Kamis, 22 Agustus 2013

khotbah 2 bulan di lampung

Tema              : Makna Sukacita Yang Sebenarnya
Nats                : Filipi 4:4-7
Audience        : Umum

Shalom Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih didalam Tuhan Yesus, bersyukur pada saat ini kita dikumpulkan kembali ditempat ini. Mari sebelum saya menyampaikan perenungan firman Tuhan pada pagi hari ini, terlebih dahulu kita berdoa meminta pimpinan Tuhan agar kita dapat mengerti firman-Nya. Kita buka Alkitab kita dalam Filipi 4:4-7
Tema yang akan saya sampaikan hari ini adalah “makna sukacita yang sebenarnya. ada sebuah lagu yang sering dikumandangkan oleh anak Sekolah Minggu dan saya yakin lagu inipun sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu dalam Amsal 15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Dan Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pun menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani penuh dengan beban pikiran dan persoalan. Jika kita melihat berita-berita di televisi, koran, internet, maka dengan sangat mudah kita akan menemukan berita-berita yang tidak menyenangkan. Tindak kriminal dari hari kehari semakin meningkat, perampokan, penculikan, pemerasan, bahkan pembunuhan terjadi di berbagai tempat yang sudah sering kita dengar. Belum lagi berita-berita politik pemerintah, korupsi yang tiada akhirnya…
Dunia hari ini adalah dunia yang bersedih, yang penuh dengan kekerasan, kejahatan… orang-orang diluar Tuhan sedang mencari kedamaian, mereka mencari kasih, mencari sukacita….Namun sukacita yang sejati hanya ada dalam Tuhan Yesus saja. Mungkinkah kerap kali, kita sebagai anak-anak Tuhan juga diresahkan dengan isu-isu kejahatan yang membuat kita penuh rasa takut dan tidak bersukacita, sehingga kita senantiasa kuatir dalam kehidupan ini.
Surat Filipi adalah sebuah kitab yang ditulis berdasarkan pengajaran Alkitab yang kuat. Surat  ini bukanlah sebuah penolong yang dangkal yang mengajarkan para pembacanya bagaimana meyakinkan diri bahwa “segala sesuatu akan menjadi beres”. Bukan ini yang ingin disampaikan. Surat ini merupakan sebuah buku yang menjelaskan bagaimana pikiran yang harus dimiliki oleh orang percaya agar ia dapat mengalami sukacita Kristen dalam dunia yang penuh dengan kesukaran.
Sebagaian besar dari kita harus mengakui bahwa bila segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak kita, kita akan merasa juah lebih bahagia dan kita akan juah lebih mudah menjalani kehidupan ini. tetapi pernahkan kita berhenti sebentar untuk merenungkan betapa sedikitnya keadaan dalam hidup ini yang benar-benar dapat kita kendalikan? Kita tidak berkuasa mengendalikan cuaca atau lalu lintas atau mengendalikan hal-hal yang akan diperbuat atau diucapkan oleh orang lain. orang yang kebahagiaannya bergantung pada keadaan-keadaan yang menyenangkan akan mengalami kesedihan dalam sebgaian besar waktu hidupnya.
Mungkin mudah bagi kita bersukacita ketika hidup kita berjalan baik-baik saja, berkat melimpah, segala usaha dan pekerjaan kita berjalan lancar-lancar saja. Tetapi apakah sukacita kita dengan segera lenyap ketika kita menghadapi permasalahan, usaha tidak lancar, banyak persoaln hidup. Dan sebenarnya yang menjadi pengahalang kita untuk senantiasa bersukacita: adalah tidak percaya, tidak taat, kuatir akan masa depan.
Lantas apa yang harus kita lakukan, apa makna sukacita yang sebenarnya dalam kehidupan kita sebagai orang-orang percaya sehingga kita membawa kesaksian yang baik bagi orang lain? Bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan bisa bersukacita senantiasa? Setiap kita harus menyadari bahwa…

1.    Sukacita kita adalah berasal dari Tuhan.
Kisah Para Rasul  22:28 : “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu”
Maka setiap orang yang tidak bersukacita adalah orang yang tidak menikmati anugerah Tuhan. Kita belajar dari surat-surat yang dituliskan oleh Paulus banyak sekali kata  bersukacitalah!! Bersukacitalah senantiasa!! Tetapi harus kita ketahui disini bahwa sukacita Paulus tidak didasarkan semata-mata karena berkat-berkat yang Tuhan berikan. Paulus menuliskan surat FIlipi ketika ia berada didalam penjara. Tetapi dalam surat-surat Paulus, jarang sekali kita menemukan paulus sedang mengeluh akan keadaannya katika ia penjara. Meskipun ia berada dalam penjara, ia tetap mengarahkan kepada kawan-kawannya dan kepada kita semua tentang sukacita yang tidak dapat direnggut oleh apapun juga. Karena Paulus tahu, anugerah Tuhan yang  nyatalah yang membuat dia dapat bersukacita.
Kualitas sukacita Paulus menunjukan bahwa bahwa sumber sukacitanya tidak bergantung pada hal-hal duniawi, sebab sumbernya ialah kehadiran Kristus yang terus menerus. Orang Kristen saharusnya tidak pernah kehilangan sukacitanya, sebab kita tidak pernah kehilangan Kristus.
Bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan bisa bersukacita senantiasa? Setiap kita harus menyadari bahwa…

2.    Sukacita adalah perintah Tuhan
Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Alkitab senantiasa memberikan kita perintah dengan jelas: Bersukacitalah dalam Tuhan! Sukacita adalah buah roh yang harus ada dalam kehiudpan orang percaya untuk menunjukkan bahwa kita bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. “Bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan” kata senantiasa disini menunjukan suatu yang harus dilakukan terus menerus.
Bersukacita menunjukkan kepada kita bahwa kita melakukan kehendak Tuhan. Orang Kristen harus ditandai secara khas oleh sikap memikul segala hal. Dalam hidupnya harus tidak ada tempat bagi kekuatiran. Sebab dalam segala hal kita bersyukur dan berdoa yang membuat kita mendapatkan sukacita.. Dan karena iman setiap kita dihidupkan oleh pikiran tentang apa yang dilakukan oleh ALLAH. Maka masuklah karunia Allah, yaitu damai sejahtera yang melampaui akal budi manusia. Dan damai sejahtera itu bertindak sebagai pengawal yang menjaga budi dan perasaan orang Kristen. Demikainlah perintah Tuhan agar kita menajdi saksi sikap sukacita didalam kehidupan ini sehingga mampu membagikan damai kepada banyak orang yang kita temui hari ini.
Bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan bisa bersukacita senantiasa? Setiap kita harus menyadari bahwa…

3.    Sukacita adalah gaya hidup orang percaya dan ekspresi kita atas anugerah Tuhan
II Korintus  13:11 “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”
Temperamen kita tampaknya sudah melekat semenjak lahir. Sebagian dari kita ada yang tampak selalu bergembira, sementara yang lain kelihatan murung. Namun, bagaimana tanggapan kita terhadap ujian hidup juga mempengaruhi watak kita secara keseluruhan.

Ilustrasi:
Misalnya, Fanny Crosby kehilangan kemampuan penglihatannya ketika baru berusia enam minggu. Ia mencapai usia 90-an, dan ia telah menggubah ribuan pujian yang digemari banyak orang. Pada ulang tahunnya yang ke-92 dengan gembira ia berkata, "Jika ada orang di dunia ini yang lebih bahagia daripada saya, bawalah orang itu kemari supaya saya bisa menyalaminya."
Apa yang memampukan Fanny Crosby mengalami sukacita yang demikian besar dalam situasi yang bagi kebanyakan orang merupakan "tragedi"? Sejak usia dini ia memilih untuk "bersukacita senantiasa dalam Tuhan" (Filipi 4:4). Sebenarnya, Fanny hanya melaksanakan sebuah keputusan yang dibuatnya ketika baru berusia 8 tahun: "Betapa banyak rahmat yang saya nikmati tetapi tidak dapat dinikmati orang lain. Menangis dan mengeluh karena buta? Saya tidak akan dan tidak bisa berbuat demikian."
Marilah setiap kita belajar tentang makna sukacita yang sebenarnya.  Jangan biarkan sukacita kita dicuri oleh keadaan kita hari lepas hari. Kita tahu bahwa sebagai mahasiswa teologia, begitu banyak beban diakhir semester ini dan uas yang sudah dekat, namun saya pun menyadari bahwa saya harus bersandar kepada Tuhan untuk meniliki sukacita dalam hari-hari yang akan saya lalui.
1.    Mari setiap kita menyerahkan pikiran kita kepada Tuhan sebagai dedikasi dan komitmen kita setiap hari. Sebelum kita memulai menjalani hari-hari kita, biarlah setiap kita terlebih dahulu datang berdoa kepada Tuhan untuk memimpin sepanjang hidup kita. Marilah kita mempraktekkan  Roma pasal 12:1 mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkanan kepada Allah sebagai ibadah kita yang sejati.
2.    Biarkan Roh Kudus memperbaharui pikiran kita melalui firman-Nya. Oleh sebab itu saat teduh pribadi kita dan pembacaan Firman Tuhan akan membuat hidup kita penuh dengan kemanangan dan sukacita.
  

Tema              : Hidupku Kesaksianku
Nats                : 1 Petrus 2:9-17
Audience        : Umum (Ibadah 1 & 2)

Shalom selamat pagi/sore Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam Tuhan, tidak terasa hampir 2 bulan telah belalu. Rasanya baru kemarin saya datang ke Bandarjaya ini, dan hari kamis ini tagal 25 saya akan kembali ke Bandung. Waktu ini begitu cepat berlalu. Tetapi walaupun waktu cepat berlalu, kita tetap bersyukur kepada Allah yang kita sembah. Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam Tuhan, mari kita sama-sama membuka Alkitab kita dari 1 Petrus 2: 9-17.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, sebelum kita masuk ke dalam tema kita pada hari ini, saya mau bertanya kepada saudara-saudara yang ada di tempat ini. Adakah di antara saudara yang sama seperti saya, senang melihat bintang di malam hari?? Adakah saudara?? Mungkin saudara dan saya sama, senang melihat bintang. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, dulu ketika saya masih berada di kampung halaman saya, hampir setiap malam saya selalu duduk-duduk di depan atau di samping rumah. Terkadang tugas saya saya tinggalkan sejenak dan saya mengambil waktu untuk duduk sejenak. Suadara, sya duduk di depan atau d samping rumah itu tidak hanya sekedar duduk, tetapi saya melihat dan menikmati bintang-bintang yang ada di langit. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, karena kesenangan saya melihat-lihat bintang, saya pernah suatu malam itu melihat-lihat bentuk bintang yang berdekatan, ada yang membentuk layang-layang. Di mana bintang ada 4 berdekatan dan jika ditarik garis bisa dikatakan membentuk layang-layan. Dan juga pernah saya melihat ada bulan sabit dan di dekat bulan sabit tersebut ada dua bintang dan kumpulan bintang dan bulan sabit ini sepertinya jika digambarkan membentuk wajah yang senyum.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, unik tidak jika kita melihat hal seperti ini?? Saudara, apa yang membuat seseorang itu tertarik dan terpukau dengan bintang-bintang di langit?? Jika hal ini ditanyakan kepada saya sendiri, saudaraku, saya sangat tertarik dan terpukau dengan bintang-bintang di langit karena bintang ini, jika kita lihat dari bumi kelihatannya kecil sekali, tetapi cahayanya itu bisa memberikan terang dalam dunia yang gelap khususnya pada malam hari. Bintang yang kecil, bisa menyinari kegelapan.
Saudaraku, seperti sebuah lagu mengatakan:
“Ku mau bercahaya, bagaikan bintang-bintang
Di tengah kegelapan, terpancar terang kasih Tuhan
Ku mau bercahaya, bermegah dalam Dia
Menyaksikan kemurahan Tuhan, menc’ritakan perbuatan Tuhan
Kurindu hidup s’lalu, bercahaya dalam kemuliaan-Nya”
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, kita sebagai anak Tuhan seharusnya seperti lagu ini. Kita seharusnya dapat menyinari kegelapan. Harusnya lagu ini menjadi kerinduan setiap pribadi kita sebagai anak-anak Tuhan. Tetapi apa yang terjadi dalam hidup ini saudara?? Justru yang terjadi adalah, di mana anak-anak Allah yang diberikan cahaya oleh Allah kita untuk menyinari kegelapan semakin hari semakin pudar dan bahkan bisa dikatakan hampir padam cahaya tersebut. Mengapa semakin pudar dan bahkan hampir padam saudara?? Hal ini dikarenakan dunia yang kita hadapi pada masa sekarang ini semakin hari, semakin gelap karena orang-orang berprinsip, “whatever I do, up to me, apapun yang saya lakukan dalam hidup ini, terserah saya atau bisa dikatakan semau gue”.
Nah, saudara yang terkasih dalam Tuhan, apa hubungannya dengan tema kita pada hari ini saudaraku??
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, dalam nats yang kita telah bacakan tadi dikatakan dalam nats ini, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Saudara, dikatakan dalam ayat ini, sebelum semuanya ada, atau sebelum dunia dijadikan bahwa Allah telah memilih setiap kita, Allah telah memilih saudara dan saya menjadi kepunyaan-Nya, kepunyaan Allah sendiri. Bukan kepunyaan dunia ini. Saudara dari mana kita bisa tahu hal ini?? Di katakan juga di dalam ayat 9 ini, Dia (Allah kita) telah memanggil kita dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Saudara dulu kita hidup dibawah kungkungan dosa, dibawah ikatan dosa, tetapi dikatakan dalam Firman Tuhan ini, Dia (Allah Bapa kita), melalui kematian anak-Nya yang tunggal telah melepaskan kita dari kungkungan dosa tersebut. Dan bukan hanya lepas dari kungkungan dosa yang mengikat kita, tetapi juga telah diselamatkan oleh Allah kita yang mahakuasa yang berkuasa di atas segalanya.
Dalam ayat yang ke-10 dikatakan juga, “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, ayat ini menegaskan kepada setiap orang-orang percaya, dimana ketika kita hidup dalam kegelapan, hidup dalam kekangan dosa, hidup dalam keterikatan dosa itu, pada saat itu kita bukanlah umat Allah, dan juga tidak dikasihi-Nya, tetapi ketika kita lepas dari kegelapan dan kekangan dosa tersebut, setiap kita menjadi umat Allah dan beroleh belas kasihan.  
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, pas kapan sih dikatakan manusia itu bukan umat Tuhan?? Itulah ketika manusia hidup dalam manusia lama yang selalu hidup dalam kedagingan. Kehidupan yang seperti inilah yang ditentang oleh Tuhan kita Yesus Kristus.
Tema kita juga pada hari ini dikatakan “Hidupku kesaksianku”. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, tadi kita telah bersama-sama melihat tentang bintang-bintang kecil yang bertaburan di langit, bintang kecil ini dengan kekecilannya tersebut, dia bisa mempengaruhi dunia ini dan bahkan dia bisa memberikan terang yang luar biasa pada malam yang gelap. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, bagaimana dengan hidup saudara dan saya di dalam dunia yang semakin hari semakin gelap ini, sudahkah pernah memberikan terang yang luar biasa?? Bagaimana hidup saudara dan saya bisa menjadi terang dimanapun kita berada???
Saudaraku, hisup kita bisa menjadi terang, atau bisa menjadi cahaya yang bersinar yang memberikan penerangan bagi dunia yang gepa ini melalui kesaksian hidup kita. Tema kita mengatakan hidupku kesaksianku. Saudara, terang itu bisa dipancarkan dalam hidup kita melalui hidup kita yang menjadi kesaksian setiap kita dimanapun kita berada dan kapanpun. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, ada beberapa point yang ingin saya bagikan bagi saudara, bagaimana hidup kita bisa menjadi kesaksian kita.
1.      Hidup kita bisa menjadi kesaksian kita dengan menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang melawan jiwa. (11)
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, hidup seseorang bisa menjadi kesaksian kepada orang disekitarnya dengan menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging. Keinginan daging yang seperti apa saudara?? Saudaraku yang terkasih, seringkali kita melihat dalam kehidupan ini, seseorang yang hidup dalam manusia lama, dia mengutamakan untuk memuaskan keinginan dagingnya dan bisa dikatakan dia mengabaikan keinginan Allah dalam hidupnya. Tetapi saudara yang terkasih dalam Tuhan, saudara dan saya yang sudah hidup dalam Allah dan Allah yang kita sembah menginginkan setiap orang yang hidup di dalam-Nya untuk menjauhkan diri dari keinginan daging yang menjerumuskan manusia tetap hidup dalam dosa. Hal yang sangat sederhana yang bisa kita lihat dalam hidup ini, ketika saudara dan saya pulang dari pekerjaan kita, mungkin kita sudah lelah, dan pada hari itu juga kita ada persekutuan tetapi karena kita sudah lelah kita mengatakan saya lebih baik istirahat dululah, persekutuan mah kapan-kapan bisa. Saya mau istirahat terlebih dahulu karena besok saya mau kerja lagi. Saya ingin ketika saya kerja besok, saya fresh, persekutuan kan bisa kapan-kapan. Atau saudara mengatakan persekutuan mah saya sudah sering, setiap minggu saya pergi koq ke gereja. Saudara yang terkasih dalam Tuha, hal ini sangat sering terjadi dalam hidup kita. Inilah kita mengutamakan keinginan daging kita. Padahal persekutuan itu tidak lama, bahak persekutuan itu tidak melelahkan sebenarnya, yang terutama itu adalah hati kita. Hati kita mengatakan saya ingin bersekutu dengan Tuhan tetapi karena kita lelah pulang kerja kita mengatakan, nanatilah padahal kelelahan kita itu bmasih bisa kita tahan-tahankan. Bagaimana hidup kita bisa menjadi kesaksian kita jika hanya karena hal kecil kita langsung lebih memilih keinginan duniawi kita??

2.      Hidup kita bisa menjadi kesaksian kita melalui cara hidup kita yang baik.  (12)
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, dikatakan dalam ayat yangke-12 ini hidup seseorang bisa menjadi kesaksian dimanapun berada melalui hidup yang mencerminkan cara hidup yang baik. Cara hidup seseorang bisa terpancar melalui sikap tingkahlaku seseorang. Sikap dan tingkahlaku setiap orang itu harun mempermuliakan Tuhan. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, dalam ayat ini juga dikatakan ketika seseorang memfitnah kamu sebagai orang durjana janganlah dibalas tetapi bersikap yang baiklah terhadap mereka dan sikap yang kita lakukan itu untuk memuliakan nama Tuhan sehingga melalui sikap dan tingkahlaku yang terpancar dari setiap diri kita seseorang yang memfitnah kita itu bisa melihat kasih yang luarbiasa yang daripada Tuhan kita Yesus Kristus. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, apa yang kita alami dalam dunia ini, itu hanyalah sedikit dari apa yang dihadapi oleh Yesus Kristus di mana kita tahu bagaimana penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus, itu sungguh luar biasa. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, melalui sikap dan tingkahlaku kita itu orang-orang disekitar kita bisa menjadi penasaran apa yang membuat kita berlaku baik kepada orang yang melakukan yang tidak baik kepada kita. Mungkin hal ini bisa dilihat oleh tetangga kita, rekan kerja kita yang belum mengenal Yesus, dan yang lain. Dengan sikap kita yang demikianlah, hidup kita ini bisa menjadi kesaksian kita bagi orang-orang disekitar kita.

3.      Hidup kita bisa menjadi kesaksian kita melaluikehidupan kita yang tunduk kepada pemimpin-pemimpi ataupun atasan kita bukan karena mereka lebih tinggi dari kita tetapi karena Allah. (13-15)
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, berbicara tentang tunduk kepada pemerinta, atasan atau wali, ini merupakan hal yang tidak asing dalam hidup kita. Contoh yang real kita bisa lihat, bagi kita yang sudah bekerja. Jika kita sebagai bawahan, kita pasti tunduk kepada atasan kita. Tetapi yang menjadi pertanyaan kepada kita, ketika kita tunduk kepada atasan kita, apa yang menjadi motivasi kita, apakah karena ada sesuatu yang kita inginkan dalam artian untuk menginginkan sesuatu yang lebih?? Supaya kita dipuji atau dibanggakan oleh atasan. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, jika hal ini yang kita inginkan, bagaiman hidup ini bisa menjadi kesaksian kita?? Saudara, jika kita tunduk kepada atasan, wali, atau pemerintah bukanlah karena ada motivasi yang lain yang kita inginkan untuk kita memiliki sesuatu yang lebih, tetapi karena kita ingin menunjukkan kehidupan kita sebagai anak-anak Allah sehingga melaui kehidupan kita yang demikian, orang yang melihat kita juga ingin mengetahui apa yang membuat kita demikian dan melalui hal ini kita bisa mengabarkan tentang Tuhan yang kita sembah kepada mereka. Kita tunuk bukan karena kita menginginkan posisi yang baik, yang tinggi melainkan karena Allah kita. Dengan demikian hidup kita ini bisa menjadi kesaksian dimanapun kita berada.

4.      Hidup kita bisa menjadi kesaksian kita melalui hidup kita sebagai orang merdeka. (16)
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, berbicara tentang hidup kita sebagai orang merdeka, merdeka dalam hal apa saudara? Saudara yang terkasih dalam Tuhan, setiap kita yang hidup di dalam Tuhan adalah orang merdeka. Di mana kita telah dimerdekakan dari dosa kita oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, ketika kita sudah dimerdekakan di dalam Tuhan, kita tidak hidup lagi di dalam kegelapan dunia ini. Tetapi kita telah hidup di dalam terang tuhan yang ajaib dan kita diberikan hati sebagai hamba yang selalu menyenangkan hati tuannya di mana kita sebagai hamba Allah diberi tugas mulia untuk memuliakan nama Tuhan. Saudara, melalui hidup kita yang merdeka ini, kita bisa menunjukkan kehidupan kita sebagai kesaksian bagi orang-orang disekitar kita.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, ketika kita melakukan keempat hal ini, secara otomatis kita bisa melakukan yang dikatakan dalam ayat yang ke 17 di mana dikatakan disana kita pasti menghormati orang-orang disekitar kita dan mengasihi saudara-saudara kita dan kita juga pasti takut akan Tuhan. Saudara yang terkasih dalam Tuhan, dengan kita melakukan keempat hal ini, hidup kita bisa seperti bintang yang menerangi kegelapan dunia yang memancarkan sinar mulia.
Saudara, yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, sudahkah hidup kita ini menjadi kesaksian dimanapun kita berada?? Kiranya Firman Tuhan ini bisa menjadi berkat dan bekal kita dalam setiap kehidupan kita. Amin.

Bahan Sharing Dalam Kelompok Kecil

Tema              : Menyenangi Firman Tuhan
Nats                : Mazmur 19:8-15
Audience        : Remaja

Shalom teman-teman. Teman-teman, saya ingin ketika saya bertanya nanti, teman-teman disini berpartisipasi untuk memberikan tanggapan atau pendapat. Saya ingin kita saling berbagi pendapat dengan teman-teman kita yang ada di tempat ini, sehingga kita sama-sama mengerti akan apa yang ingin disampaikan Tuhan melalui Firman-Nya pada malam hari ini. Saya ingin teman-teman tidak sungkan-sungkan untuk memberikan pendapat. Salah benarnya pendapat teman-teman itu tidak masalah, yang terutama kita bisa sama-sama mengerti akan Firman Tuhan yang akan kita diskusikan bersama pada malam hari ini. Teman-teman, pernah tidak menyenangi seseorang atau menyenangi suatu barang?? Teman-teman dulu saya paling senang jahilin orang. Saudara, jika kita menyenangi sesuatu apa sih yang kita rasakan?? Mengapa kamu menyenangi hal tersebut??
Saudara, ketika saya sudah selesai menjahilin teman-teman saya biasanya saya merasa senang, karena sudah puas ngerjain orang. Teman-teman, hari ini kita mau berbicara mengenai mengapa kita harus menyenangi Firman Tuhan.
1.      Menurut teman-teman mengapa kita harus menyenangi Firman Tuhan??
2.      Jika kita menyenangi Firman Tuhan, apa yang kita dapatkan??
Teman-teman, dalam nats yang kita baca tadi, kita mau belajar dari seorang Abdi Allah, tapi bukan Abdi saudara kita yang disini ya... Abdi Allah yang dikatakan disini adalah seorang yang hidupnya bergantung pada Tuhan yaitu seorang yang sangat sering kita dengar yaitu Daud. Daud dalam mazmurnya ini mengatakan kepada pembaca apa yang dia alami bersama Tuhan. Dari nats ini ada beberapa point yang bisa kita lihat, mengapa seseorang atau setiap kita menyenangi Firman Tuhan.
1.      Kita menyenangi Firman Tuhan karena Firman Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa. Seperti yang bisa kita lihat di dalam mazmur 23:3. Dikatakan Tuhan menyegarkan jiwa. Bagaimana caranya?? Itulah dia dikatakan disini dengan Firman-Nya.
2.      Karena Firman Tuhan itu teguh, memberi hikmat. Seperti yang dialami oleh Ayub. Penderitaan yang begitu luar biasa, dia tidak hanya kehilangan harta tetapi juga kehilangan anak-anaknya dan juga dijauhi sahabat-sahabatnya bahkan isterinya mencela. Tetapi dengan kehidupannya yang berpegang teguh di dalam Tuhan, dia mendapatkan hikmat yang luar biasa dalam hidupnya.
3.      Karena Firman Tuhan itu menyukakan hati dan murni serta membuat mata bercahaya. Ketika seseorang melakukan dosa, Firman Tuhan mengingatkan dia melalui orang disekitarnya atau ketika dia berdoa atau bisa saja Tuhan mengetuh hatinya sehingga dia sadar akan apa yang dilakukannya. Contoh yang biasa kita lihat dalam hidup kita adalah, ketika berbohong, pasti hati nurani kita tidak tenang. Kita akan selalu kepikiran akan apa yang kita lakukan. Benar tidak teman-teman??? Pernah merasakan hal seperti ini?? Atau hal yang biasa dalam rumah kita, ketika orang tua kita menyuruh kita melakukan suatu hal, tetapi kita tidak mau, melainkan membantah, bagaimana perasaan saudara?? Apakah hati anda tenang??
4.      Karena Firman itu membuat kita takut akan Dia yang adil, yang lebih dari semuanya. Di mana kita tahu bahwa Allah yang sudah menjadi Firman itu, Dia melebihi apapun yang ada di dunia ini. Dia lebih dari emas, perak dan bahkan lebih dari madu.
Teman-teman, orang yang berpegang pada Firman Tuhan dikatakan di sini, mendapatkan upah yang bersar. Upah seperti apa saudara?? Dikatakan dalam Firman Tuhan, upah yang didapatkan oleh orang yang berpegang pada Firman Tuhan itu adalah kehidupan yang kekal dan juga pertolongan yang daripada Allah sendiri dan juga kemenangan yang luar biasa yang berasal dari Yesus Kristus sendiri.
Teman-teman, maukah kita mendapatkan semuanya itu?? Maukah kita mendapatkan upah yang besar itu?? Apa kira-kira contoh yang real yang bisa kita lihat ketika seseorang menyenangi Firman Tuhan?? Dia rajin berdoa, saat teduh tanpa bolong-bolong, mau memberitakan kabar baik tentang Tuhan kita Yesus Kristus.

Kiranya perenungan kita ini bisa mengingatkan kita kembali supaya kita tetap menyenangi Firman Tuhan. 

khotbah

Tema              : Segala Sesuatu Harus Dilepaskan Untuk Mengikut Yesus
Nats                : Lukas 14:25-35
Audience        : Umum

Pendahuluan
Syalom, selamat sore bapak ibu saudara yang terkasih dalam Tuhan. Kita bersyukur pada sore hari ini kita bisa berkumpul kembali di tempat ini untuk bersekutu kembali dengan Allah kita bersama dengan saudara kita seiman. Bapak, ibu, saudara yang terkasih dalam Tuhan, tema yang akan kita renungkan bersama pada hari ini adalah “segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut Yesus”. Mari kita sama-sama membuka Alkitab kita dari Lukas 14:25-35.
Bapak, Ibu, saudara yang terkasih dalam Tuhan, pada waktu saya baru duduk di bangku SMA, ada seorang guru ketika dia mengajar dia tiba-tiba mennyakan sebuah pertanyaan kepada kami. Dia mengatakan, “mengapa kamu mau menjadi orang Kristen??? mengapa kamu mau mengikut Tuhan??” saat itu kami semua terdiam dan bertanya dalam hati, ya benar juga ya. Mengapa saya jadi orang kristen yang mau mengikut Yesus. Kemudia sang guru kembali mengatakan kepada kami, “apakah karena orang tua kita orang Kristen?? atau karena kita lahir di komunitas kristen???”
Saudara, mungkin bukan hanya kami yang berpikir demikian. Mungkin saudara juga pernah mengalami hal demikian. Dan hal yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita ketika kita mau mengikut Tuhan. Apa yang menjadi motivasi kita?? Apakah karena kita berpikir ketika saya mau mengikut Tuhan saya pasti akan diberkati. Saya pasti akan kaya, dan saya pasti bisa mewujudkan apa yang saya inginkan, serta saya pasti bisa berkelimpahan. Ketika yang kita inginkan dan impikan itu tidak tercapai, tidak terpenuhi maka apa yang terjadi saudara??? Kita kecewa, kita marah kepada Tuhan. Siapa yang salah dalam hal ini saudara? Apakah karena imannya yang kurang?? Saudara, apakah benar semudah yang kita pikirkan itu untuk mengikut Tuhan??
Saudara, dalam nats yang telah kita bacakan tadi, di sana dikatakan banyak orang yang berduyun-duyun mengikut Tuhan dalam perjalanannya. Saudara apakah Yesus Kristus bahagia banyak orang yang mengikut Dia pada saat itu?? Apakah Yesus Kristus tertarik dengan banyaknya orang yang mengikut Dia??? Tidak saudara. Yesus Kristus tidak tertarik dengan banyaknya orang itu. Tetapi Yesus Kristus tertarik pada komitmen orang tersebut.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, pada hari ini saya mau membagikan tiga poin yang bisa kita perhatikan ketika kita mengikut Yesus, yaitu:
1.      Membenci Bapanya, Ibunya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan. (26)
Ketika kita mengikut Yesus dan tidak mau membenci bapa, ibu, anak-anak dan saudaranya serta dirinya sendiri, maka dia tidak bisa menjadi Murid Tuhan. Saudara, bagaimana kalau begini, tetapi jika kita lihat perintah Allah kepada kita, kita harus mengasihi sesama kita, kita harus mengasihi orang tua, saudara kita. Dalam hal ini kita diperintahkan ketika kita mau mengikut Yesus kita harus membenci semuanya itu.
Saudara yang terkasih, maksud dari membenci di sini adalah kita tidak boleh mengasihi mereka lebih banyak, daripada mengasih Allah. Yesus Kristus menjadi prioritas utama dari semuanya, dan orangtua, saudara dan yang lain merupakan prioritas kedua setelah Yesus Kristus.
Pada abad pertama, tidak ada istilah kata santai. Ketika seseorang memutuskan untuk mengikut Yesus, maka itu harus diikuti dengan harga yang harus dibayar. Pada saat itu, orang yahudi yang memutuskan untuk mengikut Yesus, maka mereka siap untuk diasingkan dalam keluarganya. Dan ketika seorang menginginkan penerimaan keluarga jauh lebih penting dan lebih diinginkan maka seorang ini tidak bisa mengikut Yesus. Dengan demikian pada masa itu, jika seorang tidak menjadikan Kristus prioritas utama maka dia tidak dapat menjadi murid-Nya.

2.      Berani memikul salib (27)
Ketika seorang mengatakan ingin menjadi murid Yesus, berarti dia harus siap memikul salib. Seperti apa memikul salib yang dimaksudkan disibni saudara??? Apakah seperti Yesus ketika Dia akan disalibkan?? Tidak saudara. Dalam kehidupan kita ini, memikul salib yang dimaksudkan adalah kita berani bayar harga, berani menyangkal diri kita. Berani menerima celaan dari orang yang tidak suka dengan kita, berani ditolak sama seperti Yesus sendiri di mana Dia ditolak, dicela bahkan diperlakukan tidak baik oleh orang-orang yang tidak suka kepadanya. Dengan demikian ada sebuah perkataan yang dipakai untuk orang-orang yang berkomitmen mengikut Yesus, yaitu siap ditolak oleh dunia (1 yoh. 3:13, yoh. 15:18-19; 17:14).
Ada seorang ibu datang kepada seorang pendeta, dia menceritakan keluhan-keluhannya, di mana anaknya kecanduan narkoba, suaminya pemabuk dan blm dapat-dapat kerja, dan sang ibu hanya sebagai seorang ibu rumah tangga. Dia mengatakan kepada pendeta tersebut, bahwa mungkin itu adalah salib yang harus dia pikul. Saudara, apakah benar seperti itu salib yang Tuhan maksudkan untuk dipikul??
Saudara, jika kita lihat dalam kehidupan kita, bagaimana dengan kita apakah kita sudah memikul salib tersebut??? Ataukah kita takut dijauhi banyak orang??? Sudara, dalam nats yang kita bacakan tadi ada dua ilustrasi mengenai bayar harga. Yaitu yang pertama, ilustrasi membangun menara. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa ketika kita berkomitmen untuk mengikut Yesus, itu sama dengan kita membangun sebuah menara. Di mana ketika kita membangun sebuah menara, kita terlebih dahulu menghitung pengeluaran yang kita butuhkan. Membangun menara itu memerlukan biaya yang besar jadi kita harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya untuk itu. Jika kita tidak menghitung biaya yang kita perlukan maka ketika kita membangunnya, dan dipertengahan pembangunan, bahannya kurang maka kita akan ditertawakan oleh orang yang melihatnya. Dan seperti itulah ketika kita mengikut Tuhan, kita terlebih dahulu mengambil komitmen dan kita juga sudah memikirkan hal-hal seperti apa yang kita akan alami ketika kita mengikut Tuhan.
Yang kedua, ilustrasi raja dan angkatan daratnya. Seorang raja harus tahu terlebih dahulu berapa banyak musuh yang akan dihadapinya sehingga dia bisa mempersiapkan angkatan daratnya untuk menghadapi musuh tersebut. Dari ilustrasi ini kita bisa melihat ketika kita mengikut Yesus, kita harus mengerti seperti raja itu tahu apa yang harus dia lakukan dan seperti itulah dalam mengikut Yesus, kita harus mengerti dan mengetahui siapa sebenarnya Yesus yang kita ikuti. Tidak hanya ikut-ikutan, kita melihat orang lain mengikut Tuhan, kita jadi ikut tetapi dalam hal ini kita harus tahu mengapa kita harus mengikut Dia.

3.      Melepaskan harta/ materialistik duniawi (33)
Ketika kita mengikut Tuhan, kita rela meninggalkan segala sesuatu yang kita punyai. Kita rela meninggalkan harta duniawi kita, kita tidak mau terikat pada harta duniawi yang kita miliki. Saudara, jika berbicara tentang harta kita bisa melihat dalam Lukas 18:18-27 yaitu tentang orang kaya sukar masuk surga. Dalam nats ini dikatakan ada seorang kaya datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana dia bisa mengikut Tuhan. Yesus Kristus mengatakan bahwa dia harus mengasihi sesamanya, dan dia mengatakan bahwa dia telah melakukan hal tersebut. Kemudian Yesus mengatakan kepadanya, juallah seluruh hartamu, dan kembalilah serta ikutlah Aku. Ketika mendengar perkataan Yesus seperti itu, maka orang kaya itu sedih hati. Jika kita pikir secara manusiawi, hartanya semua harus dia berikan kepada orang yang tidak mampu, dia tidak rela. Di sinilah Yesus mengatakan bahwa orang kaya itu suah masuk surga karena dia tidak rela meninggalkan apa yang dia miliki dalam dunia ini.
Pada ayat 34-35 dalam nats ini berbicara mengenai peringatan tentang garam. Saudara kita tahu apa fungsi dari garam. Garam itu digunakan sebagai bahan pengawet, sebagai pupuk, dan yang lain. Kita tahu garam ini berharga tetapi ketika fungsi dari garam itu hilang maka garam tersebut tidak memiliki nilai lagi. Maka garam itu akan dibuang. Dari perikop ini menjelaskan kepada kita harga yang harus dibayar ketika kita menjadi pengikut Yesus. Yesus menginginkan kita menjadi pengikut-Nya yang siap untuk bayar harga, yang berani mengambil komitmen yang benar. Kita mau mengikut Tuhan bukan karena apa yang Dia berikan kepada kita, bukan karena mujizat yang kita alami, bukan karena banyak orang yang mengikut Dia, tetapi karena kita menyadari dan kita tahu siapa Dia yang kita ikutin, yang kita sembah. Ketika kita mengikut Tuhan, kita harus berani bayar harga, jangan sampai komitmen yang kita pengang itu hilang. Kiranya firman yang kita renungkan pada hari ini menjadi berkat bagi kita semua. Amin.


Thema            : Memuliakan tuhan dan baik untuk sesama
Nats                : Efesus 4: 25-32
Audience        : Komisi lansia

Pendahuluan
Syalom bapak Ibu yang terkasih dalam Tuhan. Bersyukur hari ini kita diberikan kesempatan sekali lagi untuk bersekutu bersama di tempat ini untuk bersekutu dengan Tuhan bersama dengan saudara kita seiman. Bapak, Ibu, saudara yang terkasih di dalam Tuhan, kita tahu pada bulan ini tema kita semuanya berkaitan tentang bagaimana kita hidup dalam sebuah komunitas. Pada minggu I tanggal 4 bulan juli ini kita telah merenungkan bersama tentang hidup rukun dan saling menghormati. Dari tema ini kita telah mendapatkan hal yang berharga yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Dan pada minggu yang ke-II tanggal 18 bulan ini juga kita telah merenungkan bersama tentang bagaimana kita dalam kehidupan ini memiliki tekad hati yang bersatu. Tibalah saatnya pada hari ini, kita kembali merenungkan bersama sebuah tema yang indah yaitu, “memuliakan Tuhan dan baik untuk sesama.”
Bapak ibu yang terkasih dalam Tuhan, jika kita melihat dan merenungkan tema ini, bekaitan dengan sikap kita kepada orang lain, atau cara kita berespon kepada orang disekitar kita. Bapak, Ibu, mari kita membuka Alkitab kita dalam Surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Efesus 4:25-32, mari kita baca secara bertanggapan. Yang pertama dalam bahasa Indonesia dan nanti akan dilanjutkan dalam bahasa mandarin.
Bapak, Ibu, seperti yang telah saya sampaikan tadi, bahwa tema kita pada hari ini adalah tentang “Memuliakan Tuhan dan baik untuk sesama.” Jika kita melihat dari Firman yang telah kita baca bersama, ada 3 hal atau sikap yang sangat penting kita pegang, kita terapkan dan kita terapkan ketika kita hidup dalam sebuah komunitas. Sehingga komunitas tersebut bisa berkembang dan hal-hal tersebut berguna bagi sesama kita.

1.    Berkata jujur (25)
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”
Bapak, Ibu yang terkasih dalam Tuhan, ketika kita hidup dalam sebuah komunitas kita tidak terlepas dari yang namanya persekutuan. Dalam sebuah komunitas kita memiliki satu kerinduan bersama untuk kita capai bersama. Contohnya, kita rindu dalam sebuah komunitas kita bisa bertumbuh bersama, semakin mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Ketika kita mau bertumbuh dalam sebuah komunitas kita juga membutuhkan orang lain untuk mendorong kita, untuk menjadi teman doa kita atau teman sharing kita.
Ketika kita sharing pada orang lain, berarti kita sudah mempercayai dia. Dalam sebuah komunitas dibutuhkan sebuah kejujuran supaya komunitas tersebut bisa bertumbuh bersama. Dalam sebuah komunitas tidak mungkin selamanya berjalan dengan mulus, dengan nyaman dan tenang tanpa masalah sedikitpun. Terkadang karena hal-hal kecil sebuah komunitas itu bisa hancur. Tetapi bapak, Ibu, jika dalam komunitas itu kita memiliki perkataan yang jujur, kita mau mengatakan kejujuran pada sesama kita maka masalah apapun yang kita hadapi bisa diselesaikan. Mungkin anda mengatakan tidak ada apa-apa kepada orang lain, dan orang lain tidak tahu apa yang ada dalam hati setiap kita maka yakinlah ada yang tahu apa yang ada dalam hati kita. Yaitu Tuhan Allah kita. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati setiap orang walaupun ditutup-tutupi.
Bapak, Ibu saya mau menanyakan satu hal kepada kita semua. Adakah diantara kita disini yang tidak pernah marah?? Saya rasa tidak ada. Semuanya kita pasti pernah mengalami yang namanya marah. Mungkin ibu-ibu dan bapak-bapak disini marah kepada anak, cucu, menantu karena ada hal yang tidak bapak ibu inginkan mereka lakukan dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, bapak, ibu marah kepada mereka. Bapak, Ibu, salahkah jika kita marah?? Saya pikir tidak salah marah. Mengapa saya katakan demikian, karena ketika marah pada orang lain, itu karena ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Tetapi ketika kita marah kepada mereka, jangan sampai kita melukai hati mereka. Ketika kita marah, kita memberitahukan apa yang salah supaya mereka tahu dan mereka bisa memperbaikinya.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, Firman Tuhan mengatakan kepada kita supaya ketika kita marah jangan sampai matahari terbenam sebelum pada amarahmu. Apa maksudnya ini saudara? Maksud dari perkataan tersebut adalah, dimana ketika kita mempunyai masalah/ konflik dengan orang lain, konflik itu jangan berlarut-larut. Jangan dibiarkan begitu saja. Tetapi langsung diselesaikan saat itu juga. Jangan sampai kita memberikan kesempatan kepada iblis untuk menguasai dan memperalat kita. Ketika kita melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini dalam kehidupan kita maka disitulah kita mempermuliakan nama Tuhan dan yang kita lakukan itu berguna bagi sesama kita.

2.    Perkataan yang membangun (29)
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
Bapa, Ibu apa yang dimaksudkan dalam ayat ini?? Di sini kita diperintahkan Tuhan untuk menjaga cara bicara kita, jangan asal ceblas-ceblos. Ketika kita berbicara dengan orang lain, kiita harus berhikmah, jangan sampai omongan yang kita katakan itu membuat orang lain menjadi patah semangat, menjadi down, tetapi perkataan kita itu memberikan masukan kepada dia dan mendorong dia untuk tetap mau dibentuk, diperingati dengan baik.contoh praktis yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita, ketika bapak, ibu mau menasihati anak, menantu dan cucu bapak, ibu, maka kata-kata yang kita keluarkan dari mulut kita itu harus membangun, harus berhikmat.
Bapak, ibu seperti yang pernah saya alami, mungkin ini menurut orang lain adalah hal yang kecil. Walalupun hal ini merupakan hal yang kecil , tetapi sangat berpengaruh. Waktu saya masih SD, saya pernah dimarahin oleh seorang guru dan dipukul. Waktu itu saya menangis dan ketika pulang sekolah saya beritahukan kepada mama saya. Saya berharap mama saya memberikan masukan yang bagus dan yang bisa saya terima. Ternyata mama saya mengatakan, kalau itu karena kesalahan saya, tidak apa-apa.  Terima saja. Saat itu saya menangis dan saya sakit hati kepada mama saya, saya bersedih hati.
Saudara ini adalah hal yang kecil, hal yang sepele, tetapi respon kita kepada orang lain, perkataan kita kepada siapapun jangan sampai menyakiti hatinya. Perkataan kita itu haruslah berhikmat, jangan sampai perkataan itu membuat orang lain terluka.

3.    Perkataan kasih mesra (32)
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Bapak, Ibu, dalam ayat ini Rasul Paulus mengingatkan kita kembali supaya setiap perkataan kita itu penuh kasih mesra, dan kita saling menmgampuni. Ketika kita mengobrol, bertemu dengan orang lain, kita harus ramah seorang dengan yang lain. Ketika kita bertemu dengan siapapun, kita tidak boleh hanya lewat begitu saja, kita sapa, kemudian ketika kita ada waktu luang, kita bertemu dengan orang lain, ketika kita berbicara dengan dia, kita tidak hanya sekedar basa-basi, tetapi kemungkinan saudara kita tersebut butuh dukungan, butuh teman sharing, kita mencoba bertanya, kita ajak sharing sehingga dia bisa lebih aman.
Saudara, kita juga dikatakan saling mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni kita terlebih dahulu. Saudara saya pernah mendengan sebuah kisah, dimana dalam sebuah persekutuan itu mereka berdoa bersama dan sama-sama menmgucpkan doa bapa kami. Ketika mau mengatakan ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dia terdiam. Mengapa saudara?? Karena dia belum mengampuni orang lain. Mungkin saudaranya, mungkin sahabatnya, atau mungkin orang-orang sekitarnya.
Bapak, Ibu dari Firman Tuhan tadi kita diperintahkan untuk saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni kita. Coba bapak ibu bayangkan, berapa banyak kesalahan kita yang telah kita lakukan kepada sesama kita dan juga kepada Tuhan?? Tetapi kita bisa melihat kasih Tuhan, pengampunan-Nya yang luar biasa. Walaupun demikian Dia memberikan pengampunan kepada kita. Ini merupakan hal yang sangat penting ketika kita hidup dalam sebuah komunitas sehingga komunitas itu bisa bertumbu.
Bapak, Ibu yang terkasih dalam tuhan, bagaimana dengan saudara dan saya, bagaimana dengan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan kita ini, dan bagaimana dengan perkataan yang keluar dari mulut kita?? Apakah mempermuliakan Tuhan?? Apakah berguna bagi sesama kita??? Marilah kita belajar dari tiga point tadi dalam kehidupan ini. Mari bapak, Ibu, kita mau berkata jujur, dan perkataan-perkataan kita membangun sesama kita dan perkataan kita penuh kasih mesra sehingga nama Tuhan dipermuliakan serta tindakan itu berguna bagi sesama kita. Amin.

Bahan sharing dalam kelompok kecil
Tema : Menanam Benih hingga bertumbuh
Nats : Markus 4:26-29

Menarik melihat bagaimana Yesus Kristus mencoba menyederhanakan pengertian mengenai kerajaan Allah untuk diajarkan kepada orang banyak lewat perumpamaan mengenai menanam benih. Yesus memulainya dengan, “lalu kata Yesus, “beginilah hal kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menabur benih di tanah” (Markus 4: 26). Agar sebuah tumbuhan bisa tumbuh, tentu terlebih dahulu kita menanam atau menaburkan benih. Tidak akan ada tanaman yang bisa tumbuh  tanpa berawal dari benih. Inilah yang sering menjadi titik permasalahan utama. Ketika kita mengeluh mengapa kita tidak kunjung bertumbuh lebih baik dari hari kemarin kita sering terburu-buru menyalahkan Tuhan. Padahal masalahnya ada pada diri kita sendiri. Kita mengira dan terus membiarkan Tuhan untuk menghasilkan pertumbuhan pada kita. Prosesnya bukanlah seperti itu. Kita harus memulainya dengan menanam benih, kemudian menyiram, memupuk dan mengurusnya terlebih dahulu. Kemudian dari sana kita akan mulai bertunas dan pada akhirnya dengan ketekunan kita akan mampu memperooleh berkat-berkat Tuhan yang membuat kita subur dan terus berbuah sepanjang musim. Baik dalam keadaan suka maupun duka, keadaan bahagia ataupun menghadapi masalah, apabila benih yang kita tanam bertumbuh subur dan rimbun, maka tidak ada hal apapun yang bisa menghentikan kita untuk terus berbuah. Kuncinya adalah satu yaitu benih. Benih itulah nantinya yang akan bertumbuh sehingga kerajaan Allah bisa turun atas diri kita saat ini juga, tidak perlu menunggu hingga kita dipanggil Tuhan terlebih dahulu.
Ketika Yesus mengatakan bahwa kerajaan Allah itu seperti layaknya orang menanam benih, itu artinya ada sebuah proses continue yang harus kita lakukan mulai dari proses menanam, memupuk, menyiram, mengurus, hingga merawat sampai tanaman itu bisa tumbuh sehat dan subur. Pertama-tama tentu kiita mulai dengan menanam atau menabur benih Firman dalam iman. Kita harus mulai mencari dan mendapatkan janji-janji berharga Allah yang telah Dia nyatakan lewat Firman-firman-Nya, lalu mulai menanam itu semua di dalam hati kita, dalam diri kita. Lalu kemudian kita harus serius memupuk dan menyiraminya. Lewat apa?? Lewat puji-pujian dan ucapan syukur kita. Lewat ketekunan kita mengisi diri kita dengan lebih banyak lagi Firman Tuhan. Dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukan. Semua itu perlu kita buat untuk memupuk dan menyirami tunas yang mulai bertumbuh agar bisa semakin besar dan sehat.
Lalu seperti halnya tanaman manapun, akan selalu ada gulma atau tanaman liar yang tumbuh disekitarnya, yang akan mempu merebut nutrisi sehingga tanaman kita sulit bertumbuh dengan baik. Semua itu harus kita cabut, bersihkan hingga akar-akarnya. Seperti apa gulma yang bisa menghambat pertumbuhan kita??kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, putus asa, perbuatan-perbuatan dosa yang kita tolerir dalam hidup kita, berbagai perilaku negatif atau kebiasaan buruk, itu semua akan menjadi tanaman liar atau gulma yang bisa menghambat laju pertumbuhan kita. Semua itu haruslah dibersihkan sampai tuntas, dan lakukan sejak dini sebelum mereka semua bertumbuh semakin subur dan menghancurkan kita.

Perhatikanlah bahwa perumpamaan yang diberikan Yesus ini sungguh luar biasa tepat. Dalam bentuk yang sangat sederhana, kita akan mampu mengerti bagaimana kita bisa memperoleh kerajaan Allah untuk turun dan terjadi atas kita sejak kita masih berada di dunia ini. Dari perumpamaan ini jelas kita lihat bahwa untuk memperoleh itu semua dibutuhkan usaha keras yang sangat serius, butuh kerajinan dan ketekunan. Tidak ada orang yang berhark berharap untuk memperoleh tanaman subur tanpa melakukan apa-apa bukan?? Seperti itupulalah proses yang seharusnya kita lakukan agar benih Firman yang kita tanam bisa menghasilkan buah-buah yang manis untuk hidup kita dan orang-orang lain disekitar kita. Kita harus terus mengawasi lahan di mana kita menanam, memastikan bahwa tunas itu bisa bertumbuh tanpa gangguan tanaman-tanaman liar dan hama, dan terus berusaha untuk memberi pupuk, menyiram dan merawatnya. Hanya dengan melakukan itu barulah kita bisa berharap hasil yang baik. Apa yang dijanjikan Tuhan jelas, “pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” (mazmur 92:15). Siapa yang bisa memperoleh janji ini?? Ayat sebelumnya menyebutkan demikian, “orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di libanon; mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas dipelataran Allah kita.” (13-14). Orang-orang benar adalah orang-orang yang benar-benar melakukan sebuah proses serius dan berkesinambungan, orang-orang yang tidak berpangku tangan melainkan mau sungguh-sungguh menabur atau menanam benih, menyiangi, menyirami, memupuk secara teratur. Orang-orang seperti itu yang mampu menghasilkan buah yang gemuk dan segar bahkan hingga masa tuanya. Dan semua itu tidak akan terpengaruh oleh musim atau keadaan lingkungan sekitar. Sekali lagi, ingatlah bahwa Tuhan bukan saja bekerja untuk kita. Tetapi Dia bekerja dengan kita. Mari kita mengerjakan bagian kita dan percayakan Tuhan untuk melakukan bagian-Nya. Seperti menabur benih, demikianlah kerajaan Allah bertumbuh dalam hidup kita.