Selasa, 18 Maret 2014

Krisis Kepemimpinan dalam Gereja-Gereja Masa Kini (Deskriptif Analisis Terhadap Kepemimpinan Rohani di Indonesia)

I. PENDAHULUAN

Integritas adalah modal utama seorang pemimpin, namun sekaligus modal yang paling jarang dimiliki oleh pemimpin. Integritas ialah keadaan dimana sesuatu sama dan lengkap dalam suatu kesatuan. Artinya : “Kata-kata saya sesuai dengan perbuatan saya, kapanpun dan dimanapun saya berada”. Orang yang berintegritas ialah orang yang punya prinsip, orang yang memiliki kepribadian yang teguh dan mempertahankannya dengan konsisten. Integritas berbeda dengan image. Image adalah apa yang orang pikir tentang siapa dirinya sendiri. Image adalah persepsi orang terhadap pribadi orang lain. Integritas adalah siapa pribadi seseorang sesungguhnya.
Alasan-alasan mengapa integritas begitu penting :
(1)     Integritas membina kepercayaan (trust) – seseorang yang memiliki integritas dan mempertahankannya akan mendapat kepercayaan yang besar dari orang lain.
(2)     Integritas punya pengaruh yang sangat tinggi bagi para pengikut – pemimpin yang berintegritas sangat dikagumi dan diteladani oleh pengikutnya.
(3)     Integritas memiliki standar yang tinggi – pemimpin yang berintegritas harus hidup dengan standar yang lebih tinggi daripada pengikutnya.
(4)     Integritas menghasilkan reputasi yang kuat, bukan hanya citra – citra adalah apa yang dipikirkan orang tentang kita, tetapi integritas adalah diri kita sesungguhnya.
(5)     Integritas berarti menghayati sendiri sebelum memimpin orang lain – sebelum kita mengajarkan atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu kita harus terlebih dulu hidup di dalamnya.
(6)     Integritas adalah prestasi yang dicapai dengan susah payah – integritas adalah hasil dari disiplin pribadi, kepercayaan batin, keputusan yang konsisten dan komitmen yang kuat sepanjang hidup.
Integritas merupakan suatu kata yang tidak asing lagi di dalam kehidupan orang-orang pada masa kini. Tetapi banyak pemimpin yang jatuh didalam kepemimpinannya karena kurang memperhatikan integritasnya sebagai pemimpin. Integritas itu sudah dianggap tidak penting lagi dalam kehidupan setiap orang. John Maxwell di dalam buku “Menjadi Orang Yang Berpengaruh” mengatakan “Tampaknya banyak orang memandang integritas sebagai ide yang sudah ketinggalan zaman, sesuatu yang boleh dibuang atau tidak lagi berlaku di dunia yang berpacu cepat ini”.
Integritas memang bukan suatu yang mudah untuk dimiliki seseorang. Dalam kamus bahasa Indonesia mengartikan integritas itu sebagai suatu keutuhan, kejujuran, penyatuan supaya menjadi suatu kebulatan atau menjadi utuh. Integritas memiliki pengertian yang mendalam untuk setiap pemimpin. integritas yang tinggi menuntut para pemimpin untuk bersifat terbuka dan jujur.
Jika integritas seorang pemimpin tidak kuat, maka kala badai tekanan datang, runtuhlah kepemimpinan yang sudah dibangun. Tetapi jika seorang pemimpin memiliki integritas, maka sekuat apa pun badai tekanan datang, ia tetap menjadi seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan menangani kerumitan dari setiap permasalahan yang ada berdasarkan integritas. Integritas terlihat katika ada tantangan yang melanggar kode etik dan cara menyelesaikan kerumitan persoalan yang sedang dihadapi. Melalui pengamatan dari penulis, integritas ini sangat penting sehingga dalam paper ini penulis ingin memaparkan apa itu kepemimpinan, dan bagaimana integritas kepemimpinan Kristen.

II. DEFINISI KEPEMIMPINAN
           
Pemimpin ialah seorang yang mengetahui tujuannya dengan jelas (dan mempunyai keyakinan pribadi tentang tujuan itu), serta mampu mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang lain untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif.[1] George Barna dalam bukunya Leaders on Leadership mengutip penjelasanWarren Bennis dan Burt Nanus bahwa, “Kepemimpinan adalah melakukan segala sesuatu dengan benar.” Sedangkan J. Oswald Sanders berpendapat bahwa, “Kepemimpinan adalah pengaruh.”Garry Wills mengatakan, “kepemimpinan adalah mengarahkan orang lain menuju tujuan yang diperjuangkan bersama oleh pemimpin dan pengikut-pengikutnya.”[2] Stogdill mendefinisikan kepemimpinan sebagai “proses mempengaruhi aktivitas suatu kelompok yang terorganisasi dalam usahanya untuk mencapai penetapan tujuan dan pencapaian tujuan.[3]
     Dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Kristen yang Berhasil,” Charles R. Swindoll mengemukakan bahwa: “Kepemimpinan yang sejati ditandai dengan adanya kerajinan dan ketekunan ditengah-tengah tugas yang di percayakan kepadanya.”[4]  Poctafianus mengatakan bahwa:  “Pemimpin Kristen yang baik adalah pemimpin yang dapat memperkaya kepribadian orang yang dipimpinnya.”[5] Tuhan telah menyediakan bagi kita pemimpin-pemimpin tahun demi tahun untuk berusaha membimbing umat-Nya maju secara rohani. Joyce Meyer mengatakan dalam bukunya yang berjudul Pemimpin yang Sedang Dibentuk bahwa: “Kunci kebahagiaan dan kepuasan bukan dengan mengubah situasi dan kondisi kita, tetapi dengan mempercayakan Allah untuk mengerjakan rencana-Nya yang baik dalam hidup kita sampai kita melihat hasilnya.”[6] Kepemimpinan secara rohani adalah kepemimpinan yang bertumbuh dalam urapan Roh Kudus (menangani kehidupan orang Kristen secara rohani). Pada dasarnya kita dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, baik memimpin orang-orang yang Allah percayakan untuk dipimpin,juga menjadi seorang yang cakap memimpin diri sendiri.
Banyak para pakar kepemimpinan sekuler memberikan definisi yang berbeda tentang kepemimpinan, beberapa diantaranya adalah:[7]
1.      Kepemimpinan adalah perilaku individu yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama.
2.      Kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin.
3.      Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran.
4.      Kepemimpinan adalah proses memberi tujuan ke usaha kolektif yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan.
5.      Kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat orang memahami manfaat bekerja sama dengan orang lain sehingga dimengerti dan mau melakukan.
6.      Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi individu, memotivasi, membuat orang lain mampu memberi kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi.
7.      Kepemimpinan merupakan proses timbal-balik antara yang memimpin dengan yang  dipimpin.
Melalui definisi di atas dapat dilihat bahwa kepemimpinan dilihat dari sekuler merupakan hanya sebatas pencapaian visi, misi, sukses, keuntungan dan target. Sedangkan pemimpin Kristen memberikan definisi tentang kepemimpinan itu lebih pada transformasi kehidupan orang-orang yang dipimpin ke arah keserupaan dengan gambar Khaliknya di mana manusia dibawa untuk mengerjakan visi dan misi Tuhan bagi dunia ini apapun bidang kehidupannya dan pekerjaannya. [8]

Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Kristen
Seorang pemimpin seharusnya menjalani kehidupan yang patut di contoh, baik bagi orang Kristen maupun non-Kristen. Seorang pemimpin harus bersih dalam hal moral, menjaga kebenaran menurut standar Allah. Seorang pemimpin harus hidup dengan penuh iman, menunjukkan harapan dan mewujudkan kasih sejati yang alkitabiah dalam setiap hubungan. Seorang pemimpin harus menjalani kehidupan yang tertib, sehingga injil menjadi menarik bagi orang-orang yang belum percaya. Seorang pemimpin harus dapat mengontrol dan menguasai dirinya dalam segala keadaan.
Kepemimpinan adalah pengaruh. Setiap pemimpin pasti memiliki dua karakteristik ini: ia sedang menuju suatu tempat dan ia mampu membujuk orang lain untuk pergi bersamanya.  Pengaruh harus diukur untuk menentukan kualitasnya. Apakah pemimpin tersebut memiliki pengikut karena posisinya, artinya pemimpin menggunakan kekuatan dari jabatan yang di sandangnya, atau pemimpin banyak diikuti karana keberadaannya. Artinya bahwa pemimpin melebihi organisasi itu dan telah mengembangkan orang orang yang mengikutinya itu dengan sekala kelas dunia.
Kualitas dari seorang pemimpin diukur dari kualitas yang dimiliki para pengikutnya. Sebab kualitas seorang pengikut mencerminkan kualitas pemimpinnya pula. Pada dasarnya setiap hari setiap orang dapat menjumpai adanya praktek-praktek kepemimpinan dimanapun setiap orang itu berada. Baik didalam organisasi dimana setiap orang dapat menjadi bagian didalamnya, di dalam pemerintahan suatu negara, bahkan dilingkungan masyarakat dimana tinggal, praktek-praktek kepemimpinan selalu menjadi bagian dari sebuah metode dimana pencapaian sebuah tujuan dapat diraih didalamnya. Permasalahannya adalah bagaimana seorang pemimpin mampu memberikan dampak atau pengaruh bagi kepemimpinannya. Melalui pengaruh-pengaruh itu akan dapat dilihat kualitas serta keberhasilan yang di capai dalam kepemimpinan tersebut.
Para pemimpin dalam beberapa organisasi tidak mengenali pentingnya menciptakan suatu keadaan yang menghasilkan pengembangan calon-calon pemimpin. Hanya pemimpinlah yang dapat mengendalikan lingkungan organisasi mereka. Mereka dapat menjadi pemicu perubahan yang menciptakan suatu keadaan yang mengasilkan pertumbuhan.
Ada 4 (empat) hal utama yang perlu dibangun sebagai jalan panjang persiapan pemimpin Kristen untuk meneladani karakter dan integritas Kristus menjadi pemimpin yang berintegritas, yaitu : [9]
(1)     Kristus sebagai model - Ketuhanan Kristus, yaitu menjadikan Yesus sebagai Tuhan dalam setiap keputusan kehidupan
(2)     Injil sebagai dasar – keyakinan akan Injil sebagai dasar dari kehidupan menuntut untuk memahami firman Tuhan sebagai dasar dalam setiap keputusan yang akan diambil. Injil bukan hanya mengubah diri tetapi juga akan menjadi daya pengaruh terhadap orang di sekitar.
(3)      Tubuh Kristus sebagai tujuan panggilan – akan mengubah seluruh prioritas dan strategi hidup. Sasaran dan perencanaan kepemimpinan tidak lagi berorientasi kepada diri sendiri saja tetapi kepada amanat yang Tuhan percayakan.
(4)     Kehidupan yang terus-menerus menyerupai Kristus – hidup dengan gaya hidup yang menyerupai Kristus adalah pengejawantahan dari kepemimpinan yang berpusatkan Kristus.
Dari beberapa karakteristik utama seorang pemimpin : karakter, kepedulian, komunikasi, kompetensi, komitmen dan keberanian (character, caring, communication, competence, commitment dan courage), karakter atau integritas adalah yang paling utama. Integritas yang sejati haruslah beralaskan kehidupan kerohanian yang sehat.
Peran pemimpin sangat besar dalam menentukan maju mundurnya suatu lembaga atau organisasi, baik sekuler maupun rohani, baik besar maupun kecil, bahkan bangsa dan negara.[10]
1.      Kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengerahka orang laki-Iaki dan perempuan untuk 'satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan (Lord Montgomery)
2.      Seorang pemimpin adalah Qrang yang mengenal jalan, yang dapat terus maju dan yang dapat menarik orang lain mengikuti dia (Dr.John R.Mott)
3.      Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk buat orang lain suka melakukan sesuatu yang tadinya mereka tidak suka melakukan ( PresidenTruman)

Tujuan Kepemimpinan
1.      Membawa umatnya ke tempat yang dikehendaki Allah.
2.      Menikmati Damai Sejahtera Allah dalam organisasi/lembaga yang dipimpinnya.
3.      Membawa umatnya kepada visi, misi, sasaran dan tujuan organisasi.

Tiga Gaya Kepemimpinan

Agar dapat menjalankan tugasnya, setiap pemimpin diberi wewenang atau kekuasaan. Dengan wewenang itu ia membimbing, mengarahkan menggerakkan mereka yang dipimpinnya menuju ke tujuan dan cita- cita bersama. Cara mempergunakan wewenang dapat berbeda satu dengan yang lain pemimpin - dan perbedaan ini menciptakan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda pula, yaitu gaya otokratis, gaya liberal dan gaya demokraktis .

1.      Gaya kepemimpinan otokratis :
Pemimpin ini, dalam usahanya membawa mereka yang dipimpinnya menuju ke tujuan dan cita-cita bersama, ia memegang kekuasaan secara mutlak. Ia bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai. Gaya kepemimpinannya. acapkali dikatakan juga sebagai gaya pemimpin diktator. Gaya kepemimpinan ini hanya baik untuk situasi-situasi di mana keadaan betul-betul kritis atau untuk situasi yang kacau demi pulihnya ata kehidupan yang aman.
Biasanya gaya otokratis, ditandai dengan dua hal
a.       mengatakan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh mereka yang dipimpinnya;
b.      menjual gagasan dan cara kerja kepada kelompok orang yang dipimpinnya.

2.      Gaya Kepemimpinan Liberal
Pemimpin disini tidak merumuskan masalah serta cara pemecahannya. Dia membiarkan saja mereka yang dipimpinnya menemukan sendiri masalah yang berhubungan dengan kegiatan bersama dan mencoba mencari cara pemecahannya.
Gaya ini sangat bertolak belakang dengan gaya yang sebelumnya, otokratis. Dalam gaya Liberal in;, tugas pemimpin sekedar menjaga agar mereka yang dipimpinnya berbuat sesuatu - terserah mereka pa yang mau dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Gaya ini hanya baik untuk kelompok orang yang betul-betul telah dewasa dan betul-betul insyaf akan tujuan dan cita-cita bersama, sehingga mampu menghidupkan kegiatan bersama.
Gaya ini juga baik untuk kelompok orang yang berkumpul bukan untuk membicarakan hal-hal yang serius, melainkan untuk usan bersantai bersama, semacam malam keakraban, reuni atau session, yang tidak minta tanggung jawab besar.

3.      Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya ini menciptakan suasana demokratis. Dalam gaya ini, pemimpin memperlakukan yang dipimpinnya sebagai sejajar. Batas pemimpin dan bawahan menjadi kabur. Menyajikan masalah serta cara pemecahannya kepada mereka yang dipimpinnya. Mengajak mereka yang dipimpinnya untuk merumuskan masalah dan cara pemecahannya.


III.  INTEGRITAS KEPEMIMPINAN KRISTEN

Ada tiga ciri integritas yang sangat penting, yaitu :[11]
a.         Ketulusan : Motivasi Yang Murni
b.        Konsistensi : Menjalani Kehidupan Sebagai Suatu Keseluruan
c.         Keandalan : Mencerminkan Kesetiaan Allah
Hal-hal lainnya yang menunjukkan ciri-ciri diatas terkait dengan integritas adalah :
-       Kekudusan
-       Kesalehan
-       Kesederhanaan
-       Apa adanya
-       Tulus ikhlas
-       Tidak licik
-       Bukan Penipu
-       Spontan
-       Jujur
-       Tidak Berpura-pura
-       Transparansi
-       Keterbukaan
-       Keterusterangan
-       Ketulusan hati
-       Konsisten dalam semua situasi dan kondisi
-       Konsisten dalam berkomunikasi
-       Konsisten dalam mengatur semua urusan
-       Setia kepada Allah
-       Akuntabilitas kepada Allah
-       Akuntabilitas kepada orang lain
-       Akuntabilitas teradap diri sendiri
-       Melayani orang lain
-       Kasih yang berkorban
-       Kepedulian seperti orang tua kepada anaknya
-       Tidak ada penipuan
-       Tidak ada penyimpangan
-       Merendahkan diri
-       Tidak meninggikan diri
-       Menggunakan otoritas
-       Membangun Komunitas
-       Menangani Kegagalan
-       Integritas Sebagai Cara idup
             
Kepemimpinan rohani memiliki dua dimensi, yaitu “Perintah Allah” sebagai dimensi Illahi dan “Tanggapan manusia atas pilihan dan perintah Allah” sebagai dimensi manusia. Sebagai pemimpin Kristen yang baik, haruslah memerhatikan segi “dimensi manusia” dengan menjaga “integritas” kehidupan, karena Allah selalu memilih manusia dengan “integritas” yang baik.[12]
Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tidak akan meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (2 Korintus 3:2).[13] Beberapa ciri integritas seorang pemimpin Kristen: pertama, hidup sesuai dengan apa yang diajarkan; kedua, melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan; ketiga, jujur dengan orang lain; keempat, memberikan yang terbaik bagi kepentingan orang lain atau organisasi daripada diri sendiri; kelima, hidup secara transparan. Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, melainkan dikembangkan secara satu per satu dalam kehidupan kita, melalui kehidupan yang mau belajar dan keberanian untuk dibentuk oleh Roh Kudus. Itu sebabnya, seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia, dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak pada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, melainkan pada tidak adanya integritas pada diri pemimpin.
Integritas merupakan ciri utama seorang pemimpin, sebagaimana diungkapkan oleh Dwight D. Eisien Hower, "Kualitas utama pemimpin adalah integritas". Selain modal utama, integritas juga merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin.[14]
Integritas dapat disimpulkan sebagai keutuhan yang melibatkan seluruh aspek kehidupan yang dinyatakan dalam kesatuan antara perkataan dan perbuatan, di mana apa katakan oleh pemimpin itulah yang dilakukannya, sehingga ia dapat dipercaya, disegani dan dihormati oleh orang-orang yang dipimpinya. Integritas bagi seorang pemimpin merupakan alat yang sangat kuat untuk memimpin dan dapat meningkatkan kredibilitasnya di mata orang-orang yang dipimpinnya. Ciri-ciri integritas yang sangat penting menurut Jonatahan Lamb, yaitu: 1) Ketulusan: motivasi yang murni, 2) Konsistensi: menjalani kehidupan sebagai suatu keseluruan, dan 3) Keandalan: mencerminkan kesetiaan Allah.
Integritas tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin dekat dengan Tuhan, maka ia kecenderungannya memiliki integritas. Tetapi jika seorang pemimpin jauh dari Tuhan, maka kecenderungan hatinya dikuasai oleh kedagingan. Berkenaan dengan hal ini, Jerry Bridges menyatakan bahwa supaya kita kuat melawan godaan dan pencobaan sebagai seorang gembala (pemimpin), maka kita perlu minta Tuhan untuk membuat kita selalu dekat dengan Dia, untuk memberi kita hati yang mudah dibentuk. Jika kehidupan pikiran kita sudah mulai melenceng, atau jika kita mulai berdalih untuk membenarkan dosa, kita ingin Tuhan menegur dan membuat kita dekat pada-Nya. Karena jika kita tidak disiplin hidup dekat dengan Tuhan, maka hidup kita akan hancur seperti yang dikatakan oleh Bridges “Jika kita menyepelekan hal-hal kecil, hal-hal besar akan mengganyang kita—bahkan mungkin menghancurkan hidup kita yang sebenarnya bisa menjadi kesaksian sekaligus merusak hubungan kita dengan Tuhan.” [15]
Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang terjadi atas panggilan dan pilihan Allah kepada setiap orang untuk tampil sebagai pemimpin. Kita dapat baca dalam Kitab Raja-Raja. Pemimpin Kristen terpanggil oleh Allah dengan Integritas Kepemimpinan yang Lengkap untuk Memimpin. Allah berdaulat menetapkan dan memilih setiap pemimpin Kristen pada pelayanan untuk memimpin. J. Robert Clinton yang mengatakan bahwa, “Pemimpin Kristen ialah seseorang yang dipanggil Allah sebagai pemimpin, yang ditandai dengan kapasitas memimpin, tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah (gereja), untuk mencapai tujuan-Nya bagi dan melalui kelompok ini”[16]
Maxwell menyatakan bahwa integritas penting karena pertama, integritas membina kepercayaan. Seorang pemimpin yang berintegritas akan mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya. Kedua, integritas punya nilai pengaruh tinggi. Bukan apa yang kita katakan berpengaruh terhadap orang lain, tetapi apa yang kita lakukan lebih berpengaruh kepada orang lain. Ketiga, integritas memudahkan standar tinggi. Seorang pemimpin yang berintegritas dapat memikul tanggung jawab lebih daripada para pengikutnya. Keempat, integritas menghasilkan reputasi yang kuat, bukan hanya citra. Citra dapat membuat kita memanipulasi diri kita supaya kelihatan baik, tetapi integritas menyatakan diri kita yang sesungguhnya. Kelima, integritas berarti menghayatinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Seorang pemimpin yang berintegritas lebih mementingkan proses daripada hasil. Keenam, integritas membantu seorang pemimpin dipercaya, bukan hanya pintar. Pemimpin yang berhasil tidak harus memerlukan kecakapan dan kepintaran yang luar biasa tetapi mengharuskan integritas di dalam hidupnya. Terakhir, integritas adalah prestasi yang dicapai dengan susah payah. Integritas mencerminkan disiplin diri, keyakinan batin, dan keputusan untuk jujur sepenuhnya dalam segala situasi di dalam kehidupan kita. (Mengembangkan Kepemimpinan.., 41-49).
Integritas bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dibangun. Integritas membutuhkan usaha sepanjang hidup. Tidak bisa dikatakan bahwa setiap orang memiliki integritas dan dengan sekejap saja setiap pribadi menjadi orang yang berintegritas. Kuncinya memiliki integritas adalah bagaimana seseorang memiliki hati yang jujur, tulus dan benar. Integritas adalah ciri khas orang yang dipanggil Allah untuk menjadi perpanjangan tangan Allah. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kata Integrity dalam Alkitab diterjemahkan sebagai Kejujuran. Artinya, menjaga diri dan waspada dari segala kebohongan dan kemunafikan. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus menjaga dirinya sendiri dalam arti seorang pemimpin tidak mata duitan; hidup dalam pengorbanan (Kis. 20:33). Ia seorang yang selalu giat dan tekun dalam melaksanakan pelayanannya (Kis. 20:26). Kita tidak dapat mengukur kerohanian orang lain, tetapi dapat mengukur kerohanian dirinya sendiri. Poctafianus dalam bukunya Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah mengatakan: “Seorang pemimpin rohani harus menyadari keadaan rohaninya sendiri.”[17]
Dengan demikian setiaap orang dapat menolong orang lain dan dapat berbicara kepada orang lain dengan tidak berlebihan dan tidak merendahkan diri. Yang dimaksudkan adalah adanya kehidupan yang terbuka dengan orang lain. Terbuka bukan berarti kompromi. Sebab kompromi akan mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam mencapai tujuan. Dengan demikian segala sesuatu dalam diri seorang pemimpin rohani diukur dari segi rohaninya sendiri. Ketika seorang pemimpin rohani gagal dalam hal kerohanian, maka akan lebih baik jika ia mengakui kegagalannya itu. “Pengakuan yang jujur menolong orang lain mengerti bahwa seorang pemimpin bukanlah seorang Superman.”[18]
Poctafianus juga menceritakan bagaimana dalam hidupnya sebagai seorang pelayan Tuhan pernah menyadari bahwa dirinya secara tidak langsung telah mencuri kemuliaan Allah. Saat dimana hidup pelayanannya tidak memiliki integritas yang benar dihadapan Allah. Kemudian disuatu malam Allah berbicara didalam dirinya dan menyuruhnya untuk mengakuinya dihadapan orang-orang Jerman dan Perancis pada suatu malam, bahwa ia telah melakukan kesalahan dihadapan Allah. Ia mengatakan bahwa ketika setelah dirinya mengakui kesalahan itu, Allah tidak membuat wibawanya hilang. Justru setelah pengakuannya yang jujur itu ia dapat berkotbah dengan urapan Allah.[19]
Kejujuran adalah satu hal terpenting yang benar-benar harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Akibat dari sikap kejujuran ini adalah adanya sebuah kepercayaan yang ditaruh oleh para pengikutnya sehingga kepemimpinan itu dapat terus berkembang dan menghasilkan generasi kepemimpinan baru yang sehat. Seorang pemimpin rohani dihormati karena wibawanya. Banyak orang Kristen menghormati seorang pemimpin rohaninya karena ia menganggap hal itu adalah penting. Bahkan ada banyak gereja yang sampai hari ini secara tidak langsung, sadar atau tidak disadari telah mengkultuskan seorang pemimpin rohani melebihi Allah mereka sendiri.
Hal ini cukup beralasan, karena hal demikian sudah menjadi hal yang lumrah. Akan tetapi perlu disadari juga bahwa hal ini adalah sebuah fenomena yang sebenarnya tidak alkitabiah. Kepemimpinan seorang manusia tidaklah untuk hal demikian, sebab esensi dari kepemimpinanitu sendiri adalah menjadikan orang-orang yang dipimpinnya menjadi serupa dengan Kristus. Kemungkinan atas dasar pengurapan Allah yang mengalir atas diri seorang pemimpin maka ada banyak orang Kristen mengagungkan seorang pemimpin melebihi esensi dari pengurapan itu sendiri. Sebab pengurapan itu sendiri merupakan akibat dari integritas yang dimiliki seorang pemimpin sehingga membuat wibawa seorang pemimpin muncul kepermukaan.
Integritas sangat memiliki peran yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab dengan integritas seorang pemimpin dihormati. Integritas akan membuat seorang pemimpin tetap berada pada posisi yang sebenarnya, segala sesuatu yang dikerjakan oleh seorang pemimpin yang di landasi integritas yang benar akan membuahkan hasil yang optimal. Dalam buku yang di tulisnya, Poctafianus mengatakan bahwa: “Kejujuran rohani menimbulkan kepemimpinan yang berwibawa didalam pengurapan Allah.”[20] Oleh sebab itu perlu di sadari bahwa integritas seorang pemimpin sangat perlu untuk terus dikembangkan, sehingga kepemimpinan yang sedang dikembangkan itu dapat berjalan dengan maksimal dan membawa tim yang di pimpinnya itu kepada sebuah tujuan yang telah diciptakan didalam program kerja yang telah di tentukan.
Integritas (integrity) berasal dari kataintegrare (Latin) yang berarti: to make whole atau kurang lebih punya arti: membuatnya utuh atau menyatu. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Integritas diartikan sebagai keterpaduan, kebulatan, keutuhan, jujur dan dapat dipercaya. Ini berarti bahwa orang yang memiliki integritas adalah orang yang memiliki keutuhan yakni satunya kata dan tindakan, jujur dan dapat dipercaya. Dapat dikatakan juga, sebagai nilai moral, integritas adalah seseorang yang sama baik di dalam maupun diluarnya. Tidak berbeda antara yang diucapkan dan yang dikerjakannya. Tidak ada penyimpangan antara yang dikatakan dengan yang dilakukan. Hidup dan gaya hidupnya adalah seperti sebuah buku yang terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang.[21]
Kepemimpinan adalah sebuah persoalan kompleks yang tidak dapat didefinisikan dalam satu kalimat pendek. [22] Bentuk kepemimpinan ini selalu berbeda dalam beragam situasi di mana setiap orang memperlihatkan kualitas-kualitas kepemimpinan yang berbeda. Kepemimpinan seseorang dipengaruhi dari banyak aspek baik dari aspek kepribadian individu, juga dari aspek luar dari orang-orang yang pernah menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu mempengaruhi kontekstualisasi yang berfokus pada tantangan-tantangan kepemimpinan yang muncul.
Kepemimpinan membutuhkan banyak pengetahuan dan latihan  kedisiplinan.[23] Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin adalah adanya sifat yang berhubungan dengan intelegensia termasuk pengetahuan, ketegasan, dan kelancaran berbicara.[24]Pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan tertentu merupakan suatu faktor penting dalam keefektifan seorang pemimpin.Wawasan yang luas juga menjadi faktor pendukung yang menonjol bagi seorang pemimpin. Kata wawasan (pandangan) diterjemahkan dari kata Ibrani yang arti dan pengertian sebenarnya adalah “menjadi hati-hati, bijaksana,” yaitu menjadi berhikmat dan bijaksana serta memiliki pengaruh kedepan.[25]
Kepemimpinan berarti cara memimpin, yang berasal dari kata dasar kata benda Pimpin yang berarti tuntunan, bimbingan, hasil memimpin dan kata kerja Memimpin yang berati mengepalai, mengetuai; memandu; memegang tangan seseorang untuk dibimbing dan ditunjukkan jalan; melatih, mendidik, mengajar agar dapat mengerjakan sendiri.[26]
Integritas ini dibutuhkan oleh siapa saja, tidak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Integritas sebagai pemimpin dapat membawa yang dipimpin menjadi lebih baik. Pemimpin yang memiliki integritas hanya akan berpikir bahwa dirinya itu melayani siapa saja yang dipimpinnya, bukan sebaliknya. Sedangkan seorang pengikut yang memiliki integritas berpikir bahwa dirinya harus melayani pemimpin selama pemimpin itu benar sesuai nilai prinsip dan moral. Dengan begitu akan terjadi pelayanan dua arah dimana akan menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Pemimpin yang melayani pengikut bisa menjadi adil. Hal ini membuat pengikutnya senang dan mengikuti apa yang diperintahkan karena mereka yakin bahwa pemimpin tersebut memiliki integritas dan lebih banyak benar.[27]
Integritas berhubungan dengan dedikasi atau pengerahan segala daya dan upaya untuk mencapai satu tujuan. Integritas ini yang menjaga seseorang supaya tidak keluar dari jalurnya dalam mencapai sesuatu. Seorang pemimpin yang berintegritas, tidak akan mudah korupsi atau memperkaya diri dengan menyalahgunakan wewenang. Seorang pengusaha yang berintegritas tidak akan menghalalkan segala cara supaya usahanya lancar dan mendapatkan keuntungan tinggi. Singkatnya, orang yang memiliki integritas tetap terjaga dari hal-hal yang mendistraksi dirinya dari tujuan mulia
Yakob Tomatala menambahkan sesuatu mengenai sebuah straregi dalam kepemimpinan, ia mengatakan bahwa: “Anda dapat menjadi pemimpin yang baik apabila anda mengerjakannya, yang dimulai dari diri sendiri.”[28] Mungkin kesalahan terbesar yang dilakukan orang ketika menentukan sebuah tujuan adalah mengkomitmenkan diri pada sebuah kegiatan yang sulit dilakukan didalam hidup dan gaya kerja yang ada sekarang. Rencana dan tindakan harus seirama dengan gaya hidup seorang pemimpin. Rencana pembelajaran yang mengandung langkah-langkah yang nyata dan praktis akan menghasilkan perbaikan yang sangat kuat.

Ciri-Ciri Pemimpin yang Berintegritas[29]
1.   Pemimpin yang memiliki ketulusan
Pemimpin yang tulus adalah pemimpin yang memiliki motivasi yang murni. Kemurnian dari motivasi pemimpin dapat ditunjukan melalui transparansi hidup, kerelaan hati dan keterusterangan.  Larry Keefauver mengatakan, bahwa “Pemimpin mempraktekkan apa yang pemimpin ucapkan, di balik pintu yang tertutup bersama orang lain, di tempat-tempat yang jauh dan dengan mereka yang paling karib dengan pemimpin. Pemimpin yang hidup transparan atau terbuka tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan atau ditakuti. Hidup mereka yang transparan bagai surat yang terbuka. Surat Paulus kepada jemaat Korintus, mengatakan “Kamu adalah surat pujian kami yang ditulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang (2 Korintus 3:3).” Paulus menegaskan bahwa kehidupan orang-orang percaya seharusnya dapat dilihat dan dikenali oleh orang-orang lain sebagai pengikut Kristus, demikian juga pemimpin dapat dikenali dengan baik oleh orang-orang yang dipimpinnya. 
Pemimpin yang berintegritas selalu memiliki kerelaan hati. Kerelaan hati yang diperlihatkan oleh pemimpin dapat dilihat ketika ia memberikan yang terbaik kepada organisasinya maupun orang-orang yang dipimpinnya. Pemberian yang terbaik dapat berupa waktunya, perhatiannya, tenaganya dan pikirannya untuk memajukan organisasi yang dipimpinnya tanpa menuntut imbalan yang harus ia terima. Pemimpin yang tulus akan senantiasa hidup dalam kejujuran. Kejujuran menyatakan satu kata satu perbuatan. Jonatahan Lamb mengatakan, “Pemimpin dengan integritas adalah seorang yang mempunyai kepribadian utuh dalam kata dan perbuatan.  Sebagaimana perilakunya di depan umum, begitulah kenyataan kehidupannya.  Sebagai seorang pemimpin, ia selalu melakukan apa yang dikatakannya dan mengatakan apa yang dilakukannya. Kejujuran dalam sikap adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan seorang pemimpin. Matius 5:37, mengatakan “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” 

2.   Pemimpin yang memiliki konsistensi
Integritas yang baik dalam diri pemimpin diwakili oleh tingkah laku yang baik.  Tingkah laku pemimpin dapat diukur dari apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan pada saat benar-benar sendirian.  John C. Maxwell mengatakan delapan puluh persen dari apa yang dipelajari orang datang melalui stimulasi visual, sepuluh persen melalui stimulasi pendengaran, dan satu persen melalui indera lainnya. Merupakan hal yang masuk akal bahwa semakin banyak pengikut melihat dan mendengar pemimpinnya konsisten dalam tindakan dan perkataan, akan semakin besar pula konsistensi dan loyalitas mereka.  Apa yang mereka dengar, mereka pahami.  Apa yang mereka liat, mereka percayai. Terlalu sering pemimpin berusaha memotivasi pengikutnya dengan sarana yang cepat mati dan dangkal, yang diperlukan orang bukanlah motto untuk dikatakan, melainkan teladan untuk dilihat.
Pemimpin yang memiliki konsistensi dapat dinyatakan melalui komunikasi. Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi yang dilakukan secara dua arah, di mana pemimpin tidak hanya  memikirkan dan menghendaki keinginan dan kemauannya yang didengar dan diterima oleh orang lain, tetapi ia juga harus bisa menerima keinginan dan kemauan dari orang lain. Kamunikasi dua arah menghindarkan pemimpin dari rasa superior dan dapat menjadi bahan evaluasi diri dalam mengembangkan kelebihan dan meminimalisasikan kekurangan-kekurangan yang ada. Komunikasi bukanlah sebagai sarana untuk memanipulisa orang lain untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri, tetapi komunikasi dapat dijadikan sebagai sarana oleh pemimpin untuk membangun, menguatkan, dan membawa orang yang diajak berkomunikasi untuk menemukan keadaan dirinya sehingga pada akhirnya mereka mau berkomitmen.
Pemimpin yang memiliki konsitensi dapat dilihat dari tanggung jawab dalam mengatur semua hal yang dipercayakan kepadanya. Pemimpin diperhadapkan kepada kegiatan-kegiatan rutin yang harus dikerjakan, seperti: memimpin rapat, menata administrasi, menerima telpon, menata organisasi, dan mengatasi berbagai konflik yang terjadi sehingga tidak ada waktu lagi buat diri dan keluarga.  Semua itu membutuhkan kerja keras sebagai bentuk tanggung jawab pemimpin. Pemimpin harus sadar bahwa apa yang dipercayakan kepadanya adalah kepercayaan yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. 

3.   Pemimpin yang pemiliki keandalan
Keandalan seorang pemimpin mencerminkan kesetiaan Allah.  Keandalan dapat ditemukan lewat kekudusan, kesetiaan, dan pengetahuan akan firman Allah dari kehidupan pemimpin.  Kekudusan berbicara tentang kerakter Allah, di mana Allah itu kudus dan Ia terpisah dari dosa.  Pemimpin harus hidup dalam kekudusan dengan demikian ia hidup dalam karakter Allah yang akan mendatangkan reputasi yang baik. Reputasi yang baik membuat pemimpin dapat diandalkan, demikian sebaliknya. Area yang sering kali menjadi tempat kejatuhan para pemimpin, yaitu: kedudukan, harta, dan seks. Selain kekudusan, pemimpin yang dapat diandalkan adalah pemimpin yang memiliki kesetiaan. Kesetiaan yang dimaksud adalah pemimpin memiliki loyalitas dan komitmen kepada Tuhan, organisasi, dan orang-orang yang dipimpin. Loyalitas dan komitmen pemimpin akan teruji melalui setiap tantangan dan hambatan dalam kepemimpinannya. 
Keandalan yang terakhir dari pemimpin adalah pengetahuan akan firman Tuhan. Pemimpin harus memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap akan firman Tuhan.  Bagi pemimpin Kristen, Alkitab adalah sumber utama dalam pengambilan keputusan. Itu yang terutama karena Roh Kudus, nasihat, dan hati nurani tidak bertentangan dengan Alkitab. Pemimpin perlu mendisiplinkan diri dalam mempelajari firman Tuhan.  Kedisiplinan itu dapat dilakukan melalui renungan pada saat teduh setiap pagi, studi Akitab, mengikuti seminar-seminar yang membahas tentang penyelidikan Alkitab, membaca buku-buku rohani yang menambah pengetahuan akan firman Tuhan.  Usaha-usaha ini akan menjadikan pemimpin sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh hikmat dalam mempimpin dan dalam pengambilan keputusan. 
Kekristenan sesungguhnya dituntut lebih dalam hal ini. Apalagi seorang pemimpin Kristen atau seorang hamba Tuhan dituntut untuk memiliki integritas karena dunia mennuntut dan menilai kita dalam hal integritas. Itulah sebabnya kalau ada seorang pemimpin Kristen atau seorang hamba Tuhan jatuh dan gagal dalam integritas maka hal ini jelas akan menjadi sorotan. Tentunya bukan mereka yang disoroti tetapi kita sebagai orang percaya juga dituntut hal yang sama baik oleh dunia dan terutama oleh Tuhan. [30]

IV. KESIMPULAN

Krisis integritas dewasa ini menjadi masalah besar dalam dinamika kehidupan manusia. Sangat sulit mencari orang yang saleh, benar, jujur, setia, tulus hati dan bertanggung jawab. Demikian juga sangat sulit mencari orang yang benar-benar punya komitmen terhadap nilai-nilai ideal-universal. Hal ini semakin menjadi-jadi, jika orang yang hendak dicari adalah pemimpin yang punya integritas dan komitmen. Ditengah sulitnya mencari orang yang berintegritas sekaligus berkomitmen, bukan berarti dua hal tersebut tidak dibutuhkan lagi. Justru muncul semacam paradoks, semakin sulit untuk dicari namun integritas dan komitmen semakin dibutuhkan.  
Kepemimpinan merupakan masalah yang mempunyai banyak segi di mana hal ini dapat dipandangan dari berbagai sudut pandang, baik dari segi cara pangangkatan, keresmian kedudukannya, kemmapuannya, dan gaya pelaksanaan kepemimpinannya.[31] Dalam kehidupan ini, ada beberapa kepemimpinan yang dipegang oleh seseorang, ada yang dengan kebetulan karena kepemimpinan diturunkan seperti zaman kepemimpinan para raja. Ada juga karena memiliki pangkat yang tinggi sehingga dipercayakan untuk menduduki satu pesisi pemimpin, serta ada juga ada beberapa kepemimpinan lain. 
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau tranformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out ).[32]






[1]Poctavianus, Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah,  (Malang: Gandum Mas, 1994), 55.
[2]George Barna, Leader on Leadership, (Malang: Gandum Mas, 2002), 22-23.
[3]Russell C. Swansburg, Laurel C. Swanburg, Pembangunan Staf Keperawatan (Jakarta: Gramedia), 317.
[4]Charles R. Swindoll, Kepemimpinan Kristen Yang berhasil, (Surabaya: Yakin),  42
[5]Poctavianus, Manajemen dan Kepemimpinan, 64.
[6]Joyce Meyer, Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, (Jakarta: Immanuel, 2007), 128.
[7] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral (Yogyakarta: Andi, 2010)128.
[8] Ibid, 130
[9] Jonathan Lamb, Integritas.Perkantas.2008.Hlm.31-32
[11]  Jonatahan Lamb, Integritas.(Jakarta : Perkantas – Divisi Literatur),2008.hlm.37-45.
[12] Bambang Yudho, How to Become A Christian Leader, (Yayasan Andi),2006,hlm.19.
[13]http://www.danielronda.com/index.php/kepemimpinan/56-mengembangkan-karakter-pemimpin-kristen.html
[14]http://www.danielronda.com/index.php/kepemimpinan/56-mengembangkan-karakter-pemimpin-kristen.html
[17]Poctavianus, Manajemen Dan Kepemimpinan, 75.
[18]Ibid., 76.
[19]Ibid., 77.
[20]Ibid., 77.
[22] Eddie Gibbs, Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang: Membentuk Dan Memperbarui Kepemimpinan Yang Mampu Bertahan Dalam Zaman Yang Berubag, (Jakarta: BPK Gunung  Mulia, 2012) 16.
[23]Russell C. Swansburg dan Laurel C. Swanburg, Pembangunan Staf Keperawatan (Jakarta: Gramedia), 316.
[24]Ibid., 317.
[25]Charles R. Swindoll, Kepemimpinan Kristen Yang berhasil (Surabaya: Yakin),190.
[26] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen (Jakarta : Prenada Media, 2005), 255.
[27] http//ridwanaz.com/umum/pengembangan-diri/pengertian-integritas-dan korelasinya dengan pemimpin
[28]Yakob Tomatala, Pemimpin yang Handal (Jakarta: Institut Filsafat Teologi dan Kepemimpinan Jaffray), 31.
[31] A.M. Mangunhardjana, Kepemimpinan, (Yogyakarta: Kanisius, 1976) 13.
Buku Kepemimpinan Kristen


1.      Membangkitkan Kepemimpinan Dalam Diri Anda (Awakenthe Leader Wihtin) oleh Bill Perkins (248 hal.)
Dalam buku ini menjelaskan tentang bagaimana setiap pembaca membangkitkan kepemimpinan yang ada dalam dirinya melalui teladan dari Yesus Kristus. Belajar memimpin dalam buku ini dikatakan sama seperti belajar menguasai sebuah alat musik di mana ada kord-kord, ada nada-nada dasarnyayang harus dipelajari, dilatih dan dikuasai. Dan untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif , itu sangat membutuhkan kerja keras dan kemauan yang sungguh-sungguh.
Buku ini dituliskan bagi kaum wanita dan pria yang ingin memimpin seperti Yesus. Semua tehnik dan strategi yang dipakai seseorang yang ingin menjadi pemimpin belajar dari tehnik dan strategi Yesus Kristus. Yang Dia pakai bukanlah dengan merekrut orang-orang hebat, tetapi menularkan kebaikan karakter dan keterampilan kepada tim-Nya yang nantinya akan menjadi pemimpin. Yesus Kristus memimpin dengan kejujuran, vizi, pengorbanan, dan cinta. Dan Dia menunjukkan kepada tim-Nya bagaimana memimpin yang efektif, dan mendorong setiap tim-Nya juga untuk dapat menjadi teladan dan mernulaarkan kepemimpinan itu kepada orang lain yang melihat kepemimpinan mereka.
Seorang pemimpin itu memiliki integritas. Integritas yang dimaksudkan adalah seperti Yesus Kristus dikatakan bahwa Dia tidak berubah dahulu, sekarang dan semalanya. Dari kata ini dikatakan bahawa Yesus Kristus tidak berubah dan dari kata inilah dapat kita ketahui bahwa Dia berintegritas. Di mana kata ini menunjukkan pada seseorang yang utuh atau komplit. Seorang yang berintegritas tidak seperti gejolak iklim yang berubah arah setiap kali terjadi gejolak sosial. Melalui hal ini kita bisa melihat seorang pemimpin yang berintegritas tidak berpura-pura atau tidak memakai topeng melainkan itulah kenyataannya. Tetapi bukan berarti seorang pemimpin itu makhluk sempurna, pasti tidak melainkan ketika mereka memiliki kelemahan-kelemahan, mereka menyadari kelemahan-kelemahannya dan tidak ingin membuat orang lain meyakini bahwa mereka tidak memiliki kekurangan pribadi. Seorang pemimpin itu memiliki integritas secara konsisten menjalankan etika dan mereka tidak takut jika ada pemeriksaan.
Seorang pemimpin yang bijaksana memimpin dengan tidak memakai topeng, berpegang pada etika moral tertinggi dan selalu menjalani hidup berdasarkan itu. Yesus sendiri tidak mencari pemimpin itu yang senpurna tetapi yang Dia cari adalah pria dan wanita yang memegang teguh etika yang tinggi serta ingin menerapkan dalam hidup mereka.  Seorang pemimpin adalah seorang yang bervisi yang berani melepaskan potensinya. Ada beberapa prinsip seorang pemimpin yyang bervisi yaitu seorang pemimpin yang bervisi adalah pembangun kapal bukan pengelola pelayaran, pemimpin yang bervisi mengetahui nilai-nilai dasar mereka dan memiliki sebuah visi yang menyatakan semuanya itu, pemimpin yang bervisi mengetahui tujuan perjalanan mereka dan memiliki visi yang menyatakan hal itu, dan pemimpin yang bervisi memilii visi yang jelas dan mengguncang.
Seorang pemimpin memusarkan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai bukan pada ketakutan yang ada pada diri mereka. Ketakutan yang mereka miliki dikalahkan dengan persiapan yang berpusatkan pada Yesus Kristus. Dan ketika menghadapi kegagalan, pemimpin tidak mengalami kekecewaan yang berlarut-larut tetapi kegagalan itu menjadi benih kesuksesan. Setiap pemimpin menyadari dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam kepemimpinannya.ketika seorang pemimpin merasakan kehadiran Tuhan dalam kepemimpinannya maka dia memimpin dengan takut akan Tuhan dan akan menomorsatukan hubu8ngannya dengan Tuhan. Ketika mengahadi ketakutan, pemimpin menyadari kehadiran Tuhan di mana Tuhan selalu bersama dengan mereka. Ketika seorang pemimpin ingin menjadi pemipin yang autentik semuanya itu dapat dilakukan dengan melihat itu semua keautentikan yang dia lakukan itu untuk Tuhan.

2.      The Four Powers Of  Leadership (Empat Kekuatan Kepemimpinan), oleh David T. Kyle (369 hal.)
Memimpin terutama bukan mengenai melakukan sesuatu melainkan mengenai menjadi sesuatu. Pengembangan kepemimpinan menyangkut menyadari kekuatan yang ada dalam diri sendiri dan kekuatan yang diperoleh dalam posisi yang dipegang seseorang. Hal ini berkaitan dengan itegritas seseorang. Dalam kehidupan ini juga banyak pemimpin yang menyembunyikan rasa takut dan kekurangan mereka untuk membuat mereka tampak lebih kompeten, berbaka, berpengatahuan luas, atau mampu ketimbang keadaan mereka yang sebenarnya.
Pemimpin yang sukses melakukan pilihan secara sadar untuk secara terus-menerus mengembangkan sifat-sifat kepribadian positif dan bakat yang mereka miliki. Pemimpin yang bijaksana mengembangkan kapasitas mereka untuk mengamati dan merasakan apa yang terlewatkan oleh orang lain dalam situasi tertentu. Peran seorang pemimpin adalah menciptakan konteks bagi orang lain untuk memfokuskan kehendak dan energi mereka. Pemimpin menciptakan wadah untuk menampung keinginan dan kekuatan orang lain. Pekerjaan pemimpin aqdalah mengelola ketegangan.
Ada empat kekuatan sebagai peta untuk pengembangan kepemimpinan, yaitu kehadiran, tekad, kebijaksanaan dan rasa iba. Tekad adalah arketipe dari seorang prajurit yang rela berkorban, dan disiplinnya tinggi demi tujuan yang ingin dicapai bersama. Kebijaksanaan adalah arketipe tukang sulap yaitu untuk menguasai seni dan mampu mengendalikan diri untuk menggunakan seni itu untuk mengubah situasi. Tekan dan kebijaksanaan ini dapat diandalkan oleh seorang pemimpin untuk maju dalam organisasi. Rasa iba adalah kekuatan arketipe artis yaitu menghadapi kesulitan dalam situasi yang menantang. Rasa iba ini menghangatkan pemimpin. Dan kehadiran adalah kekuatan arketipe dari kekuasaan atau karakteristik dan ratu dalam kepemimpinan.
Kekuatan merupakan penentu utama kepemimpinan. Kekuatan ini memampukan untuk melakukan atau bertindak secara efektif, kemampuan secara spesifik, mampu untuk dipergunakan, dan kemampuan untuk menggunakan kendali “wewenang”.  Menjadi seorang pemimpin yang luar biasa memiliki keempat point ini. Di mana kehadiran itu menjadi kekuatan energetik, dorongan kekuatab yang digunakan oleh pemimpin menciptakan hubungan dengan para pengikutnya dan memberi arti serta struktur pada organisasi dan proyeknya; karisma, energi dinamik, sifat inti dan kepribadian sang pemimpin. Tekad merupakan kemampuan untuk berkorban demi tujuan yang lebih besar dan stia memenuhi kebutuhan organisasi. Kebijaksanaan merupakan kombinasi keterampilan dan pengetahuan lewat banyak pengalaman. Rasa iba merupakan inti dari emosi yang membangkitakan antusias, semangat dan kekuatan lain.

Melalui kedua buku ini mengajarkan seorang pemimpin yang benar-benar bisa memimpin dengan meneladani Yesus Kristus memimpin para Murid-Nya. Yesus mengajarkan seorang pemimpin tidak hanya mengutamakan kepentingan sendiri tetapi kepentingan bersama dan mau mendengar masalah yang dihadapi oleh anggota timnya dan menyelesaikannhya dengan bijaksana. Buku

Kamis, 26 September 2013

Evangelism and The Sovereignty of God

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BANDUNG
                                        
Pengarang                  : J.J. Packer
Penerbit                      : Momentum
Jumlah hlm buku      : 103 halaman


Evangelism and the Sovereignty of God adalah buku yang ditulis oleh seorang profesor teologi historis dan sistematika di Regent College di Vancouver yaitu J.J. Packer. Buku ini berisikan tentang penginjilan dan kedaulatan Allah yang dulunya telah disampaikan dalam bentuk ceramah yang bersifat praktis dan juga pernah disampaikan dalam bentuk khotbah, kemudian diperluas bagi pembaca yang lebih luas. Buku ini membahas tentang hubungan kedaulatan Allah, tanggung jawab manusia dan tugas penginjilan Kristen. Yang menjadi pokok pembahasan utama adalah tugas penginjilan Kristen, tetapi kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia dibahas hanya menyangkut penginjilan.

Tujuan utama pembahasan buku ini adalah:
1. untuk menghapus kecurigaan bahwa kepercayaan pada  kedaulatan Allah yang absolut menghalangi penerimaan atas tanggung jawab penginjilan
2.untuk menunjukkan bahwa iman yang  dapat memberikan kekuatan yang dibutuhnkan orang  Kristen untuk melakukan penginjilan.

Allah berdaulat dalam dunia ciptaannya dan juga keselamatan ciptaan_Nya. Pengakuan kedaulatan Allah adalah  dasar dari doa orang Kristen untuk segala hal yang diterima. Doa orang Kristen juga merupakan ucapan syukur kepada Allah dan pengakuan akan ketidakberdayaan diri sendiri serta ketergantungan kepada_Nya. Fakta dan doa orang Kristen membuktikan kepercayaannya pada ketuhanan dari Allahnya dan keyakinan akan kebenaran Allah yang  ditulis di dalam setiap hati orang Kristen oleh Roh Kudus. Dengan doalah kita bersyukur bagi pertobatan orang lain dan atas pertobatan diri sendiri serta mengakui kedaulatan anugerah Allah.

Kedaulatan Allah dalam keselamatan merupakan natur tugas penginjilan Kristen berdasarkan preposisi yang telah disepakati karena kebenaran Allah tidak pernah persis seperti yang diperkirakan. Di dalam topik ini kita menghadapi antinomi dalam wahyu alkitab. Antinomi merupakan dua kebenaran yang tampaknya tak bersesuaian yang muncul ketika ada dua kebenaran yang keduanya tidak dapat disangkal, tetapi didamaikan karena mempunyai  alasan dan bukti yang sama-sama kuat. Antinomi tidak sama dengan paradoks, dimana paradoks adalah gaya bahasa atau permainan kata-kata yang menarik dan selalu dapat dimengerti. Tetapi antinomi bukan gaya bahasa, melainkan hubungan antara dua pernyataan fakta. Fakta merupakan kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia. Dalam antinomy  yang diwahyukan inilah kita akan  memikirkan tentang penginjilan.

Kedaulatan Allah sepenuhnya adil karena Ia memiliki hak mutlak untuk membentuk ciptaan_Nya. Penghakiman Allah atas orang berdosa adil karena dosa-dosa yang telah diperbuat sehingga manusia layak menerima hukuman_Nya. Bagian manusia adalah menyadari fakta-fakta dan mengagungkan keadilan dan kebenaran_Nya karena tanggung jawab manusia adalah fakta mendasar dalam hidup terhadap penciptanya. Tanpa Kristus, manusia adalah pendosa yang harus mempertanggungjawabkan pelanggaran atas hukum Allah karena manusia butuh injil dan juga bertanggungjawab untuk memberitakannya. Pennginjilan adalah tanggungjawab yang tak terpisahkan dari komunitas Kristen dan orang Kristen. Menginjili berarti menghadirkan Kristus Yesus dalam kuasa Roh Kudus sehingga manusia dating dan percaya pada Allah melalui Dia dan menerima_Nya sebagai Juruselamat dan sebagai Raja dalam persekutuan dengan gereja. Menurut perjanjian baru, penginjilan merupakan pengomunitasian yang  dilakukan orang Kristen sebagai penyambung lidah Allah untuk menyampaikan berita pengampunan Allah kepada orang berdosa.

Gambarannya dalam perjanjian baru diperoleh dalam tulisan paulus, yaitu:
  1. Paulus menginjili sebagai wakil Tuhan Yesus atau Paulus sebagai utusan Kristus.
  2. Paulus mengajarkan kebenaran Yesus Kristus atau membawa kabar  baik.
  3. Paulus mempertobatkan orang yang mendengarnya agar mereka beriman kepada Kristus.

Penginjilan adalah komunikasi dengan visi pertobatan atau membawa kembali  kepada  Allah setiap jiwa yang jauh dari_Nya dengan pengorbanan_Nya yang begitu  besar dan Ia tidak menginginkan harta tetapi mencari jiwa yang jauh dari_Nya dan membawa kembali kejalan  yang benar.

Injil dalam penginjilan adalah tentang Yesus Kristus dan salib_Nya, berita tentang dosa manusia dan anugerah Allah, tentang kesalahan manusia dan pengampunan ilahi tentang kelahiran baru melalui karunia Roh Kudus. Berita ini terdiri dari empat hal, yaitu:
1. Injil adalah berita tentang Allah.
    Memberitakan tentang karakter Allah dan siapa Dia sebenarnya.
2. Injil adalah berita tentang  dosa.
Memberitakan tentang pelanggaran manusia atau dosa manusia karena dari dasarnya       manusia adalah orang berdosa.

Orang merasa berdosa, karena telah melukai hati Allah, melawan,membangkang, mengabaikan Allah dan menjadikan Allah musuhnya bukan  karena merasa  gagal  dalam segala hal. 3 tanda kesadaran sejati akan dosa, yaitu:
(1) kesadaran akan kesalahan terhadap Allahdan juga kepada sesama manusia.
(2) kesadaran akan kesalahan dan pelanggaran kepada Allah.
(3) kesadaran kepenuhan dosa dan ingin bertobat dan meninggalkan pelanggaran demi                                                                                                                                                                      
      berdamai dengan Allah.   
3. Injil adalah berita tentang Kristus Anak Allah yang berinkarnasi, rela mati demi dosa-   
    dosa kita.

Motif penginjilan adalah kasih dan kerinduan kepada Allah untuk memuliakan Dia serta mengasihi sesamanya.  Kedua motif ini merupakan motif primer dan sekunder yang harus dilaksanakan oleh setiap orang. Dalam penginjilan juga harus dengan metode. Metode yang digunakan merupakan kontroversi dalam beberapa komunitas injili pada masa kini.

Penginjilan itu merupakan tugas yang diembankan pada seluruh umat Allah dimana pun berada. Di dalam penginjilan, kedaulatan Allah sangat penting sebagai pendorong utama dalam melakukan penginjilan tersebut. Kedaulatan Allah memberi  jaminan terhadap penginjilan dan hasilnya  nanti karena tidak akan dihalangi oleh rintangan darimana pun.

Setelah membaca buku ini, kita dapat mengetahui kedaulatan Allah dan tanggung jawab orang Kristen terhadap penginjilan. Melalui penginjilan kita dapat membawa jiwa yang belum mengenal Allah atau membawa manusia yang jauh dari_Nya sehingga berbalik kepada Allah walaupun dalam jangka waktu yang panjang seperti yang telah dilakukan oleh Paulus kepada orang yang belum mengikut Yesus dan orang yang jauh dari Yesus karena merasa sudah berkuasa, Paulus berhasil membawa kembali jiwa yang jauh dari Allah. Tetapi dalam buku ini tidak ad dibahas metode penginjilannya bagaimana, dan penginjilan itu juga tidk hanya melalui buku yang dibaca dan khotbah yang kita dengar saja kita dapatkan tetapi bisa melalui media.

Buku penginjilan ini sangat bagus untuk orang-orang Kristen yang percaya kepada Allah dan  yang mau turut serta dalam memberitakan kabar  baik tentang Allah yang berdaulat.                                            

Iman Kristen Dan Pancasila

SEKOLAH TINGGI TEOLOGIA BANDUNG
Telaah Buku

Penulis                        : Dr.T.B. Simatupang
Penerbit                      : BPK Gining Mulia
Jumlah hlm                : 209hlm


1. Indonesia Negeriku

            Indonesia adalah negeri yang penuh kontradiksi. Ia adalah sebuah “negeri Islam” terbesar di dunia, dalam arti mempunyai jumlah penduduk beragama Islam yang terbanyak di dunia-lebih dari seratus juta orang. Sebelum tahun 1965, Indonesia mempunyai partai Komunis yang terkuat setelah Rusia dan Cina dan juga gereja-gerejanya.
            Secara geografis, Indonesia adalah negeri paling terpecah-pecah di kolong langit, yaitu dengan 13,667 pulau-pulaunya. Dari sudut bahasa, budaya, dan agama ia termasuk negeri paling majemuk di dunia: 250 bahasa dan kira-kira 30 kelompok etnis. Masing-masing kelompok mempunyai kepribadian, bahasa, dan agamanya sendiri-sendiri. Indonesia mempunyai agama-agama Hindu, Buda, Islam, Kristen Protestan Dan Katolik kecuali agama Yahudi. Walaupun demikian beragam Indonesia adalah satu.
            Negeri saya telah melalui perang kemerdekaan belum terlampau lama berselang. Dalam kehidupan bangsa-bangsa, perang-semacam itu teristimewa bila berbentuk perang gerilya- merupakan pengalaman yang amat menentukan. Negeri benar-benar lahir di tengah-tengah kemerdekaan. Kemerdekaan adalah hasil perundingan. Sebagian besar dari orang-orang yang terlibat daslam perang kemerdekaan masih hidup.
            Kemudian datanglah periode lain dengan revolusi sebagai tema utamanya. Dalam periode ini berusaha untuk membuang yang lama dan menciptakan apa yang belum pernah ada sebelumnya. Setiap orang mempunyai gagasan sendiri tentang masa depan. Di dalam situasi revolusioner pertentangan-pertentangan gagasan menjadi lebih tajam. Pertentangan yang paling tajam adalah antara orang-orang komunis, yang mempunyai gagasan yang amat jelas tentang masa depan, dan seluruh mesyarakat lainnya,  yang tidak mempunyai gagasan yang begitu jelas tentang masa depan, tetapi mengetahui penjelasan bahwa mereka tidak dapat menerima apa yang diusulkan orang-orang komunis. Inilah yang mengakibatkan bentrokan bahkan perang saudara pada tahun 1965.
            Bentrokan ini merupakan pengalaman yang mengerikan.  Hal ini diperburuk oleh kenangan pahit yang dilakukan orang-orang komunis pada bulan September 1948, saat menghadapi ancaman serangan belanda. Pemberontakan komunis sebagai tikaman dari belakang. Kedua peristiwa ini hanya meninggalkan bekas-bekas luka. Tetapi sampai sekarang, 9 tahun setelah 1965, ia membuka luka baru di hati dan benak banyak orang. Masalah politik yang masih belum terselesaikan adalah segi yang tragis dari apa yang terjadi setelah pengalaman 1965 itu. Masalah mempunyai tingkastan dimana tingkat yang paling dalam adalah masalah mengobati luka-luka lama atau masalah kerukunan kembali. Ada kesenjangan-kesenjangan emosional dan ideologis yang harus dijembani- ini bukanlah tugas yang mudah. Lalu ada masalah keamanan. Orang-orang bertanggung jawab dalam mengambil resiko dari segi-segi kemanusiaan dan perikemanusiaan.
            Setelah periode tersebut, datanglah apa yang merupakan penekanan yaitu  “pembangunan”. Berasal dari sebuah perang kemerdekaan, sebuah perang rakyat, melewati revolusi, sebuah periode yang amat emosional, kami tiba pada sebuah strategi pembangunan-sesuatu yang lebih pragmatis, kurang emosional.
            Dibandingkan dengan India, dimana gereja telah berdiri sejak abad-abad pertama, maka di Indonesia kekristenan agak lambat masuk ke sejarah bangsa ini. Di Indonesia, kekristenan datang pada waktu kebasngkitan ekspansionalisme barat, yaitu yang diawali oleh Spanyol dan Portugis dan kemudian oleh Belanda. Ia datang dikemuncak abad-abad pekabaran injil, yaitu abad 18 dan 19, dibawa oleh pekabar-pekabar injil yang sebagian besar tidak mempunyai sangkutpaut dengan pemerintahan colonial Belanda. Hasilnya ialah gereja-gereja  rakyat di bagian-bagian Indonesia  yang belum pernah di“hundu”kan atau di”Islam”kan. Gereja-gereja yang lebih kecil berkembang di antara penduduk yang telah mengalami pengaruh Hindu dan Islam.
            Demikianlah terdapat tiga tipe gereja dengan kekhasannya sendiri-sendiri. Yang mengalami perkembangan paling pesat, tentu saja adalah gereja yang lebih muda, oleh karena hidup di tengah penduduk yang kebanyakan bukan Kristen. Kedatangan gereja ke Indonesia, ada hubungannya dengan pemulaan ekspansi barat. Tetapi dengan amat segera ia berakar di bumi Indonesia, memperkembangkan cirri-ciri khasnya, dan terutama di daerah-daerah dimana orang Kristen adalah mayoritas tidak ada perasaan bahwa mereka adalah sebuah kelompok yang menganut agama asing. Ciri khas cukup penting dari orang-orang Kristen di Indonesia dibandingkan dengan yang ada di negara-negara Asia lainnya: kekristenan bukanlah sebuah agama asing di Indonesia.
            Gelombang nasionalisme yang dating sebagai reaksi terhadap, tetapi dalam arti tertentu adalah  hasil dari ekspansi Barat, berusaha untuk menyingkirkan dominasi Barat, sekaligus mengambil oper banyak pemikiran yang khas dating dari Barat. Hanya dengan manfaat pemikiran-pemikiran yang dating dari sejarah nasionalisme berhasil membebaskan Indonesia dari kolonialisme Barat. Ketika nasionalisme belajar dari Barat, Indonesia menyadari diri sendiri sebagai bangsa, lalu menciptakan bendera Indonesia dan juga bahasa Indonesia. Satu bahasa, satu bangsa, satu tanah air merupakan kerangka perspektif ideology tertentu  nasionalisme bukan sosialisme. Sejarah Indonesia sebagai Inspirasi yang memproklamasikan kemerdekaan sebuah Negara yang modern dan sebagai Undang-Undang Dasar diciptakan.Hal ini terjadi setelah kami menimba dari Barat. Nasionalisme adalah suatu reaksi terhadap barat, tetapi satu kelanjutan dari sebuah proses modernisasi yang telah mulai sebelumnya.
            Pada permulaan dari gerakan_kemerdekaan, gereja-gereja berada dalam kedudukan yang agak mendua. Pada satu pihak,mereka adalah sebagian dari bangsa Indonesia berakar di Indonesia. Gerakan kebangsaan pada waktu itu masih terorganisir secara setempat-setempat. Gerakan nasional bersifat nasional dan lahirlah gagasan tentang satu bangsa namun, gereja-gereja tetap terbagi-bagi secara etnis. Kurun waktu dua puluhan merupakan kurun waktu yang kritis bagi hubungan antara antara gereja-gereja dan gerakan kebangsaan. Pada waktu itu, orang-orang Kristen yang menjadi nasionalis kadang-kadang dianggap oleh gereja sebagai orang Kristen yang baik.
            Sesuatu yang baru muncul dengan gerekan mahasiswa Kristen yang tidak mengenal batas-batas etnis, para mahasiswa dan pemuda dimungkinkan sekaligus Kristen dan nasionalis. Walaupun mereka anggota gereja yang berbeda-beda, tetapi di dalam penampilan wajah oikumenis dari kekristenan Indonesia. Dewan gereja-gereja di Indonesia (DGI) dilahirkan dari perintis-perintis oikumenis, tetapi muncul belakangan pada tahun lima puluhan.
            Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang adalah masa yang kritis bagi gereja-gereja di Indonesia. Hubungan dengan gereja-gereja di luar negeri terputus dan mereka harus bertahan hidup di atas kaki sendiri. Ini memberikan pengalaman yang melahirkan percaya diri kepada gereja-gereja di Indonesia. Namuan, sebagian besar gereja-gereja telah menerima dan menyadari hidup tanpa bantuan bilamana perlu. Perang kemerdekaan adalah pangalaman yang amat berharga bagi orang-orang Kristen di Indonesia, karena keikutsertaan dalam peranglah mereka sepenuhnya diterima dan diakui. Setiap orang adalah bagian dari bangsa.
            Pada tahun 1945, ketika Perang Dunia II belum  berakhir dan berada  di ambang pintu gerbang kebangsaan, semua orang umumnya spakat bahwa Indonesia harus bebas dan merdeka. Yang menjadi masalah ialah Negara macam apa yang harus dilahirkan dan dibangun bersama-sama. Rakyat Indonesia diharapkan pada satu pilihan antara pemahaman Negara sekuler dan Negara agama. Pada tahun 1945 persoalan kesatuan Indonesia tak lagi menjadi masalah dikalangan para nasionalis.
            Dari sudut pandang filsfat Barat, masalah mengandung pilihan “ini atau itu”, tetapi ditemukan sebuah jalan keluar yang tidak berdasarkan pendekatan Barat. Negara pancasila adalah berdasarkan prinsip “baik ini maupun itu” yang bersifat inklusif, yang bagi kami mungkin karena suatu yang merangkum semua unsure yang dari sudut pandang barat bertentangan satu sama lain. Ini adalah sesuatu yang khas bagi Indonesia, bukanlah sikap acuh tak acuh, tetapi merupakan pemahaman yang inklusif terhadap kenyataan. Dari latarbelakang filsafat inilah kami menghasilkan lima sila pancasila sebagai filsafat Negara dimana kelima sila itu merupakan paying lebar untuk semua manusia.
            Pancasila adalah lebih dari sekedar payung yang mempunyai daya tarik emosionalnya tersendiri dan menjadi sebuah ideologi, tetapi sebuah pandangan hidup. tiga dari kelima sila mengingatkan pada sila Sun Yat Sen: nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme. Sila pertama bukanlah kepercayaan kepada Allah, tetapi kepercayaan kepada ide ketuhanan oleh karena istilah yang dipakai adalah ketuhanan. Sila pertama membicarakan keallahan atasu keilahian dan kepercayaan kepada suatu yang maha transenden seperti Maha Esa.
            Sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Islam tiba di Indonesia abad ke-13 dan menyebar dengan lambat ke banyak bagian dari kepulauan Indonesia dan pada waktu agama Hindu sedang mengalami kemunduran, Islam muncul sebagai kekuatan baru. Tiodak pernah ada jaman Islam dalam arti kerajaan mencakup seluruh negeri. Latar belakang sejarah menjelaskan mengapa semua menerima pancasila dan bagaimana pancasila berhasil merangkul beraneka unsure sosial, budaya dan politik untuk membentuk satu bangsa atau Negara.
            Kelima sila pancasila tidak sama dengan pengakuan iman yang ada pada beberapa gereja, yaiotu sesuatu yang sudah jadi dan mempunyai pemahaman yang pasti. Pancasila adalah titik berangkat untuk kehidupan bersama rakyat Indonesia. Pancasila sebagai jawaban tantangan dan masalah praktis tetapi menentukan. Pancasila harus dipahami sebagai ideology dan modus vivendi yang isinya ditentukan melalui proses dialog, kerja sama, dan melayani bersama terus-menerus, serta menghadapi tantangan bersama.
            Dari sudut pandang Kristen tidk ada masalah untuk menerima pancasila dimana pancasila memberikan inspirasi dan menjadi seperti doktrin tertutup. Fungsi ideologis pancasila adalah sebagai sebuah kekuatan yang terbuka, positif dan kreatif.
            Setelah perang gerilya yang melahirkan kemerdekaan secara alamiah dapat timbul dari semacam pemerintahan militer, dan akibat perang gerilya terhadap struktur politik dan sosial pada masa berikutnya tidak dipahami banyak orang, khususnya bangsa-bangsa di dalam sejarahnya tidak pernah mengalaminya atau telah mengalaminya berabad-abad yang lalu. Percobaan gagal karena kelemahan-kelemahan di dalam dan pertentangan yang tajam diantara partai politik sendiri. Secara potensial tidak hanya terdapat dikotomi antara golongan komunis, tetapi juga antara golongan Islam dan non-Islam serta pemberontakan militer.
            Dalam hubungan masa depan paling sedikit ada tiga kemungkinan walaupun lebih banyak kemungkinannya. Yang pertama, pengulangan dari bahaya pengalaman Amerika latin dan Kuomintang. Yang kedua, kemajuan-kemajuan akan dicapai melalui pembangunan tetapi diiringi oleh proses dimana struktur-struktur semakin lama semakin kaku dan ketat. Yang ketiga, berusaha menyumbangkan apa yang dapat disumbangkan dalam  batas-batas yang ada yaitu seluruh negeri berkembang, militer memainkan peran sebagai stabilisator dan dinamisator. Seiring dengan perkembangan di dalam bidang ekonomi dan teknologi akan terjadi perkembangan politik menuju bentuk-bentuk demokrasi yang lerbih matang.
            Pembangunan dilihat sebagai koreksi terhadap segala kesalahan yang telah dibuat yang mengangkat panji revolusi, dimana revolusi meupakan sesuatu yang telah berlalu. Dan ada tiga perbedaan pembangunan dengan revolusi, yaitu peranan emosi, penekanan ekonomi daripada politik dan social, dan pemahaman yang lain tentang posisi di dunia internasional.

2. Dinamika Menuju Kedewasaan Yang Kreatif

Keadaan Kristen di Indonesia pada abad ke-20 berada dalam suatu lingkungan etnis tertentu dan dikuasai oleh misionaris-misionaris  barat yang mempunyai pengeti pietitis tentang peran orang Kristen dalam mayarak
Indonesia adalah suatu negeri yang terdiri dari tiga ribu pulau yang dihuni dan ada satu bahasa serbagai alat komunikasi bagi seluruh bangsa yang sangat penting dalam pertumbuhan teologi Indonesia. Struktur komunal Indonesia dan agama suku merupakan pola dasar dalam kehidupan dan pemikiran banyak orang.
            Di Indonesia perkembangan  ganda dari ekspansi barat modern dan penyebaran kekristenan yang diawali oleh kedatangan orang portugis dan disusul oleh orang belanda dngan satu masa pemerintahan selingan inggris untuk jangka waktu yang singkat selama perang napoleon. Orang belanda adalah morang portugis dalam arti politik, komersial dan religius. Setelah portugis diusir dari Indonesia maka kepercayaan roma katolik pindah kepada kepercayaan Kristen protestan.
Awal dari abad ke-20 merupakan akhir dari suatu era. Tahun 1900-an muncul nasionalisme yang berhubungan dengan kolonialisme yang mempunyai segi-segi yang bersifat mendua. Nasionalisme adalah reaksi dan penolakan terhadap kolonialisme. Periode sebelum lahirnya gereja di Indonesia keterlibatan Indonesia dalam rangka oikumene.
Gerakan ini dimulai tahun 1908 sebagai satu gerakan mahasiswa-mahasiswa sekolah kedokteran di Jakarta dengan memperlihatkan pengaruh kebudayaan Jawa yang agak kuat sebagai cita-cita religius dan social.
Gereja permulaan mempunyai penglihatan terbatas pada suatu suku. Ketidak mampuan gereja menjawab tantangan-tantangan jaman barudan tidak menghalangi anggota-anggotanya secara perorangan untuk menggabungkan diri pada gerakan nasionalisme.
Gereja yang berdiri sendiri pertama adalah Huria Kristen Batak Protestan pada tahun 1930, yang merupakan suatu jawab yang penting terhadap tantangan jaman. Kenyataannya sudah ada generasi dokter dan sarjana Hukum Kristen Indonesia, bersama suatu gerakan mahasiswa Kristen yang mempunyai peran penting dalam kehidupan dan pamikiran gereja.
Sekolah teologi tinggi mulai tahun 1934 di Bogor dan kemudian pindah ke Jakarta, dan memainkan peranan penting dalam kehidupan dan pemikiran gereja di Indonesia selama empat decade terakhir.
Jaman pandudukan Jepang adalah awal dari satu masa yang baru dalam kehidupan bangsa dan gereja. Jaman ekspansi kolonial barat dan penyebarab kekristenan dimulai pada abad ke-16 secara mutlak juga diakhiri. Jaman penduduk Jepang gereja-gereja di Indonesia membuktikan bahwa mereka mampu melanjutkan hidupnya.
Orang Kristen berada dalam keadaan yang khas pada waktu Indonesia kebanyakan beragama islam memproklamasikan kemerdekaan dan secara selang-seling harus berpeang selama empat tahun yaitu dari 1945-1949 melawan belanda yang membawa kekristenan ke Indonesia.
            Peristiwa penting mempengaruhi kehidupan dan pemikiran gereja setelah kemerdekaan Indonesia yang diakui oleh dunia sehingga akibatnya hubungan dengan dunia luar dipulihkan kembali. Dewan gereja diIndonesia didirikan pada bulan mei 1950 dan berbagai arus kejadian dan pemikiran yang mengalir kedalam kehidupan dan pemikirannya sejak dari mulanya. Pendirian dewan gereja di Indonesia ialah kesan dari Amsterdam (1948).dewan merupakan tempat pertemuan antara keterlibatan oikumenis dan gereja bersama dalam kehidupan bangsa melalui perhatian mereka bersama terhadap keesaan, pengutusan dan pelayanan.
Rancangan pengakuan iman bersama berkisar pada pokok-pokok masalah:
  1. Dogma trinitas atas keesaan Allah mempertanyakan pengalimatan trinitaris.
  2. Masalah gereja dan oikumenitasnya perlu untuk menekankan gereja di Indonesia adalah gereja dalam lingkungan bangsa dari satu gereja Kudus dan Am.
  3. Pandangan gereja tentang manusia dengan menekankan kebebasan dan tanggungjawabnya terutama kebebasan beragama dalam terang tantangan pihak islam dan lain-lain.
  4. Tanggungjawab sosial ditekankan dalam hubungan dengan alam sekitar, ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan masyarakat, harapan dan ilusi dalam proses pembangunan.
      Gereja pada dasarnya melihat tugas pekabaran injil sebagai pusat panggilan dimana tugas itu dimengerti sebagasi pertama-tama ditujukan pada suku-suku tertentu secara terpisah-pisah yang dilihat sebagai wilayah untuk panggilan bersama dari semua gereja bagi kesaksian dan pelayanannya dengan memperhatikan `latarbelakang religius kultural yang khusus dari berbagai suku maupun pengalaman bersama.
      Sejak tahun 1940-an gereja-gereja yang berdiri sendiri sebagai gereja suku dengan  latarbelakang teologi yang pietistis. Pemikiran sosial gereja dan tidakannya: dibawah desakan tantangan nyata oleh  rasa keterlibatan dan desakan langsung. Dan juga pemikiran oikumenis baik dari lingkungan dewan gereja asia maupun dari lingkungan dewan  gereja se-Dunia. Sidang raya dewan gereja di Indonesia mengenai tugas Kristen dalam revolusi yaitu: revolusi yang berusaha melahirkan masyarakat baru yang berada di luar rencana Allah tetapi di dalam terang injil Allah.
      Kedewasaan dan kreatif tidak menyangkal sejarah tetapi dalam pergumulan dengan tantangan kurun sejarah yang membuat warisan masa lampau berubah.

3. Idiologi Dan Injil: Suatu Perspektif Indonesia

            Gereja-gereja dengan latarbelakang pekabar injil terkejut karenamenghadapi suatu keadaan yang baru. Negara-negara mencapai tahap masyarakat industri modern di bawah atau suatu system totaliter untuk mengubah dan membaharui system dari dalam.perubahan  terjadi karena reformasi, revolusi industri, revolusi amerika, revolusi prancis, perang saudara di AS, revolusi rusia.
            Kasus Indonesia menunjukkan pentingnya idiologi bagi hidup suatu Negara dinia ketiga semenjak saat berdirinya setiap idiologi dapat ditantang oleh idiologi-idiologi saingan atau tandingan tetapi juga untuk menetapkan antara peranan yang wajar dan peranan yang menyimpang dari idiologi. Pancasila mampu memberi lebih banyak pengarahan terhadap rencana pembangunan dan usaha pembangunan dan mengembangkan perhatian yang lebih besar tehadap aspek etika, martabat manusia, demokrasi dan keadilan sosial.
Dimensi idiologis mencerminkan suastu perspektif sejarah yang dinamis meresapi pemikiran masyarakat modern atau sedang memodernkan dirinya.perubahan sejarah sebagai akibat dari dinamika eskatologis injil terhadap jalannya manusia yang memberikan pengesahan bagi perlawanan untuk mencapai perubahan sosial di tengah struktur sosial.

4. Komunisme Dipandang Dari Sudut Agama Kristen Protestan

            Komunisme adalah ajaran yang keliru yang harus dipelajari dengan sebaik-baiknya untuk memberi arti dan ntujuan dalam pakaian ilmiah. Masyarakat mengalami peningkatan industrialisasi di bawah system yang disebut kapitalisme untuk membeberkan segi-segi negatife dari proses yang sedang berlaku yang membuktikan masyarakat kapitalis mempunyai industri yang tinggi dan beralih menjadi masyarakat komunis.            Pandangan komunise mengenai Negara dapat dipahami dalam rangka keseluruhan pandangan komunisme yang berbicara mengenai arti Negara sebagi bagian yang penting dalam pemikiran komunis memasuki tugas menghadapi pertanyaan arti faham. Negara dan revolusi lebih berharga sebagai senjata idiologis daripada sebagi dasar untuk membangun kekuasaan yang baru yang disusun menurut ide-idenya.
            Dalam dunia Kristen protestan terdapat pemikiran yang yang terus-menerus sebagai hasil dari pemikiran para ahli teologi dan sebagai hasil musyawarah gereja-gereja yang hidup dalm situasi politik, ekonomi, sosial/budaya.

5. Tugas Kita Dalam Negara Pancasila Yang Membangun

Pengalaman masa lalu dan tugas di masa depan kita renungkan dengan meninjau semua factor yang mempengaruhi hidup manusia. Tugas gereja ialah untuk hidup sebagai gereja yang taat kepada Tuhan yang tidak berubah. Umat manusia dengan kebudayaannya dengan ilmu politik, social dan ekonomi.
Di tengah masyarakat yang bergolak dam berubah kita bergumul untuk memahami tugas yang diterimanya dari Tuhan. Mempunyai kesadaran untuk memikirkan membangun masa depan yang baru. Kita di utus ke masyarakat untuk melaksanakan pembangunan dalam negara pancasila. Dalam menghadapi tugas bersama kita selalu terbuka bagi pandangan yang bersumber [ada latar belakang kepercayaan dan keyakinan. Memberikan sumbangan pemikiran yang menentukan arah dan sifat pembangunan kita demi tanggung jawab masa depan dan program yang ditunjukkan untuk kebutuhan masyarakat yang harus dilayani. Gereja diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi kasih Allah dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus. Gereja menjalankan tugasnya dalam negara dengan menyerukan agar baik pemerintah dan golongan mengambil bagian dalam pemilihan. Sebagai gereja kita harus mendampingi, membimbing manusia sebagai individu dan sebagai kelompok agar dia sanggup menjalankan hak dan kewajibannya.

6.Panggilan untuk Pembebasan Dan Persatuan Dalam Gereja, Masyarakat Dan Dunia

Sidang raya adalah suatu organisasi yang sama tingginya dengan organiosasi lain. Bedanya ialah bahwa kegiatan dalam sidang raya adalah bisnis dalam rangka ibadah. Injil tidak berubah namun oleh karena keadaan berubah maka tema dan subtema sebagai alat pembantu ditetapkan sebagai alat Bantu guman menegakkan injil. Tugas gereja ialah menyampaikan injil sepenuhnya kepada manusia seutuhnya baik negara maupun di dunia. Mematuhi panggilann untuk ambil bagian dalam karya pembebasan dan pemersatuan Tuhan Yesus Kristus. Panggilan untuk pembebasan persatuan dalam gereja masyarakat dan dunia seperti dicantumkan dalam sub-tema sidang rakyat adalah panggilan yang konkret. Kesatuan bangsa mengandung unsure kekuasaan sedangkan keesaan gereja tidak boleh menonjolkan kuasa melainkan adalah bagi kesaksian dan pelayanan. Tidak hanya pembentukkan gereja yang esa itu juga struktur gereja adalah demi kesaksian dan pelayanan. Juga dalam proses memuarakan sejarah gereja ke dalam sejarah bersama dihadapi banyak masalah. Namun dalam kesetiaan kepada Tuhan membebaskan dan mempersatukan maka pastilah sidang raya akan dapat lebih pesat atas jalan bagi pertumbuhan yang lebih luas.
Artinya semua factor itu harus dipahami secara teologis megenai masalah bahasa dan kebudayaan umpamanya jelas bahwa dalam menyampaikan injil kepada dunioa maka gereja selalu mempergunakan bahasa dan selalu hidup dalam kebudayaannya. Tujuan partisipasi kita dalam perkembangan masyarakat itu adalah agar dalam masyarakat itu terdapat kebebasan, keadilan, kebenaran, kesejahteraan dan persatuan bagi semua warganegara bahkan bagi seluruh penduduk. Panggilan untuk pembbasan dan persatuan dalam masyarakat ini. Mengenai panggilan untuk pembebasan dan persatuan dalam masyarakat ini kita membicarakan partisipasi kita dalam mengembangkan gagasan mengenai arah tujuan dan cara dalam pembangunan nasional.
Banyak di antara kita telah dan akan terus mengamnil bagian dalam perjuangan untuk pembebasan dan persatuan dalam hidup bangsa dan negara. Pembebasan dan persatuan dalam hidup bangsa dan negara juga berarti mengusahakan adanya keseimbangan yang kreatif antara kebebasan dan persatuan. Kita berusaha untuk meng hindarkan bahaya dengan tekad bersama mengamalkan semua sila dalam pancasila melalui pembangunan nasional dan peningkatan ketahanan nasional.

7. Memasuki Dasawarsa 80-an Dalam Terang Tema “Datanglah Kerajaanmu”

Seperti dalam sidang raya sekarang impian kita meninjau dan menilai pekerjaan dan pengalaman sesudah sidang raya yang menggariskan pokok tugas bersama untuk tahun yang akan datang. Yang akan dijalankan tahun kedepan tidak jauh dari apa yang telah di jalankan tahun lalu. Dalam tahun 80-an kita memasuki bangsa dalam dasawarsa kedua pembangunan. Itu berarti yang akan datang kita melanjutkan dan meningkatkan tugas kita dalam Negara Pancasila yang membangun maka itu samping unsure kelanjutan dan peningkatan akan ada juga koreksi pembaharuan. Dengan demikian ita lihat bahwa memahami pergumulan bangsa dalam terang Injil Kerajaan Allah bukan hal yang baru karena di waktu yang lalu dan apa yang akan dijalankan selama sidang raya merupakan kelanjutan dari upaya kita di waktu yang lalu.
Injil kerajaan Allah memberikan dinamika dan perspektif yang baru. Ada yang melihatnya sebagai identik dengan gereja dan berpendapat bahwa kerajaan Allah hanya menyangkut kehidupan kerohanian secara individual. Ada hubungan yang erat antara Kerajaan Allah dan Gereja. Namun gereja identik dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah keseluruhan pekerjaan penyelamatan Allah dalam Kristus di dunia pada umumnya. Kehidupan kerohanian dikatakan dimensi vertical dangat penting dalam Injil Kerajaan Allah. Hanya dengan bertobat dan percaya seseorang dapat memasuki Kerajaan Allah.
Pancasila tidak sama dengan Injil Kerajaan Allah. Akan tetapi dengan menimba inspirasi dan motivasi dari Agama masing-masing maka para warganegara yang menganut Agama yang berbeda membangun bersama masa depan dan mengamalkan semua sila pancasila. Bangsa kita menghadapi perguulan atau perjuangan yang berat dalam dasawarsa 80-an. Gereja kita menghadapi tugas panggilan yang berat. Dalam hubungan ini khusus menyebut masalah pendewasaan dammkemandirian berteologi serta masalah pengadaan tenaga dan dana. Di tengah pergumulan kita dalam dasawarsa 80-an membangun masa depan yang lebih baik dalam menghadapi bermacam-macam tantangan dan bahaya.

8. Futurologi, Idiologi Dan Eskatologi

            Futurologi, idiologi. Dan eskatologi dipergunakan dalam bahan persiapan untuk konperensi yang akan dating di dalam gereja dan masyarakat. Eskatologi melihat tanda-tanda jaman dengan penghakiman dan anugerah-Nya, dengan kasih dan janji-janji-Nya di tengah-tengah perkembangan sejarah. Idiologi hadir dalam perkataan pancasila dan futurology dalam membangun masa depan. Futurology dan idiologi berusaha memahami tugas gereja dengan menempatkan keseluruhan permasalahan dalam perspektif eskatologi. Furologi pertama disebabkan oleh kesadaran bahwa hidup kita dalam periode krisis yang selalu menentukan antara kehancuran atau timbulnya kemungkinan baru.

9. Pandangan Umum Terhadap Konsep Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Yang Akan Datang

            GBHN 1978 bertujuan untuk mengadakan perubahan dan pertumbuhan dalam bidang material, iklim, pemikiran, dan harapan-harapan di kalangan masyarakat. GBHN mengadakan penilaian terhadap keadaan dan berusaha untuk mengadakan proses prognase dan proyeksi mengenai tantangan dan kesempatan yang dihadapi oleh bangsa. Dalam mengadakan prognase dan proyeksi masa depan dan menyusun saran agar GBHN 1978 dan 1983 terdapat kesinambungan, peningkatan, koreksi dan perubahan.

10. Sumbangan Agama-Agama Dalam Negara Pancasila Yang Membangun

            Agama mempunyai arti penting dalam kehidupan dari banyak manusia dan banyak masyarakat. Agama bermanfaat untuk menetapkan kesadaran koeksistensi dan meningkatkan ko-operasi berdasarkan tanggungjawab bersama mengenai perkembangan masyarakat-kebudayaan-negara. Lapisan kebudayaan-keagamaan Islam berakar di banyak daerah yang peranannya sentral dan memainkan peranan daerah-daerah saja. Gerakan Islam di Indonesia berlangsung secara tidak langsung artinya pengaruh umumnya diterima melalui sumber-sumber sekunder yang bersifat berat sebelah. Gerakan muslim modern sebagai salah satu perkembangan politik terpenting. Pancasila tidak identik dengan Agama dan keduanya mempunyai sumber dan hakekat yang berlainan tidak dimaksud untuk mempancasilakan agama atau untuk mengagamakan pancasila.

11.  Teknologi, Idiologi Dan Iman Kristen

            manusia modern adalah manusia teknologi dan sekaligus manusia idiologi. Pengaruh teknologi dan idiologi sangat besar dalam kehidupan, kesadaran, pemikiran, dan cita-cita manusia modern atau masyarakat modern. Teknologi modern tidak hanya menyangkut kemampuan manusia untuk membuat alat tetapi kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan hidupnya. Manusia modern adalah manusia idiologi karena berpikir dan bertindak dalam kerangka sesuatu idiologi. Idiologi timbul dalam rangka peralihan dari masyarakat petani ke  masyarakat industri dimana teknologi menciptakan lingkungan sosial baru di berbagai lembaga modern. Idiologi ada yang bersifat ketat yang ingin secara mutlak dan secara totaliter segala sesuatu mengenai kehidupan, kesadaran, pemikiran, dan cita-cita masyarakat sehingga idiologi menjadi semacam agama tiruan.

12. Sebagai Penutup: Sepuluh Dalil

1)      Dengan doa “Datanglah Kerajaan-Mu” kita menantikan dan mengharapkan penggenapan Kerajaan Allah yang telah dinyatakan dengan kebangkitan Yesus Kristus, sambil mengambil bagian sepenuhnya secara bertanggung jawab dalam sejarah umat manusia, khusus sejarah bangsa Indonesia yang setelah meninggalkan iklim revolusi sedang berada dalam era pembangunannya.
2)      Kita percaya bahwa Tuhan sendiri yang telah menempatkan gereja-gereja di Indonesia dalam rangka pelaksanaan panggilan orang-orang percaya di segala tempat dan disepanjang zaman, untuk menjadi saksinya “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi”(Kis 1:8)
3)      Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8)
4)      Dengan bertolak dari iman Kristen dan dengan belajar dari pemikiran social Kristen yang telah berkembang dalam pergerakan oikumene internasional maka orang-orang Kristen di Indonesia memberikan sumbangan pikiran yang sebesar-besarnya dalam usaha bangsa Indonesia untuk membangun masyarakat adil, makmur dan lestari berdasarkan pancasila sebagai idiologi yang menolak baik komunisme yang bersifat totaliter dan ateis Maupun kapitalisme yang bersifat “Laissez faire” (kapitalisme yang tidak dikendalikan) serta demokrasi liberal, dengan catatan bahwa yang ditolak bukan prinsip demokrasi universal, melainkan paham liberalisme.
5)      Dalam pelita I, II, dan III bangsa kita melaksanakan tahap pertama pembagunan nasional. Dalam pelita IV, V, dan VI kita melaksanakan  tahap kedua pembangunan nasional menuju tinggal landas yang direncanakan aka berlangsung dalam pelita VI menjelang akhir abad ke-20. Pada pihak lain gereja berusaha agar tidak tersingkir dan kerdil, melainkan bertumbuh dan berkembang sambil memberi sumbangan positif, kreati, kritis dan realistis ditengah industralisasi menuju tinggal landas.
6)      Dalam mengembangkan sumbangan yang dapat deberikan oleh gereja-gereja agar pembangunan nasional sebagai pengalaman pancasila menuju tinggal landas berhasil dan tidak gagal, maka gereja Indonesia menarik pelajaran dari pengalaman yang positif dan negative dari gereja-gereja selama proses menuju tinggal landas di Negara Barat waktu lalu.
7)      Gereja-gereja di Indonesia menyatakan kehadirannya dalam proses pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila menuju tinggal landas baik pada tingkat makro maupun mikro.
8)      Gereja-gereja di Indonesia tidak akan dapat menghadapi tantangan dan mempergunakan kesempatan dalam pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila menuju tinggal landas, kecuali apabila gereja-gereja itu mengadakan pembaharuan pemikirannya dan dalam bentuk-bentuk serta cara-cara pelayanan dan kesaksiannya, membangun dirinya baik dalam arti meningkatkan efisiensinya maupun dalam membangun diri sebagai tubuh Kristus (Ef. 4:12).
9)      Pada dasarnya semua agama di Indonesia menghadapi tantangan yang sama seperti yang di hadapi oleh gereja di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20.
10)  Kurun  waktu 15 tahun yang akan dating dimana kita akan melaksanakab pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila menuju tinggal landas tidak akan bebas dari kerawanan social, sekalipun kita yakin bahwa dengan model pembangunan kita, yaitu pembangunan nasional sebagi pengamalan pancasila, kerawanan social itu dapat dijadikan seminimal mungkin sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh berbagai aliran ekstrim yang ingin mengubah baik dasar Negara maupun model pembangunan kita.