketika dia diperlakukan secara tidak adil. Sekalipun ia tahu Yesus, tetapi Yesus yang diberitakan kepadanya bukanlah Yesus pembebas, tetapi Yesus yang adalah dari kalangan kelas atas, dan mengajarkan “berilah pipimu untuk ditampar”. Yesus yang bermahkota emas ini (yang sebenarnya hanyalah patung)berada di tengah-tengah para uskup yang mewah. Tetapi di dalam usahanya untuk meminta pendapat Yesus tentang dirinya, ia menemukan bahwa Yesus adalah turut berjuang untuk kebebasannya dan teman-temanya yang adalah pengemis dan kaum miskin. Penemuannya ini membangkitkan semangat dan pengharapannya kembali, sebab ternyata Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka merasakan penderitaanya dan turut berjuang untuk pemulihan.
Dengan keberadaan Yesus yang ada di pihak mereka, Yesus telah menjadi jawaban bagi kaum lemah, dimana semangat mereka dibangkitkan kembali oleh karena Yesus ada bersama mereka. Lebih singkatnya, sosok Yesus yang mereka kenal, telah mengubah pola pikirnya untuk bangkit dari kelemahannya sendiri, dan dengan demikian Yesus mentransformasi hati mereka.

Siapa Yesus bagi orang Kristen yang adalah agen transformasi
Orang Kristen, tugas utamanya adalah sebagai agen transformasi yang bertugas sebagai pembawa berita Yesus yang menjadi jawaban. Tetapi sebelum menjawab lebih jauh secara teologis bagaimana Yesus harus menjadi jawaban bagi pergumulan orang miskin di Indonesia, penting untuk memikirkan terlebih dahulu tentang siapakah Yesus bagi kita sendiri. Teologi mempunyai banyak atribut tentang pribadi Yesus. Yesus adalah juruselamat. Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah mesias. Yesus adalah raja. Yesus adalah manusia. Yesus adalah guru. Yesus adalah sahabat. Yesus adalah bapa kita. Yesus segala-galanya. Siapakah Yesus bagi diri teolog sendiri? setelah itu baru ia dapat memikirkan Siapakah dan seperti apakah Yesus bagi orang-orang Kristen di Indonesia/ kita?
Ternyata, di dalam gambaran Song, Yesus yang sama bisa berbeda di hadapan orang. Ketika pertanyaan ‘siapakah Yesus’ di lontarkan kepada pendeta, jemaat awam, teolog, orang miskin dan mahasiswa teologi, mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda, sesuai tuntutan pribadi masing-masing. Maka ketika orang Kristen berbicara mengenai Yesus, maka Yesus yang ia tampilkan juga adalah Yesus yang sesuai dengan pandangannya sendiri. tetapi melihat hal ini, artinya dengan demikian ini menunjukkan bahwa seharusnya hal ini juga membuktikan bahwa Yesus telah bisa menjadi jawaban bagi setiap mereka yang mengaku tentang siapa Yesus bagi mereka (kecuali kalau ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah musuh). Dengan begitu kita bisa bertanya; kalau Yesus bisa menjadi jawaban bagi kita, dapatkah ia juga menjadi jawaban bagi orang-orang miskin itu?
Dengan pengenalan yang benar terhadap Yesus, tugas yang berikutnya adalah, bagaimana dengan gambaran Yesus yang dikenal setiap pribadi ini dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Bagaiman setiap orang benar-benar hidup dengan iman. Tugas sebagai orang peracaya yang tidak bisa tidak adalah: merumuskan dan menyusun dan menyatakan dengan tegas iman yang kita dapat hayati, dan belajar untuk hidup di atas iman yang kita hayati, dan juga belajar untuk hidup atas dasar iman yang kita bangun dan nyatakan dengan jelas.

Yesus bagi kelas bawah di Indonesia
Banyak orang Kristen masa kini bertindak seolah-olah adalah mungkin untuk mebagi-bagikan Yesus, di satu sisi menerima Yesus menjadi Juruselamat pribadiNya namun disisi lain mengabaikan-Nya sebagai Tuhan. Namun Yesus Kristus adalahpribadi yang utuh. Oleh sebab itu, orang-orang percaya harus menerima-Nya secara utuh sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak dengan dengan terbagi-bagi.
Yesus membebaskan banyak orang dari kemiskinan dan penderitaan fisik di jamannya, walaupun tidak ada catatan bahwa Yesus menghapuskan kemiskinan seluruhnya, dan Tuhan tidak selalu memberikan apa yang diinginkan atau diminta orang banyak. Tetapi Yesus seringkali sangat mengistimewakan perhatiannya kepada orang-orang miskin dan lemah, bahkan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang-orang tersebut. Mat 25:35-46. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; Ini menunjukkan keprihatinan Yesus yang sangat mendalam terhadap orang-orang yang terabaikan, dan tugas ini diserahkan kepada gereja. tetapi yang tetap akan menjadi pertanyaan adalah “dapatkah gereja di Indonesia benar benar menjadi gereja untuk kaum miskin,ikut serta dalam masalah-masalah dan kesengsaraan kaum miskin, dan hidup dalam solidaritas bersama mereka? Mungkinkah gereja mulai ikut ambil bagian dalam mengalami nasib dan perjalanan kaum miskin di Indonesia yang pada saat yang sama berjuang untuk mencapai kemanusiaan sempurnanya? Masih mungkinkah bagi gereja-gereja di Indonesia hidup menderita bersama rakyat yang menderita?”

KESIMPULAN
Kristologi memberikan jawaban bagi orang-orang yang tertindas di Indonesia. Di mana di dalam Kristus kita mendapatkan semuanya apa yang kita inginkan walaupun tidak langsung di jawab pada saat kita memintanya, tetapi akan dijawab pada waktu yang sudah ditentukan oleh Allah. Keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia sudah merupakan jawaban dari segalanya yang dialami oleh orang-orang di Indonesia, di mana dengan keselamatan yang dari pada-Nya, semua orang yang tertindas telah mengalami kebebasan di dalam Dia, Dia telah membebaskan semuan umat manusia dari penderitaan, kemiskinan, bahkan penindasan tesebut sekalipun.