Kamis, 18 Oktober 2012

Teologi Matius 25:1-12 GADIS YANG BODOH DAN GADIS YANG BIJAKSANA


I.         Pendahuluan

Injil Matius merupakan salah satu dari injil sinoptik. Injil Matius ini berfokus untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Setiap injil sinoptik memberitahukan tentang siapa Yesus. Dan salah satunya adalah injil Matius ini yang memberitahukan Yesus Anak Allah. Dalam injil ini penulis menuliskan beberapa perumpamaan dan salah satu dari perumpamaa tersebut adalah perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Perumpamaan ini merupakan suatu perumpamaan yang membuka wawasan berpikir pembaca tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh perumpamaan tersebut kepada pembaca.
Yesus kristus memakai perumpamaan untuk mengajarkan kepada ssemua orang tentang kedatangan Anak manusia seumpama dengan gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh menyongsong mempelai pada waktu malam. Dan gadis-gadis yang bodoh tersebut tidak mengisi minyak ke dalam lampunya sehingga ketika mempelai terlambat datangnya mereka tidak mempunyai minyak dan mereka meminta kepada gadis bijaksana. Gadis bijaksana tidak memberikannya dan ketika gadis-gadis bodoh mencari minyak maka mempelainya datang dan gadis-gadis yang bijaksana mmenyongsong mereka dan masuk ke rumah. Ketika gadis-gadis bodoh kembali, rumah telah dikunci.
Dalam paper ini penulis akan mencoba memaparkan tentang teologi yang diajarkan dalam Matius 25:1-12. Apa yang ingin dikatakan penulis kepada pembaca melalui perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh tersebut.

II.      Latar Belakang Penulisan Matius

Injil pertama menurut tradisi dianggap tulisan Matius Lewi, seorang pemungut cukai, yang dipanggil Yesus menjadi salah satu murid-murid-Nya. Waktu penulisan injil Matius ini tidak diketahui dengan sangat jelas.[1] Tetapi tempat penulisan kitab ini adalah di Antiokhia. Injil Matius kelihatannya ditulis setelah  markus, dan setelah ucapan-ucapan yang dikenal sebagai Q sudah dikumpulkan. Beberapa ahli berpendapat bahwa injil matius ditulis belakangan ketimbang injil Lukas sebab injil matius kelihatannya mengandung bahan-bahan yang mengacu pada peristiwa jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 M (Mat 22:7; 24:3-28). Jadi, waktu penulisan injil matius tidak diketahui secara jelas. Tujuan penulisan dari kitab ini adalah untuk menunjukkan bagaimana Yesus dari Nazaret mengembangkan serta menguraikan wahyu ilahi yang telah dimulai dalam nubuat tentang Mesias dalam perjanjian lama.
Pembukaan injil Matius itu unik, tidak ada yang serupa dengan injil-injil lainnya. Injil Matius menekankan semuanya kepada orang-orang Yahudi. Tema injil Matius adalah mengenai silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham dan juga perumpamaan-perumpamaan tentang kerajaan. Injil Matius juga berisi tentang Yesus adalah Mesias, Anak Manusia. Titik perhatian Injil Matius adalah pada unsur pendidikannya. Diantara injil lainnya. Diantara kitab-kitab injil lainnya ia palingh banyak mengandung khotbah-khotbah pendek,  maupun yang lebih panjang yang dikutip dari ajaran-ajaran Yesus. Matius berusaha menunjukkan pada para perngikut baru itu makna dari misis Yesus dalam hubungannya dalam perjanjian lama yang menjadi kepeercayaan rekan-rekan Yahudinya, dan yang pernah pula diajarakan kepada mereka. [2]
 Injil matius menunjukkan bahwa kabar baik yang diberitakan Yesus didasarkan pada hukum dan ajaran perjanjian lama. Di Gunung Sinai Allah memberi hukum yang mengatur hidup bangsa Israel kepada Musa. Demikian juga dalam khotbah di Bukit versi Matius, Yesus naik ke tempat yang tinggi, yaitu ke atas bukit, dan mengajarkan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.[3]

III.   Teologi Matius 25:1-12

Kunci dari Matius 25:1-13 ada pada ayat 13 yang menyatakan: Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. Bagaimana kita harus berjaga-jaga dapat dibaca pada ayat 1-12, dan inti dari 12 ayat tersebut adalah kita termasuk orang yang bijaksana ataukah orang yang bodoh. Seringkali yang menganggap diri bijaksana adalah yang bodoh sedangkan yang dianggap bodoh adalah yang bijaksana. Di tengah dunia yang demikian dimanakah kita bisa menempatkan diri di posisi yang tepat. Ayat 12 menyatakan: Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa di titik terakhir yang menjadi point adalah bagaimana seseorang berelasi dengan Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan katakan, bagaimana dia menjadi milik Tuhan dimana Tuhan menjadi gembalanya, bagaimana mereka bersekutu.
Kita perlu berjaga-jaga. Alasan kita perlu berjaga-jaga adalah yang pertama: dunia bergerak semakin lama semakin susah, banyak penderitaan dan masalah. Ketika manusia berhadapan dengan berbagai pergumulan, ada 1 ciri yang perlu diwaspadai didalam kita menjadi bijak, yaitu: mau meringankan/ mengentengkan semua problematika hidup. Manusia mengalami kelelahan, sedangkan dia suka hidup dalam kenikmatan (ciri hidup hedonis). Manusia berdosa selalu berusaha mendapatkan keinginannya tanpa perlu capek. Manusia ingin menjadi Tuhan tanpa melalui proses. Jawaban dunia atas segala permasalahan yang ada adalah manusia semakin acuh tak acuh. Inilah semangat pertama dari orang yang mengentengkan situasi.
Penyebab kedua: dunia tidak mau berpikir secara komprehensif/ totalitas melainkan secara pragmatis, menganggap gampang dan baru dipikirkan di kemudian hari. Semakin hari manusia berdosa akan menggarap dosanya dengan semakin besar. Manusia yang mencari gampangnya akan cenderung untuk merugikan orang lain. Semangat seperti ini dibangun melalui tekanan-tekanan yang digambarkan sebagai sosialitas yang bersifat dosa, yang disebut sebagai humaniora. Keadilan dan kebenaran tidak lagi ditegakkan karena ditutupi oleh pragmatisme sosial. Ini merupakan gejala yang sangat berbahaya saat ini.
Pengantin pria  datang terlambat pada waktu yang tidak diharapkan oleh para pengiring.[4] Oleh karena waktu kedatangan mempelainya tidak diharapkan maka perlulah untuk berjaga-jaga, di mana ketika mempelai datang mereka selalu siap untuk menyongsongnya. Tetapi yang terjadi pada gadis-gadis bodoh adalah kebalikannya. Di mana mereka tidak siap dan tidak berjaga-jaga untuk menyongsong kedaatangan mempelainya.
Sifat manusia berdosa adalah sifat yang sangat buruk yang digambarkan seperti gadis-gadis yang bodoh. Hal yang bisa kita pelajari dari gadis-gadis bodoh ini adalah:

1) mereka mengentengkan problematika yang sedang mereka hadapi.
Di satu pihak mereka sadar bahwa mereka harus menyalakan pelita mereka untuk mereka bertemu dengan sang mempelai laki-laki, tetapi di lain pihak mereka tidak mau direpotkan dengan membawa perlengkapan tambahan yaitu cadangan minyak. Ketika mempelai datang, gadis-gadis bodoh tersebut masih juga tidak memakai cara susah yaitu pergi membeli minyak melainkan mereka minta kepada gadis-gadis yang bijaksana. Sifat jelek seperti ini banyak dilakukan sampai dengan hari ini. Orang yang tidak mau susah selalu minta orang lain untuk berbagi dengannya, dan orang yang tidak mau berbagi disebut sebagai orang yang salah. Alkitab justru menyatakan untuk tidak perlu berbagi dengan orang yang demikian. Kita patut menolong orang yang sudah berjuang habis tetapi tetap tidak mampu, tetapi jangan menolong orang yang tidak mau berjuang tetapi mau enak.
Theologi Reformed berusaha mendidik orang menjadi komprehensif, mau berjuang sekeras mungkin, maka Tuhan akan ikut di dalamnya. Tuhan ingin kita berbijaksana dengan memikirkan seluruh aspek hidup kita (secara komprehensif), berani memikirkan semua kesulitan, berani bertanggung jawab untuk itu. Hal ini memang susah tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Dunia kita semakin hari semakin sama dengan gadis bodoh, yang tidak mau berjuang lebih keras dalam kesulitan tetapi menuntut orang lain untuk menjadi penolong. Pdt. Stephen Tong mengajarkan untuk kita menggigit bibir sendiri pada waktu kesulitan tetapi berbagi sebanyak-banyaknya dengan orang lain pada saat mendapat keuntungan. Inilah sikap orang yang bijak.
Seseorang yang semakin pragmatis akan semakin tidak mempunyai kekuatan untuk berhadapan dengan akhir zaman. Semangat pragmatis akan melumpuhkan seluruh perjuangan hidup spiritualitasnya dalam menghadapi dunia. Orang yang pragmatis semakin tidak punya kekuatan untuk berhadapan dengan dunia berdosa sehingga di banyak aspek dia terpaksa kompromi. Sebenarnya ketika kita takut mati pada saat itu kita sudah mati, karena ketika takut mati kita akan berkompromi dengan dosa dan menjual hak kesulungan kita. Orang tidak pernah berpikir dengan dia menggadaikan iman, kesucian dan kebenaran dia, dia sedang menjual keselamatannya kepada setan. Apakah kita termasuk orang yang diselamatkan, termasuk orang yang taat penuh kepada Tuhan ataukah kita hanya main-main dengan iman kita?
Sikap hidup komprehensif tidak bisa dicapai hanya dalam sehari melainkan dalam jangka waktu panjang. Peribahasa Tionghoa mengatakan: tentara diberi makan 1000 hari untuk menghadapi perang sehari. Untuk punya kekuatan melawan musuh diperlukan persiapan bertahun-tahun. Adalah terlambat kalau kita mau berpikir ketika kesusahan itu datang. Kita harus menghadapi kesulitan, tantangan agar kita bisa lulus dan memiliki kekuatan yang semakin besar.

2) hati yang tidak siap berhadapan dengan komitmen total.
Setiap komitmen akan menuntut adanya pengorbanan yang besar, sehingga orang takut untuk berkomitmen. Contoh yang terlihat mencolok pada zaman ini adalah: pernikahan dianggap tidak perlu dipertahankan lagi. Manusia berdosa cenderung tidak mau komitmen total melainkan di tengah-tengahnya, tidak hitam maupun putih melainkan abu-abu. Inilah semangat relativistik. Orang yang tidak mau komitmen total tidak akan memikirkan habis maupun mempersiapkan habis karena selalu menganggap adanya jalan lain. Inilah semangat hidup dengan separoh hati. Hanya iman Kristen yang menyatakan bahwa bukan banyak jalan menuju Surga tetapi hanya ada satu dan satu-satunya. Maka iman Kristen sangat dibenci orang. Iman Kristen menuntut adanya komitmen total, hati yang sepenuhnya, menyerahkan habis semua hidup, itulah yang dinamakan penyerahan total. Dunia tidak mau ini.
Gadis bodoh ingin sekali mendapatkan bagian dalam keselamatan didalam Kristus tetapi keinginannya tersebut tidak sepenuh hati sehingga mereka tidak bersiap sepenuhnya. Mengapa mereka tidak memikirkan bahwa minyak mereka bisa habis? Karena mereka berpikir tidak pernah memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi dalam semua aspek. Mereka tidak menyangka kalau mereka sekali maju dan tidak bisa balik lagi, kalau gagal berarti mati. Orang dunia akan komitmen habis untuk masalah dunia, untuk hal-hal yang bersifat dosa, tetapi tidak demikian halnya dalam mengikut Tuhan. Ada orang Kristen yang mengaku men-Tuhankan Kristus tetapi tidak disertai dengan seluruh hatinya. Kata komitmen tidak memiliki komitmen didalamnya alias kosong. Iman yang dimiliki juga iman yang kosong. Hal ini berarti menipu dirinya sendiri, dan resiko terbesarnya adalah pada dirinya sendiri yaitu mati.
Dunia terus berubah dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Akibat perubahan yang sangat cepat ini, manusia yang biasa bermain di tengah dunia akan mengambil sikap mengambang, membiarkan diri dibawa putaran arus yang semakin hari semakin kuat, akibatnya dia akan kesulitan untuk mendapatkan pegangan yang kuat dan tidak punya kekuatan lagi untuk melawan. Kalau kita bisa memiliki pegangan yang kuat/ batu karang yang kokoh maka ketika kesulitan datang kita tidak akan bergeming. Adalah celaka kalau yang dipegang adalah kerikil sehingga akan terlepas dan membuat orang hanyut kembali.
Di tengah pusaran dunia yang semakin kuat, kita perlu berhenti di tengah-tengah pusaran agar tidak terlempar keluar. As roda juga tidak boleh bergerak ketika roda bergerak. Jadi kita harus berada di pusat/as agar ikut terbawa dalam perubahan. Kita harus memiliki 1 komitmen, mata yang terfokus, pegangan yang kuat, untuk dapat menghadapi dunia ini. Iman yang sesungguhnya adalah dengan terus beriman kepada Kristus sebagai sang mempelai laki-laki, tidak mau dibias oleh tawaran apapun dari dunia ini. Apa yang tertanam dengan indoktrinasi kuat dalam hidup kita tidak akan gampang digoyahkan. Seberapa kita fokus, seberapa kita tajam dan seberapa kita menyatakan ya atau tidak, itu akan menentukan kekuatan kita melawan tantangan dunia ini. Untuk memiliki kekuatan melawan dunia diperlukan komitmen total.
Kita harus mencontoh gadis bijaksana yaitu dalam hal memiliki cadangan. Orang yang bijaksana memiliki cadangan yang besar, sedangkan orang yang tidak bijaksana tidak memiliki cadangan. Tuhanlah sumber dan landasan dari semua cadangan yang bersifat tidak terbatas. Seluruh kuasa ada di tanganNya dan menghasilkan produktifitas yang tak terbatas. Penciptaan adalah bukti dari ketakterbatasan Tuhan dalam cadangan. Allah bisa mengeluarkan semuanya ini dari cadanganNya tanpa perlu kuatir cadanganNya habis. Semua yang dijalankanNya terbukti terpelihara dengan baik, bahkan Allah terus bekerja dan tidak pernah berhenti bekerja.
Hanya Tuhan yang bisa mengubah energi menjadi materi. Manusia hanya bisa mengubah materi menjadi energi. Tidak pernah ada ciptaan apapun yang bisa menghasilkan kuasa untuk mencipta. Manusia bisa mematikan apapun dengan mudah tetapi tidak pernah bisa menghidupkan kembali. Manusia bisa memiliki kekuatan besar untuk memproduksi sesuatu jika dia kembali kepada Sumbernya. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah sudah diberi Tuhan kapasitas untuk menggarap sesuatu yang besar. Ketika manusia melepaskan diri dari Tuhan, dia mulai kehilangan kapasitas itu.
Orang yang bijaksana adalah orang yang di titik pertama mau kembali kepada Sumber kekuatan/ hidupnya. Orang yang kembali kepada Sumbernya akan memiliki kelimpahan besar sehingga akan memiliki ketajaman melihat yang sangat besar. Orang yang demikian inilah yang disebut bijaksana. Jadi bijaksana adalah kemampuan memperhitungkan, mempersiapkan, menghadirkan segala sesuatu sehingga kita dalam segala sesuatu dapat mencapai apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita. Perjalanan dunia ini ada di tangan Tuhan, dimanakah kita menempatkan jalur hidup kita, di jalur keselamatan yang Tuhan rancangkan ataukah tidak.
Jadi inti terakhir dari berjaga-jagalah adalah dalam hal bijaksana, yaitu mau mengerti jalur Tuhan, berpikir seperti Tuhan berpikir. Kita harus punya cadangan yang sangat besar agar memiliki kekuatan untuk menghadapi dunia ini. Kita dapat siap siaga sampai akhir jika memiliki cadangan besar di belakang kita yaitu dengan kembali kepada Sumbernya. Seberapa kita hidup dalam Firman Tuhan akan membuat mata kita memiliki ketajaman untuk melihat semua kemungkinan dan mengambil semua langkah yang berbeda dengan yang diindoktrinasi oleh dunia.
Dengan fokus kepada eskatos akan membuat kita memiliki arah yang jelas, akan menghasilkan bijaksana yang tajam. Bijaksana yang tajam akan menghasilkan perhitungan yang bijak sehingga akan menghasilkan produktifitas yang tinggi.
"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana:Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 10Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Pelajaran indah yang kita lihat dari Matius 25:1-13 ini, karena kita rindu untuk menjadi gadis-gadis bijaksana itu, kita rindu untuk menjadi gereja Tuhan yg bijaksana itu. Kita selalu berharap untuk menjadi gadis-gadis bijaksana, dan apakah itu hanya menjadi harapan, atau telah menjadi kenyataan. Karena, bila itu hanya menjadi harapan, maka pada saat kedatangan Yesus, kita akan tetap tertinggal. Tetapi, bila kita menjadi kenyataan dari gadis-gadis bijaksana tersebut, maka kitalah yg akan diundang untuk masuk ke dalam ruang perjamuan kawin tersebut. 
Pertanyaannya, apakah gadis bijaksana tersebut adalah mereka yg sama sekali tidak memiliki kekurangan/sempurna? Maka, saya katakan bila mereka adalah orang-orang yg tanpa kekurangan, maka saya berani jamin, bahwa tidak ada seorangpun yg lolos selamat. Karena secara jujur, setiap kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Tetapi kriteria dari gadis-gadis bijakasana, adalah:



1.     Orang-orang percaya yg memiliki persiapan rohani
Dengan lain kata, orang-orang ini betul punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi, ia mempersiapkan minyak yg cukup. Apa itu minyak yg cukup? Yaitu: Firman dan Kuasa Roh Kudus. Jadi, pada saat dia baca firman, dan ia tahu bahwa ia perlu berubah, maka ia berubah. Dan, kalaulah tahu bahwa ia sulit untuk berubah, karena ia telah melakukannya dan menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Maka ia akan minta kuasa Roh Kudus untuk melakukannya. Tahukah saudara bahwa api bisa menyala, bukan karena kekuatan api tersebut, tetapi karena adanya minyak yg masuk ke dalam sumbu.
Iman kita bisa menyala, kalau kita memiliki Firman dan kuasa Roh Kudus. Bila kita tidak memiliki Firman, maka kita tidak punya kekuatan untuk hidup di dalam kebenaran, kita akan tetap tinggal di dalam kelemahan dan kekurangan kita. Tetapi, bila kita memiliki Firman, maka kita akan selalu disadarkan, sehingga kita akan berubah dari kekurangan dan kelemahan kita. Serta kita akan diberi Kuasa Roh Kudus untuk menolong kita. Sehingga kita mampu, karena Roh Kuduslah yang menjadi andalan dan kekuatan kita.

2.     Orang-orang percaya yg sadar, bangun lalu membereskan
Kita lihat pada ayat yg ke-7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Jadi, waktu kita tahu bahwa Firman Tuhan berbicara buat kita, kita harus tahu dan sadar terlebih dahulu. Waktu kita tahu bahwa sebagai seorang istri salah. Atau kita tahu bahwa sebagai orang muda kita salah, waktu kita tahu sebagai karyawan/pemimpin/pedagang/ bahkan sebagai pelayan Tuhan kita salah. Maka kita harus tahu dan sadar terlebih dahulu. Kadang kala kita tidak tahu dan sadar bahwa kita salah. Kita selalu menyalahkan orang lain, oh....saya begini karena mama saya atau saya begini karena suami saya/orang tua, dan lain-lain. 
Jadi, selalu yg menjadi kesalahan adalah orang lain. Jadi, yg paling penting adalah sadar terlebih dahulu. Mereka sadar bahwa mereka tertidur, mereka sadar bahwa mereka mengantuk. Jadi, bila mereka sadar bahwa mereka salah. Maka mereka harus bangun, mereka harus bangkit. Janganlah tinggal dalam kegagalan itu, janganlah tinggal dalam kebiasaan buruk itu. Mereka harus bangun, dan setelah bangun, mereka lalu membereskan pelita mereka. Mereka mau membereskan apa yg tidak benar. 
Mereka berani untuk minta maaf, periksa, apa yg engga beres di dalam hati saya, periksa apa yg engga beres di dalam pikiran saya. Apa yg engga beres dengan tontonan saya, apa yg engga beres dengan bacaan/pergaulan saya. Oh mungkin selama ini saya selalu membaca ramalan-ramalan nasib/perbintangan dan semuanya itu bertentangan dengan firman Tuhan. Maka mulai hari ini saya akan bertindak tegas, saya tolak semuanya. Saya sadar, saya bangun dan saya bereskan. 

3.     Orang-orang yg berani mengambil keputusan yang tegas
Kita lihat pada ayat yg ke-8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana:Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Jadi, saudara lihat bahwa teman sendiri kadang minta tolong, minta kasih dan belas kasihan. Tetapi mereka berkata pada ayat yg ke-9Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Semua agama mungkin sama yg mengajarkan kebaikan, tetapi keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus Tuhan. Yesus datang ke muka bumi bukan sebagai penyebar agama. Tetapi Yesus datang ke muka bumi sebagai Allah yang menyamar sebagai manusia, mencurahkan darahNYA untuk menusia. Mati di kayu salib sampai tetes darahNYA yang penghabisan, darahnya boleh habis, tetapi kasihNYA tidak pernah habis. Saya terlalu percaya bahwa Yesus bukan hanya sekedar Nabi dan penyebar agama. Tetapi Yesus adalah Tuhan yang dikatakan di dalam Alkitab dengan tegas,"Karena,di bawah kolong langit ini tidak ada Nama lain yang olehNYA kita bisa selamat,kecuali di dalam Nama Yesus Kristus Tuhan.
Kadang hanya menjalankan kegiatan agama, tetapi berlaku semena-mena dan menipu. Kadang menjalankan kegiatan agama tetapi tetap berzinah, egois dan penuh keserakahan. Tetapi, kalau saya tahu bahwa saya adalah pengikut Kristus, saya haruslah berjalan sesuai dengan kehendakNYA. Kita dapat berjalan dengan kepastian bahwa Sorga adalah harapan di dalam hidup saya. Karena, bukanlah agama yg menyelamatkan kita, tetapi Yesus Kristuslah yg menyelamatkan kita yg sudah mati buat kita. Kalaulah agama yg dapat menyelamatkan, maka agama akan menimbullah pertikaian. Itulah sebabnya di mana-mana kita melihat pertikaian dengan menggunakan agama sebagai alasannya. Karena, orang berpikir bahwa agama adalah sumber keselamatan. 
Allah tidak pernah memberikan agama sebagai jaminan keselamatan. Tetapi, Alkitab berkata, "Akulah jalan kebenaran dan hidup, di luar Aku tidak ada seorangpun yg sampai kepada Bapa." Jadi Yesuslah yg merupakan satu-satunya Juru selamat pada saat kita mau menerima Dia. Saya tinggalkan dosa, saya belajar Firman Tuhan dan hidup di dalam terangNYA, berjalan dalam kemenangan kuasaNYA sampai saya merebut Sorga rumah Bapa yg kekal.
Mempelai laki-laki adalah Mesias, dan gadis-gadis yang menyongsongnya dan menemani bersama mempelai perempuan ke rumahnya untuk menghadiri perjanmuan kawin adalah orang Kristen. lampunya merupakan obor yang menjadi padam bukan karena minyaknya habis terbakar tetapi karena obor tidak pernah berisi minyak, dan obor tidak dapat dinyalakan.[5]


IV.   Kesimpulan

Melalui perikop ini yang kita dapatkan adalah di mana kedatangan Anak Manusia itu tidah diharapkan oleh siapapun pada waktu yang tidak terduga. Oleh karena itu, perlu ada kewaspadaan dan harus selalu berjaga-jaga. Supaya pada waktu anak manusia datang pada waktu yang tidak diharapkan, setiap manusia itu selalu siap sedia.
Tuhan memakai banyak cara untuk mengingatkan kembali orang-orang percaya supaya melakukan apa yang diharapkan Tuhan untuk dilakukan dalam kehidupan setiap orang percaya. Yesus Kristus memakai banyak contoh yang biasa dilihat bahkan dialami oleh setiap orang percaya. Sama seperti perikop yang telah dibahas di atas, bahwa perumpamaan ini diambil dari kehidupan seshari-hari. Tetapi walaupun dari kehidupan sehari-hari, hal yang ingin diajarkan perikop tersebut sangat penting dan sangat berharga.


[1] Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang:  Gandum Mas,2006), hal 183-184.
[2] B.F.Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal160-170.
[3] ________, Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010), hal 1561.
[4] Dianne Bergant, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 70.
[5]________, tafsiran Alkitab Masa Kini 3: Matius-Wahyu, (Jakarta-Yayasan Bina Komunikasi Kasih, 1990), hal. 118-119. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar