Kamis, 18 Oktober 2012

TAFSIR KEJADIAN 6:1-8 KEJAHATAN MANUSIA



TAFSIR KEJADIAN 6:1-8 KEJAHATAN MANUSIA

I.       PENDAHULUAN
Dalam kitab kejadian membahas tentang penciptaan manusia dan alam beserta isinya. Dan juga tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa tetapi walaupun manusia itu telah jatuh ke dalam dosa, Allah menjanjikan keselamatan bagi manusia itu. Pada zaman sekarang kita bisa melihat manusia ciptaan Allah itu makin bertambah banyak, tetapi manusia itu tidak hanya bertambah banyak melainkan manusia itu juga semakin jahat. Hal ini dapat kita lihat dalam kejadian 6:1-8 pada keturunan Kain dan Set. Di mana keturunan dari Kain adalah anak-anak perempuan  manusia, dan keturunan dari Set adalah keturunan yang saleh.
Pada keturunan kain terjadilah masalah kawin-mengawini. Di mana Lamekh adalah orang pertama berpoligami, menunjukkan sikap sombong ia membanggakan dirinyan bisa memusnahkan manusia dengan senjata-senjata yang hebat. Dan juga hal yang menarik dalam silsilah kain adalah di mana Allah sama sekali tidak disebutkan dalam silsilah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam zaman kain adalah di mana manusia itu membuat keputusan dengan keinginan sendiri melewati batasan yang telah Allah berikan. Mereka tidak mendengarkan apa keputusan-keputusan yang Allah berikan.
Dari kejadian ini, kita dapat melihat apakah Allah memang benar-benar menyesal, dan mengapa Allah dikatakan menyesal? Dan pada masa sekarang ini, bagaimanakah perkembangan kejahatan manusia itu? Dalam makalah ini, penulis membahas tentang kejahatan manusia dalam kejadian 6:1-8. Dimana, manusia itu makin bertambah banyak dan berkembang, tetapi manusia juga semakin jahat, sehingga Allah menyesal dan ingin memusnahkan semua umat manusia itu, tetapi seorang yang berkenan di hadapan Allah mendapatkan kasih karunia yaitu Nuh. Allah tidak akan memusnahkan semua umat manusia, karena ketika Allah menciptakan manusia Allah berfirman bahwa Allah menyuruh manusia itu memenuhi bumi. Melalui hal tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah setia pada janji-Nya yang telah diberikan-Nya sejak penciptaan kepada manusia. Di mana perjanjian Allah sejak pertama ditetapkan dengan Nuh sebagai wakil manusia berikutnya.[1]

II.    LATAR BELAKANG KITAB
Analisis historis
Kejadian 6:1-8 merupakan peralihan yang menjelaskan keadaan manusia sebelum dihancurkan dan diberikan bentuk kembali oleh air bah. Manusia bertambah bejat, maka Allah bermaksud memusnahkan keturunan Kain. Hanya keturunan Set yang akan diteruskan melalui keluarga seorang yang bergaul dengan Allah. Masalah kawin-mengawini merupakan kebencian di hadapan Allah. Ukuran beratnya ialah pernyataan murka Allah, air bah sebagai penghukuman terberat yang pernah dijatuhkan atas manusia.[2]
Kejahatan manusia itu dapat kita lihat pada keturuna-keturuna Kain, dan juga pada Kain sendiri. Di mana Kain membunuh saudaranya Habel karena irihati. Dan pada keturunan Kain, di mana Lamekh berpoligami, dan Allah membenci masalah kawin-mengawini khususnya mengambil isteri dua sesuai kehendak hati manusia itu sendiri dan siapa saja yang mereka sukai. Dari kejadian ini dapat kita lihat bahwa manusia itu melanggar batasan-batasan yang telah Allah tetapkan untuk mereka.
Kemerosotan moral manusia yang jelas kelihatan dalam kejadian , yang diilustrasikan oleh Kain dan Lamekh, mencapai puncaknya dalam kejadian 6. Sewaktu manusia bertambah banyak dan berkembang, begitu pula dengan kejahatan manusia. Kecenderungan manusia menjadi begitu jahat sehingga Allah harus menghakimi mereka, dan Ia melakukannya dalam air bah besar. Sifat dan luasnya pengadilan Allah selalu mencerminkan beratnya dosa yang sedang  dihukum dan air bah itu memusnahkan seluruh hidup manusia, kecuali keluarga Nuh. Allah melihat bahwa dosa umat manusia sebelum air bah begitu jahatnya sehingga hanya pemusnahan yang hampir total yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan-Nya yang suci.[3]

III. ISI
Kejadian 6:1-2,”Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.”
ü  Anak-anak Allah dan anak-anak perempuan
Dalam ayat ini, sebuah teori mengatakan bahwa anak-anak Allah (~yhil{a/h'(-ynEb.))), berarti malaikat, tetapi penafsir ini salah. Penafsir ini menafsirkan idak sesuai dengan kecenderungan pada zaman sekarang. Kecenderungan pada zaman ini adalah dosa dan kejahatan manusia (bukan dosa dan kejahatam malaikat) dibiarkan sehingga perkembangannya berkembang dengan sangat cepat. Jika teori tentang malaikat yang benar, sejarah perkembangan dosa dan kejahatan bukanlah sjarah manusia tetapi menjadi sejarah malaikat.[4]
            Teolog-teolog mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah malaikat, di mana mereka melihat sama seperti Sodom dan gomora dan kota-kota sedkitarnya yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar keputusan-keputusan yang tidak wajar. Menurut teori mereka, melihat bahwa penduduk kota melakukan percabulan dan mengejar keputusan-keputusan yang tidak wajar seperti malaikat-malaikat. Dan keputusan yang tidak wajar itu merupakan tubuh yang lain, akan tetapi malaikat tidak bertubuh dan karena itu istilah tubuh yang lain tidak dipakai untuk malaikat. Tidak hanya demikian mengambil istri, berarti menjadikan istri dan hidup bersama sampai kekal, tidak berarti hanya melakukan percabulan hanya sekali. Dari pandangan ini mengatakan bahwa malaikat berkeluarga dan hidup kekal tidak sesuai dengan Firman Allah. Oleh karena itu, anak Allah yang berarti orang-orang percaya yang takut akan Allah. Dan anak-anak perempuan adalah anak-anak perempuan yang tidak percaya, yang tidak kudus pada waktu itu.[5]
Penafsir yang lain mengatakan bahwa anak Allah yang dikatakan dalam ayat ini seolah-olah keturunan Set yang saleh, yang pada waktu itu mulai menikah dengan perempuan dari keturunan orang-orang yang tidak beribadah. Hal ini membuat mencainya kemurnian keturunan umat Allah.[6] Tetapi beberapa penafsir tidak setuju dengan pendapat ini, melainkan mereka setuju bahwa anak Allah tersebut adalah malaikat. Di mana beberapa malaikat itu meninggalkan tempat kediamannya yang sesungguhnya dan mereka mengambil anak perempuan dari manusia.
Dari penafsiran lainnya juga ada yang mengatakan bahwa anak Allah itu adalah keturunan Set dan putrid-putri manusia itu adalah keturuna Kain. Tetapi, ada juga yang keberatan dengan penafsiran ini, di mana manusia dalam kejadian 6:1 itu adalah dalam ati umum dan yang pada ayat 2 adalah dalam arti khusus yaitu Set dan Kain. Dan ada juga yang mengatakan bahwa anak Allah itu adalah dinasti yang memerintah pada waktu itu, dan anak perempuan itu adalah keturunan dari harem istana.[7]
Pada ayat 1-2 ini mulai dengan menjelaskan relasi antara Set dan Kain. Pada zaman Nuh orang menikah sesuka hatinya tanpa menghiraukan ketetapan Allah yang membedakan antara keturunan Kain dengan keturunan Set. Masalah yang sama kemudian muncul dalam sejarah Israel dan menjadi dasar utama teguran yang Allah berikan melalui nabi Maleakhi.
Anak-anak perempuan manusia dikontraskan dengan anak-anak lelaki Allah. Pengertian ini dapat dimengerti berdasarkan pasal-pasal sebelumnya, di mana keturuna Kain diperkenalkan kepada kita hanya dari sudut daya kreasinya yang luar biasa dan keturunan Set tentunya sama kreatifnya tetapi diperkenalkan melalui kriteria khusus, yaitu hubungannya dengan Allah. Keturunan Set melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik, maka diambilnya menjadi istrinya.[8]
            Kejadian 6:3,” Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja."
ü  Roh-Ku tidak akan tinggal selama-lamanya di dalam manusia
Roh-Ku tidak akan selamanya tinggal di dalam manusia,berarti pekerjaan Allah member hidup kepada manusia dan akan meninggalkannya. Hal itu menunjukkan bahwa manusia di atas bumi akan binasa oleh air bah. Karena manusia itu adalah daging dapat diterjemahkan di mana manusia menjadi daging dalam hal berdosa. Daging berarti keebusukan manusia, umurnya akan seratus dua puluh tahun saja, bukan berarti umur manusia itu yang seratus dua puluh tahun, tetapi maksudnya adalah setelah seratus dua pulu tahun kemudian aka nada penghakiman air bah.[9]
Kejadian 6:4,” Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.”
ü  Orang-Orang Raksasa
Beberapa orang menerjemahkan bahwa orang-orang raksasa itu adalah penyerang-penyerang atau penguasa-penguasa lalim. Dan juga ada yang menafsirkan bahwa orang-orang raksasa itu merupakan iblis seperti dalam kita Ayub, yaitu musuh yang terbelenggu di mana Allah tetap memegang kuasa.
Seorang penafsir mengatakan bahwa orang-orang raksasa itu adalah anak-anak yang lahir dari hubungan anak perempuan keturunan Kain dengan anak lelaki keturunan Set.[10]
Kejadian 6:5,” Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”
ü  Kejahatan manusia besar
Ayat ini mengajarkan bahwa anak-anak Allah yaitu keturunan Set yang kudus menjadi bobrok karena saling mengawini dengan keturunan Kain yang tidak mengenal Allah. Dalam ayat ini mengatakan bahwa kejahatan manusia itun besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Hal itu dijelaskan dengan memberikan penekanan pada dosa dan kejahatan hati yang tidak kelihatan.[11]
Kejadian 6:6,” maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”
ü  Menyesallah Tuhan
Sebenarnya Allah tidak menyesal tetapi ini merupakan ungkapan secara anthropomorphisme untuk menunjukkan bahwa kepiluan hati Allah sangat dalam karena kebobrokan manusia.[12] Allah menyesal sama dengan kata kesakitan yang akan dialami oleh Hawa saat melahirkan. Juga
Kata Allah menyesal dalam kejadian 6:6 merupakan ungkapan disebabkan keternatasan bahasa. Di mana kita tahu bahwa Allah sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum manusia itu  diciptakan karena Ia adalah Mahatahu. Sebelum bumi diciptakan, Ia sudah menetapkan rencana agung-Nya. Istilah menyesal itu hanya sekadar mengungkakan ketidaksetujuan Allah atas kebobrokan manusia, dan tidaklah berarti bahwa Allah kaget melihat apa yang terjadi pada manusia itu.
Kejadian 6:7-8,” Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.”
Allah berfirman bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari bumi ini, namun tidak semuanyam manusia itu dimusnahkan. Hal itu terjadi karena kalau Allah memusnahkan semua manusia itu maka rencana Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa akan gagal. Menurut ayat 8 Allah menyelamatkan seorang yang berkenaan kepada-Nya yaitu Nuh seorang yang tulus hati dan jujur dalam generasinya.[13] Hal itu merupakan penyataan kasih karunia Allah kepada manusia. Di mana seolah-olah penyelamatan kepada Nuh dalam peristiwa ini menggambarkan penyelamatan Yesus Kristus.

IV. APLIKASI TEOLOGIS PADA MASA SEKARANG
Dari beberapa penjelasan-penjelasan di pada bab sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa kasih Allah kepada manusia berdosa tidak pernah berkesudahan. Di mana dapat kita lihat kasih karunia yang Allah berikan kepada Nuh ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia itu karena kejahatan manusia. Kejahatan manusia yang dalam kejadian 6 ini dapat kita lihat ketika anak-anak Allah itu mengambil anak perempuan manusia dan menjadikannya isterinya. Di mana anak-anak Allah melihat anak perempuan manusia itu cantik lalu mengambil mereka menjadi isterinya sesuka hati mereka.
Hal-hal seperti ini dapat kita lihat dalam kehidupan manusia, tetapi bukan dalam wujud seperti yang terjadi dalam kejadian 6 ini lagi. Di mana dalam kejadian 6 Allah berencana memusnahkan manusia itu, dengan mendatangkan air bah karena kejahatannya. Pada masa kini dapat kita lihat bahwa manusia masih ada yang melakukan segala sesuatunya sesuai keinginan mereka tanpa mendengarkan apa keputusan Allah untuk mereka lakukan. Dapat kita lihat pada manusia sekarang yaitu dalam pemerintahan, di mana manusia memerintah sesuka hatinya dan bahkan banyak yang menindas orang-orang bawahannya. Mereka melakukan sesuai apa yang merek lihat dan hal itu merupakan suatu hal yang Allah benci.
Melalui perikop ini dapat kita ketahui bahwa Allah adalah Allah yang setia pada janjinya dimana ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia, Dia memberikan kasih karunia kepada seorang yang berkenaan kepada-Nya. Nuh mendapatkan kasih karunia Allah sehingga ia diselamatkan dari air bah yang memusnahkan manusia. Allah setia pada janji-Nya yang diberikan-Nya kepada manusia pertama yang Dia ciptakan yaitu Adam dan Hawa. Di mana kita mengetahui bahwa Allah berjanji kepada manusia itu untuk memenuhi bumi. Dan juga Allah menjanjikan keselamatan bagi manusia itu akibat dosanya.
Dalam perikop ini, janji Allah itu digenapi dalam diri Nuh, di mana Nuh diselamatkan dari air bah yang memusnahkan manusia. Dan apabila tidak ada manusia yang diselamatkan dari penghukuman air bah tersebut maka gagallah Allah kita Yang Mahatahu dan Mahakuasa. Dan pada masa sekarang dapat kita lihat, bahwa janji Allah itu digenapi dalam diri Yesus Kristu. Di mana Yesus menyelamatkan manusia dari dosa. Hal ini dapat kita lihat bahwa Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal ke dunia dan mati di kayu salib karena dosa-dosa manusia.
Melalui perikop ini juga dapat kita ketahui suatu hal yang sangat penting, yaitu di mana hubungan Allah dengan Nuh adalah suatu hubungan keakarban antara manusia dengan Allah. Dan hubungan keakraban Allah dengan manusia itu dapat kita lihat dalam kehidupan manusia melalui hubungan pribadi. Di mana manusia itu bersekutu dengan Allah secara pribadi tetapi pada masa kini dapat kita lihat hubungan keakraban itu semakin hilang. Hubungan keakraban manusia itu semakin hilang karena dapat kita lihat dalam kehidupan masa sekarang banyak yang poligami seperti Lamekh. Hal ini merupakansuatu hal yang Allah benci. Dan juga hilangnya keakraban manusia dengan Allah menimbulkan manusia kehilangan kerohanian. Hal ini dapat kita lihat melalui tulisan-tulisan mistik yang semakin meningkat.
Melalui perikop ini, dalam kehidupan kita di zaman sekarang ini, kita dapat melihat bahwa tidak salah bila kita disebut hidup dalam zaman anugerah. Yesus Kristus telah menyatakan kebenciannya terhadap dosa dan sekaligus besarnya kasih Allah kepada manusia melalui pengorbanan diriNya di kayu salib menebus manusia dari hukuman dosa. Kebenaran ini memang sangat indah dan patut untuk disyukuri, tetapi bukan membuat manusia menjadi lengah terhadap pengaruh dosa dengan dalih bahwa kita mempunyai Allah yang kasih, yang mau mengampuni setiap pelanggaran kita.

V.    KESIMPULAN
Dari kejadian 6:1-8 ini dapat kita ketahui bahwa manusia itu bertambah banyak dan melahirkan anak-anak perempuan dan ketika anak-anak Allah melihatnya maka mereka mengambilnya menjadi istrinya, sesuai kehendak mereka sendiri. Katika manusia itu semakin jahat, Allah berencana untuk memusnahkan mereka, tetapi hal itu tidak terjadi karena jika demikian maka Allah Yang Makatahu dan Mahakuasa akan gagal. Tetapi seorang yang berkenaan kepada-Nya mendapatkan kasih karunia.
Allah yang kita kenal dari perikop ini adalah Allah yang setia pada janji-Nya, di mana Dia berjanji pada nenek-moyang Israel yaitu manusia pertsama yang Ia ciptakan bahwa manusia itu akan memenuhi bumi. Dan ketika manusia itu semakin jahat, dan jatuh ke dalam dosa maka Allah menjanjikan keselamatan. Dan hal itu dapat kita lihat dalam Nuh. Di mana, ketika Allah berencana untuk memusnahkan manusia itu dari bumi karena kejahatannya, Allah memberikan kasih karunia kepada Nuh. Sehingga Nuh dan keluarganya diselamatkan karena anugerah Allah. Dan pada masa sekarang ini, dapat kita lihat bahwa janji Allah itu digenapi dalam diri Yesus Kristus di mana Yesus memberikan keselamatan bagi manusia berosa. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia. Di mana Yesus Kristus rela mati di kayu salib demi menebus manusia berdosa.


DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, David. 2000. Seri Pemahaman Dan Penerapan Amanat Alkitab Masa Kini Kejadian 1-11 Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
Davis, John J. 2001. Eksposisi Kitab Kejadian, Suatu Telaah. Malang: Gandum Mas.
Green, Denis. 2008. Pembimbing Pada Pengenalan Pengenalan Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.
Heath, W. Stanley. 1998. Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman. Yogyakarta: Yayasan Andi.
Lasor,  W.S. dkk, 1993. Pengantar Perjanjian Lama 1 Taurat Dalam Sejarah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Park, Rev. Yune Sun. 2002. Tafsiran Kitab Kejadian. Jawa Timur: Literatur YPPII.
Sagala, Herlise Y. 2011. Tafsir Torah. Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung.


[1]Denis Green, pembimbing Pada Pengenalan Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2008), Hal 49.
[2] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman, (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1998), Hal 65.
[3] John J. Davis, Eksposisi Kitab Kejadian, Suatu Telaah, (Malang: Gandum Mas, 2001),Hal 113.
[4] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian, (Jawa Timur: Literatur YPPII,2002), hal 50.
[5] Ibid, hal 50.
[6]David Atkinson, Seri Pemahaman Dan Penerapan Amanat Alkitab Masa Kini Kejadian 1-11 Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern,(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2000) , Hal 158.
[7] Herlise Y. Sagala, Tafsir Torah, (Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, 2011), hal 38.
[8] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman,, hal 66.
[9] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian, Hal 51.
[10] W. Stanley Heath,Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman, hal 67.
[11] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian,Hal 15.
[12] Rev. Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian,Hal 15.
[13] W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 1 Taurat Dalam Sejarah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993),Hal 130.